Agama selalu diidentikkan dengan kebaikan, damai dan kasih. Sementara perang dikaitkan dengan pembunuhan, kebiadaban dan kejahatan. Kebaikan, damai dan kasih jelas-jelas bertentangan dengan pembunuhan, kebiadaban dan kejahatan. Dengan demikian, agama tidak bisa disandingkan dengan agama. Istilah perang agama merupakan bentuk pelecehan terhadap agama itu sendiri. Video berikut ini mencoba mengutarakan kaitan antara islam dan perang sehingga muncullah pernyataan: "islam agama perang".
Rabu, 28 September 2022
STUDI ALQURAN: ISLAM AGAMA PERANG
Selasa, 27 September 2022
DIMANA PERISTIWA TRANSFIGURASI TERJADI
Orang Kristen tentu sudah tahu peristiwa Tuhan Yesus menampakkan
kemuliaan-Nya atau dimuliakan di atas gunung. Peristiwa itu dikenal juga dengan
istilah transfigurasi. Gereja katolik memasukkan peristiwa tersebut ke dalam
kalender liturginya sebagai hari pesta (jatuh pada 6 Agustus). Sebagai sebuah
pesta liturgi, Gereja Timur telah jauh lebih dahulu melakukannya. Gereja Barat
baru dimulai pada tahun 1457, sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Pasukan
Kristen atas tentara Turki di Belgrado.
Gambaran kejadian peristiwa tersebut hanya dapat dibaca dalam Injil Sinoptik,
yaitu Matius 17: 1 – 8; Markus 9: 2 – 8 dan Lukas 9: 28 – 36.
Dalam peristiwa itu Tuhan Yesus, yang pakaian-Nya berkilau-kilau, tampil
berdiskusi dengan Nabi Musa dan Nabi Elia. Petrus yang merasa bahagia, ingin
mendirikan tiga tenda di tempat itu.
Sangat menarik kalau peristiwa ini dikaitkan dengan peristiwa sebelumnya,
yaitu pengakuan Petrus (Mat 16: 13 – 20; Mrk 8: 27 – 30 dan Luk 9: 18 – 21).
Peristiwa transfigurasi ditempatkan setelah pengakuan Petrus bahwa Tuhan Yesus
adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Peristiwa transfigurasi seakan mau
menegaskan kembali jawaban Petrus tersebut, karena selain menampakkan kemuliaan
dan berbicara dengan dua Nabi Besar bangsa Israel, muncul juga penyataan
“Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”
Akan tetapi menjadi persoalan ketika orang bertanya dimana lokasi persis
peristiwa itu terjadi, di gunung Tabor atau Gunung Hermon. Kitab Suci sendiri
tidak menyebutkan secara persis tempat kejadian itu. Ketiga Injil Sinoptik
hanya menyebutkan bahwa Tuhan Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas
gunung (Markus dan Matius memberi tekanan pada yang tinggi). Jadi,
hanya berhenti sampai di gunung saja, tanpa menyebut nama
gunungnya.
Dalam pengertian biblis, ‘gunung’ sebenarnya merujuk pada apa yang kita
pahami sebagai bukit. Ada terdapat beberapa bukit di Israel. Namun yang cukup
penting adalah Tabor dan Hermon. Menjadi pertanyaannya, apakah peristiwa Tuhan
Yesus menampakkan kemuliaan-Nya itu terjadi di Tabor atau Hermon? Dapat
dipastikan bahwa hal ini masih menjadi sebuah misteri.
Namun, sejak abad IV, orang Kristen berpendapat bahwa kejadian itu terjadi
di Gunung Tabor. Ada beberapa alasan yang mendukungnya. Pertama, bentuk
Gunung Tabor yang rapi memberikan suatu aura alami yang khas, yang
menjadikannya suatu tempat yang dengan mudah dianggap sebagai gunung suci.
Berbeda dengan banyak gunung lainnya, gunung ini dapat dengan mudah dicapai
sehingga memudahkan orang untuk membayangkan peristiwa transfigurasi.
Kedua, sejak perziarahan Kristen berkembang pesat pada
abad IV, para pengunjung terus menuntut kepastian letak terjadinya peristiwa
tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa para pengunjung terutama akan tertarik
mengunjungi Nazaret atau Danau Galilea, dapat dipahami jika orang memilih
lokasi yang berdekatan dengan lokasi-lokasi lainnya. Gunung Hermon dirasakan
cukup jauh dengan obyek wisata lainnya, sehingga dapat dipastikan pengunjung
tidak akan mengunjungi tempat yang jauh itu.
Pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa Tuhan Yesus berubah rupa di Gunung Tabor didukung kuat oleh Uskup Yerusalem, Santo Sirilus (315 - 386). Pada tahun 348, dalam bukunya “Cathechetical Lectures 12: 16” Uskup Sirilus menulis, “Ia berubah rupa di Gunung Tabor.”
Senin, 26 September 2022
ROMO JUGA MANUSIA; BENARKAH???
Tentulah kita sering mendengar pernyataan ini: “Romo juga manusia!” Pernyataan
ini biasanya diucapkan oleh romonya sendiri atau orang lain, yang ingin
“membela” romonya. Umumnya pernyataan ini diungkapkan di saat romo melakukan
kesalahan, entah itu kecil ataupun besar. Tujuannya supaya orang lain dapat memaklumi
kesalahan itu.
Sebagai contoh, seorang romo datang terlambat saat misa pagi. Ia bangun
telat, sebab semalam ia asyik nonton sepakbola hingga jam 03.15. Menyikapi
keterlambatannya itu, dengan santai romo itu berujar, “Maaf. Romo juga
manusia.” Atau ketika ada imam “jatuh” karena skandal, ada umat, yang karena
ingin membela imamnya itu, berkata, “Romo kan manusia juga.”
Logika dari pernyataan ini berangkat dari premis tidak ada manusia yang
sempurna. No body is perfect. Setiap manusia itu punya
kelemahan dan kekurangan. Ia mudah jatuh ke dalam kesalahan. Seorang imam atau
romo adalah juga manusia. Karena itu, wajar kalau ia mempunyai kesalahan.
Tentulah tidak akan ada orang yang menyangkal pernyataan tersebut. Karena
seorang imam adalah manusia, maka ia punya kelemahan. Kelemahan manusiawi
itulah yang membuat dia kerap jatuh ke dalam kesalahan.
Benarkah imam atau romo itu manusia? Kalau berangkat dari pernyataan ini,
dapat dikatakan bahwa ada romo yang memang sadar bahwa dirinya benar manusia,
namun ada juga yang bukan. Ada dua tipe romo yang sadar dirinya manusia. Pertama, tipe
romo yang mau membenarkan diri atas kelemahannya. Ia menggunakan pernyataan
“Romo juga manusia” untuk pembenaran diri, agar umat memakluminya. Tipe kedua adalah
romo yang siap menerima kritik dan saran dari siapa saja. Frase “dari siapa
saja” harus benar-benar mendapat tekanan, karena umumnya imam hanya mau
menerima kritik dan saran dari uskup atau rekan imam yang dia sukai. Lebih dari
itu ia akan berkomentar singkat, “Sirik!”
Akan tetapi ada juga imam yang tidak sadar dirinya manusia, sekalipun ia
sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.” Romo seperti ini tampak
jelas dalam diri mereka yang sulit menerima kritik, nasehat, teguran dan saran
dari orang lain. Perlu disadari bahwa terkadang orang lain dapat melihat
sesuatu yang tidak kita lihat. Salah satunya kelemahan dan kekurangan kita.
Ada banyak imam selalu merasa diri benar dalam segala hal. Ia hanya melihat
kesalahan dan kekurangan pada orang lain, sehingga merasa terpanggil untuk
membenahi orang lain. Nasehat, kritik atau teguran yang ditujukan kepada
dirinya dilihat sebagai bentuk pelecehan harkat dan martabatnya sebagai imam,
sekalipun ia sering menggunakan pernyataan “Romo juga manusia.”
Seandainya romo sadar bahwa dirinya adalah manusia, tentulah ia akan tahu
adanya kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Kerap kelemahan dan kekurangan
itu tidak disadari. Ibarat, kita tidak bisa melihat noda di wajah kita sendiri
tanpa bantuan cermin. Orang lain adalah cermin bagi kita untuk menyadari kelemahan
dan kekurangan. Cermin itu dapat berupa kritik, saran, teguran atau nasehat.
Atas semua itu, seorang imam yang sadar dirinya manusia, akan dengan mudah
menerimanya sebagai bahan perbaikan diri.
diambil dari tulisan 7 tahun lalu