Selasa, 13 Juni 2023

SEKILAS TENTANG SYARIAH ISLAM

 

“Adalah melalui Syariah, yang umumnya diterjemahkan sebagai “Hukum Islam”, (agama) Islam diekspresikan dalam masyarakat Muslim… Syariah telah menerjemahkan Islam dengan tepat. Jika Islam berarti tunduk kepada Kehendak Allah, maka Syariah adalah jalan yang menunjukkan bagaimana sikap tunduk itu diwujudkan, peta rute yang sesungguhnya mengenai agama sebagai sebuah cara hidup. Oleh karena itu bagi banyak orang Muslim, Islam adalah Syariah dan Syariah adalah Islam”. (Ziauddin Sardar, Desperately Seeking Paradise, London, Granta Books, 2004, h. 216-217)

Introduksi

Pada abad 21 ada himbauan yang semakin besar untuk menerapkan Syariah di Barat, terutama di Inggris Raya, dan agar Syariah diterapkan dengan seutuhnya di banyak negara dengan mayoritas penduduk yang adalah orang Muslim. Syariah adalah sebuah kata Arab yang berarti “jalan”. Pada masa kini kata itu digunakan dalam pengertian “Hukum Islam”, yaitu sebuah sistem yang terperinci dari hukum religius yang dikembangkan oleh para sarjana Muslim dalam tiga abad permulaan Islam. Hukum ini mengekspresikan cara hidup Islam – lebih banyak daripada Qur’an – dan merupakan kunci untuk memahami Islam.

Syariah meliputi semua aspek kehidupan dan tidak memisahkan antara wilayah sekuler dari wilayah religius. Syariah memberikan kerangka kerja yang mencakup hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang dilarang, ritual-ritual dan perintah-perintah yang menjadi panduan bagi seorang Muslim untuk menjalani kehidupannya. Banyak orang Muslim yang percaya bahwa Syariah menjaga mereka dari (berbuat) dosa seperti pagar atau sebuah penghalang di jalan. Syariah juga merupakan sebuah penanda identitas yang memisahkan orang Muslim dari orang non-Muslim. Syariah sangat mempengaruhi tingkah-laku dan cara pandang banyak orang Muslim, bahkan di negara-negara sekuler dimana Syariah tidak mempunyai peranan dalam pembentukan hukum disana.

Norma Ilahi yang Sempurna

Banyak orang Muslim percaya bahwa Syariah adalah hukum yang diwahyukan Tuhan, sempurna dan kekal, mengikat individu-individu, kelompok masyarakat dan negara dalam semua detilnya. Oleh karena itu mereka percaya bahwa kritik apapun terhadap Syariah adalah sesat/bidat. Banyak orang Muslim Sunni yang percaya bahwa Syariah sangat tidak bisa diubah, walaupun kelompok Syiah mengijinkan adanya kemungkinan untuk menginterpretasi dan mengadaptasikannya ke dalam keadaan-keadaan yang baru.

Orang Muslim yang menyangkali validitas Syariah atau mengkritiknya dalam cara apapun dipandang sebagai non-Muslim (kafir atau murtad) oleh kaum tradisionalis dan Islamis. Oleh karena itu mereka menghadapi ancaman penganiayaan sebagai orang yang murtad, dan kejahatan seperti ini, berdasarkan syariah harus dihukum mati.

Perkembangan dan Karakteristik Syariah

Syariah Mensistematisir Semua Tindakan Manusia

Syariah adalah sebuah sistem legal yang kompleks yang bersumber dari teks-teks Qur’an dan hadith (catatan tradisi perkataan dan perbuatan Muhammad) melalui interpretasi, komentari dan kasus hukum. Syariah diciptakan dalam sebuah konteks dalam mana orang-orang Muslim memegang kekuasaan politik, dan dengan demikian kurang memberikan petunjuk bagi orang-orang Muslim yang hidup sebagai kaum minoritas di bawah (pemerintahan) orang non-Muslim.

Syariah berusaha menggambarkan secara terperinci semua kemungkinan perbuatan manusia, membaginya menjadi halal dan haram. Kemudian membaginya lagi ke dalam berbagai tingkatan yang baik atau jahat, seperti apa yang diwajibkan, dianjurkan, netral, merupakan pilihan atau dilarang. Syariah merupakan kumpulan peraturan, yang mengatur secara terperinci segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup rohani, ibadah, ritual penyucian, pernikahan dan warisan, pelanggaran kriminal, perdagangan dan tingkah-laku pribadi hingga ke detil yang sekecil-kecilnya. Syariah juga mengatur pemerintahan dalam negara Islam dan hubungannya dengan non-Muslim dalam negara tersebut sebagaimana juga dengan musuh-musuh di luar negeri.

Mazhab-mazhab Hukum

Jumat, 09 Juni 2023

Studi Alquran QS 29 Ayat 12


 Sepertinya level allah swt hanyalah menanggapi komentar-komentar orang yang tak jelas kapasitas dan kompetentasinya. Yang penting komen. Masalahnya, yang dikomen itu persoalan receh. Sudah itu, keliru pula. Sungguh menyedihkan allah seperti ini. Bukan saja terlihat tidak ada kerjaan, tapi juga terlihat bodoh.

Selasa, 06 Juni 2023

MENGUBAH YANG TAK NYAMAN MENJADI NYAMAN

 

Suatu hari hujan lebat mengguyur wilayah keuskupan. Saat itu saya sedang jogging mengitari kompleks wisma. Spontan mata saya tertuju pada kolong gorong antara ruang TV dan kapel. Biasanya di kolong itu ada anak anjing menikmati istirahat siangnya. Sekedar informasi, anak anjing ini memiliki trauma dengan saya. Melihat saya ia selalu ketakutan. Dan sebagai ungkapan ketakutan ia selalu menggonggong. Segera gagasan untuk melakukan eksperimen kecil muncul di benakku.

Awalnya anak anjing ini sama sekali tidak terganggu dengan turunnya hujan. Ia merasa nyaman di kolong itu. Namun ketika hujan kian deras, dan air hujan mulai membasahi kolong, anjing ini mulai terasa tidak nyaman. Hal ini sudah kuduga. Dan seperti biasa, secara naluri, siapa dan apapun, akan berusaha meninggalkan ketidak-nyamanan dan mencari situasi nyaman. Demikian halnya dengan anak anjing itu.

Anak anjing itu mulai meninggalkan kolong. Akan tetapi, saya berdiri sekitar 3 langkah dari mulut kolong. Melihat saya, anak anjing langsung menggonggong. Saat kepalanya mau keluar, saya maju satu langkah. Anak anjing itu menggonggong sambil mundur ke dalam kolong. Ketika ia mundur, saya kembali ke posisi semula. Begitulah situasinya. Ketika anak anjing itu hendak keluar, saya maju satu langkah, dan ia mundur kembali sambil menggonggong. Sementara hujan terus mengguyur, hanya tingkat intensitasnya mulai menurun.

Dari dalam kolong anak anjing itu terus menggonggong. Situasi ini berlangsung kurang lebih sekitar 25 menit. Setelah itu, tak terdengar lagi bunyi gonggongan anak anjing itu. Hujan tinggal rintik-rintik saja. Dari kejauhan saya melihat anak anjing itu mengambil posisi tidur.

Dari sini dapat dilihat beberapa kesimpulan. Ketika menghadapi situasi tak nyaman (daerah kolong basah), anak anjing, secara naluri, berusaha untuk keluar dari situasi tidak nyaman itu. Namun ia menemukan penghalang (dalam hal ini diri saya). Karena tidak dapat mengatasi penghalang ini, anak anjing ini akhirnya memutuskan untuk bertahan di bawah kolong, meski situasinya tidak nyaman. Dengan kata lain, anak anjing ini menikmati ketidak-nyamanan sampai akhirnya merasa nyaman.

Namun, masih ada satu dua pertanyaan yang belum bisa terjawab. Kesimpulan di atas terjadi karena nilai ketidak-nyamanan lebih rendah daripada penghalangnya. Bagaimana jika seandainya nilai ketidak-nyamanan itu sama atau lebih besar dari penghalang, apakah anak anjing itu tetap menikmati ketidak-nyamanannya? Dalam kasus di atas, daerah kolong hanya sekedar basah. Bagaimana kalau air menggenangi kolong sehingga situasi benar-benar sangat tidak nyaman? Mungkin suatu saat saya akan mencobanya.

Dari eksperimen anak anjing ini, saya tertarik untuk menariknya ke dalam situasi manusia. Saya jadi teringat akan suatu situasi di sebuah keuskupan yang mengalami takhta lowong. Ketika takhta lowong, Vatikan mengangkat seorang uskup sufragan menjadi administrator apostolik. Kebetulan uskup satu ini memiliki sikap yang agak tegas. Hal ini terlihat dari kebijakan awalnya setelah terpilih jadi administrator apostolik: ada beberapa imam didepak. Imam-imam ini sebelumnya selalu menikmati hak-hak istimewa.

Berhadapan dengan administrator apostolik ini imam-imam itu benar-benar merasa tidak nyaman. Mereka, yang pada masa uskup sebelumnya benar-benar nyaman, kini mengalami situasi ketidak-nyamanan. Mau keluar dari situasi tidak nyaman ini, ada penghalang, yaitu janji imamat, yang setiap tahun selalu diucapkan di hadapan uskup dan umat. Jadi, situasi mereka saat ini kurang lebih sama seperti anak anjing dalam kasus di atas. Tapi, apakah para imam ini akan bertahan menikmati ketidak-nyamannya?

Sama seperti dalam kasus di atas masih meninggalkan pertanyaan, dalam kasus imam ini pun masih ada pertanyaan. Pertanyaan itu seputar kadar ketidak-nyamanan. Tentulah tak selamanya uskup tadi menjadi administrator apostolik. Pastilah suatu saat akan terpilih uskup baru. Nah, bagaimana jika uskup baru nanti memiliki karakter jauh lebih tegas dari administrator apostolik saat ini? Kadar ketegasan ini tentulah berdampak pada ketidak-nyamanan para imam itu. Jadi, mereka sungguh-sungguh merasa tidak nyaman. Apakah berhadapan dengan ketidak-nyamanan yang besar ini akan membuat mereka berani mengalahkan penghalang untuk keluar dari situasi tidak nyaman ini?

Kita lihat saja.

diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu