Jumat, 23 Juni 2023
Studi Alquran QS 21 Ayat 111
Teks QS 21: 111 berbunyi demikian "Aku tidak mengetahui (bahwa) boleh jadi hal itu (penundaan azab) merupakan cobaan dan kesenangan bagimu sampai waktu yang ditentukan." Ini merupakan wahyu Allah; atau dengan kata lain, ini merupakan kata-kata Allah. Allaw swt mengucapkannya kepada Muhammad. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan "Aku" di awal kalimat?
Senin, 19 Juni 2023
MENCOBA MEMAHAMI PERNYATAAN DR ZAKIR NAIK
Sepertinya hanya agama islam
yang sibuk mencampuri urusan ajaran agama lain. Banyak tokoh-tokoh agama islam,
entah itu kyai atau ustad, dalam ceramah keagamaannya (tausiyah), kerap
menyerang ajaran agama lain. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya salah mereka. Bahkan
harus dikatakan tokoh-tokoh ini tidak boleh disalahkan, karena mereka sedang
mengikuti apa yang dilakukan oleh Allah mereka. Dalam alquran jamak dijumpai
Allah swt yang sibuk mengomentari bahkan menyerang ajaran agama lain.
Salah satu tokoh islam yang
sering menyerang ajaran agama lain adalah DR Zakir Naik. Dalam salah satu
penampilannya, menanggapi pertanyaan seorang kristen yang hadir dalam
ceramahnya, Naik dengan sombong menyatakan bahwa Yesus itu bukan Tuhan
sebagaimana diimani oleh orang Kristen. Zakir menantang orang Kristen untuk
mencari dalam Kitab Suci, terkhusus Injil, dimana ada dinyatakan “Akulah
Tuhan.” Zakir bahkan berani mempertaruhkan imannya jika ada ayat dimana Yesus
menyatakan diri-Nya Tuhan. “Saya akan meninggalkan islam jika ada tertulis
dalam Kitab Suci Yesus berkata: Akulah Tuhan,” ujarnya.
Di sini Zakir Naik mau
mengatakan bahwa Yesus itu bukan Tuhan. Ketuhanan Yesus, menurut Zakir, adalah
pemikiran Rasul Paulus. Ada kesan bahwa ketuhanan Yesus hanya ditentukan oleh
ada tidaknya pernyataan dari Yesus sendiri bahwa Dia adalah Tuhan. Apakah benar
Yesus bukan Tuhan hanya karena tidak ada pernyataan dari Yesus sendiri?
Ketika menyaksikan dan mendengar
penjelasan Zakir, saya langsung senyum-senyum saja. Andai orang Kristen yang
ada saat itu sedikit membaca Kitab Suci, khususnya Injil Yohanes, pastilah dia
dapat men-skak mat Zakir dengan Yohanes 13: 13. Dalam nas ini
tertulis pernyataan Yesus, “Akulah Guru dan Tuhan.” Apakah Zakir meninggalkan
islam? Hingga kini ia masih memeluk islam dan rajin menjelek-jelekkan agama
lain, terlebih kristen. Terlihat jelas kebohongan Zakir, yang mengatakan akan
meninggalkan islam jika ada teks yang mengatakan Yesus adalah Tuhan.
Tetapi mungkin Zakir akan
mengelak dengan mengatakan bahwa kata dalam Yoh 13: 13 sebenarnya adalah Tuan (tanpa h)
bukan Tuhan. Dan kalau sudah begini, maka diskusi tidak akan
menemui titik temu karena saya yakin Zakir akan ngotot dengan pendapatnya.
Orang Kristen harus menghormati pendapat Zakir jika dia mengatakan bahwa
pernyataan Yesus dalam Yoh 13: 13 adalah Tuan, yang mengacu pada manusia biasa
dengan kedudukan yang tinggi. Yang pasti. Zakir sudah menelan ludahnya sendiri.
Biarkanlah Zakir dan orang lain
yang sama sepertinya berpendapat demikian; namun tidaklah dengan orang Kristen.
Orang Kristen percaya bahwa kata yang digunakan Yohanes adalah TUHAN, karena
jika dilihat dalam bahasa asli Injil Yohanes, yaitu Yunani, kata yang dipakai
adalah kurios. Kata ini dipakai untuk:
1. Pemilik,
yang empunya harta benda. Majikan, induk semang dari hamba pelayan,
budak
2. Pengauasa
tertinggi, raja yang berkuasa
3. Ilah-ilah
4. Gelar
kehormatan terutama bagi atasan
5. Panggilan dari
seorang anak kepada ayahnya
6. Panggilan
bagi seseorang yang bermartabat tinggi dan memiliki otoritas
7. Allah sebagai
tuan tertinggi dan penguasa alam semesta, biasanya merujuk kepada terjemahan
kata Ibrani YHVH.
Saya sama sekali kurang tertarik
untuk berdebat soal kata TUHAN dalam Injil Yohanes tersebut, karena saya punya
keyakinan bahwa kata-kata manusia tidaklah mampu membahasakan keilahian Tuhan
yang mahakuasa. Kita harus sadar bahwa kata-kata memiliki keterbatasan. Yang
menarik perhatian saya adalah logika berpikir DR Zakir. Sekali lagi saya
mengandaikan tidak ada Yohanes 13: 13. Logika berpikir Zakir begini: karena
tidak ada pernyataan dari Yesus bahwa dirinya adalah Tuhan, maka Yesus bukanlah
Tuhan.
Di sini tampak jelas cara berpikir Zakir adalah hitam – putih. Kalau tidak hitam, ya putih. Atau juga cara berpikir demikian dikenal dengan teori black swan. Dulu orang hanya berpikir angsa itu putih. Karena selalu menemui angsa putih, maka orang berasumsi bahwa semua angsa itu putih. Orang tidak percaya bahwa ada angsa hitam, sampai akhirnya ditemui angsa hitam. Jadi, di sini cara pikir Zakir bersifat empiris-eksplisit. Yesus bukan Tuhan karena Dia tidak mengataan demikian. Benarkah logika demikian?
Sabtu, 17 Juni 2023
RENUNGAN MINGGU BIASA XI, THN A
Renungan
Hari Minggu Biasa XI, Thn A
Bac
I Kel 19: 2 – 6; Bac II Rom 5: 6 – 11
Injil Matius 9: 36 – 10: 8
Dalam bacaan liturgi hari ini kita
bisa menemukan adanya pergerakan atau sumber dari belas kasih. Sumber pergerakan
belas kasih itu datang dari Allah. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari
Kitab Keluaran, diceritakan bagaimana Allah yang telah mengasihi umat Israel. Salah
satu memori belas kasih Allah itu adalah peristiwa pembebasan dari Mesir. Dan umat
Israel menjadi bangsa pilihan, umat kesayangan Allah.
Rasul Paulus dan suratnya
kepada jemaat di Roma, sebagaimana terbaca dalam bacaan kedua, juga menjelaskan
sumber pergerakan belas kasih itu datang dari Allah dalam diri Yesus Kristus. Paulus
menyadarkan umat Roma bahwa Allah telah mengasihi kita di saat kita masih lemah
(ay. 6) atau “ketika kita masih berdosa.” (ay. 8). Sama seperti umat Israel
yang menjadi bangsa kesayangan, belas kasih Allah dalam Yesus Kristus membuat
kita “bermegah dalam Allah” (ay. 11).
Injil hari ini juga
mengisahkan pergerakan belas kasih yang bersumber dari Yesus. Dikisahkan bahwa “Melihat
orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka…”
(ay. 36). Yesus, yang adalah wujud kasih Allah Bapa, menjadi sumber belas
kasih.
Sabda Tuhan hari ini hendak
menegaskan kepada kita bahwa sumber belas kasih itu ada pada Allah. Allah-lah
yang lebih dahulu mengasihi kita. Allah tidak peduli keadaan kita berdosa atau
tidak. Allah tetap mengasihi kita sekalipun kita selalu mengingkari janji-Nya. Ingat,
Allah tetap mengasihi kita. Betapa luar biasanya Allah kita ini. Jadi, melalui
sabda-Nya Tuhan mau menyadarkan kita bahwa kita telah dan selalu menerima belas
kasih Allah. Menjadi pertanyaannya adalah, apakah kita juga sudah mengungkapkan
belas kasih itu kepada sesama? Apakah belas kasih kita tulus, ataukah diikuti
dengan pamrih? Di akhir pengajaran-Nya, Yesus mengingatkan kita, “Kamu telah memperolehnya
dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (ay. 8).
by: adrian