Jumat, 08 Juli 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-BAQARAH AYAT 163

 


Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (QS 2: 163)

Islam dikenal sebagai agama tauhid. Tak jarang umat islam membanggakan (yang bisa juga dikatakan menyombongkan diri) agamanya satu-satunya agama tauhid. Secara sederhana agama tauhid dimaknai sebagai agama yang percaya kepada hanya SATU Tuhan. Keyakinan sebagai agama tauhid ini didapat dari perkataan Allah sendiri. Ada banyak ayat Al-Qur’an, yang menyatakan ketauhidan tersebut. Salah satunya adalah kutipan ayat di atas.

Umat islam sangat percaya Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Hanya Muhammad saja satu-satunya penerima wahyu Allah SWT. Hal ini bisa dipahami sebagai berikut: Allah berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad mendengarnya. Apa yang didengar Muhammad itulah yang kemudian ditulis dan akhirnya menjadi sebuah kitab yang diberi nama Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya dan meyakini bahwa apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah SWT sendiri. Karena itu, umat islam menaruh hormat yang tinggi kepada Al-Qur’an. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan kepada Allah SWT. Dan orang yang melakukan hal itu, berdasarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, wajib dibunuh (QS al-Maidah: 33).

Umat islam menganggap dan menilai Al-Quran sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas, karena memang demikianlah yang dikatakan Allah sendiri. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Ada banyak ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan kata lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Penafsiran atas wahyu Allah bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Kejelasan wahyu Allah sangat tampak pada kutipan ayat di atas. Sesuai dengan konteksnya, waktu itu Allah SWT bertemu dengan Muhammad, lalu menyampaikan kata-kata ini: “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Sekilas wahyu Allah ini berbentuk laporan, dan dalam laporan itu Allah hendak mengingatkan kepada Muhammad tentang siapa Tuhannya itu. Memang, jika membaca sambil lalu orang langsung mengetahui bahwa Tuhannya Muhammad itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Sangat jelas. Terlihat jelas kalau wahyu Allah ini hendak menegaskan konsep tauhid yang menjadi identitas islam.

Kamis, 07 Juli 2022

BAHAYA GADGET BAGI ANAK

 

Gadget adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi sebelumnya. Dewasa ini kita dapat melihat aneka bentuk gadget seperti HP, laptop, smartphone, iPhone, blackberry, iPad dan tablet.

Hampir semua manusia tak dapat dipisahkan dengan seperangkat alat teknologi, yang bernama gadget ini. Kapan dan dimana saja manusia selalu berhadapan dengan gadgetnya. Bahkan anak kecil pun sudah terbiasa dengan mainan teknologi ini. Kebanyakan orang tua ingin agar anaknya, sekalipun masih balita, tidak ketinggalan jaman. Orang tua mau membahagiakan anaknya dengan mainan gadget ini, tanpa pernah sadar bahaya yang mengancam di balik benda itu.

Ancaman Gadget bagi Anak

Tanpa kita sadari ternyata gadget mempunyai begitu banyak ancaman terhadap anak-anak kita. Lebih parahnya lagi orang tua sama sekali tidak terlalu cemas dengan ancaman ini sehingga tetap saja membiarkan anaknya bermain dengan gadget atau memberinya gadget sebagai mainan.

Berikut ini adalah beberapa ancaman gadget terhadap anak-anak.

1.   Gangguan Kesehatan Fisik

Keseringan menggunakan gadget dapat menyebabkan sakit leher dan punggung. Ini didasari hasil riset Abertawe Bro Morgannwg University (ABMU) Health Board dan riset British Chiropractic Association. Dua riset, yang dilakukan di dua tempat yang berbeda dan waktu yang berlainnya, menemukan adanya gejala sakit leher dan punggung pada anak-anak pengguna gadget.

Menurut fisioterapis, Lorna Taylor, keadaan ini merupakan dampak buruk peningkatan penggunaan teknologi dan perubahan gaya hidup. “Gadget, bagaimanapun telah merugikan perkembangan kesehatan otot dan tulang anak. Bila tidak diubah sedini mungkin, baik di rumah atau sekolah, akan sangat sulit mengatasi dampak ini bagi anak yang masih memiliki masa depan yang panjang,” ujar Taylor.

Rabu, 06 Juli 2022

HARUS LIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG

 

Seorang guru mengeluh di hadapan para muridnya. Dia menceritakan pengalaman buruk yang belum lama menimpa dirinya. Dia katakan bahwa dirinya menerima kiriman sms dari seseorang lengkap dengan gambar porno. Dia sangat marah. Dia berpikir orang akan mengira dirinya suka gambar porno. Karena peristiwa itu, dia tak mau lagi menggunakan HP.

Seorang rekan menghampirinya. Dia sangat prihatin atas apa yang dialami sang guru. Awalnya pun dia marah mendengar kisah temannya itu. Dia tahu sobatnya itu alergi dengan hal-hal yang berbau pornografi.

“Sobat, saya turut sedih atas apa yang kau alami. Tapi kita harus melihat peristiwa itu dari dua sudut yang berbeda.”

“Maksudmu?”

“Apakah orang mengirim gambar porno itu tanpa konteks atau dengan konteks? Tanpa konteks berarti orang hanya sekedar iseng saja, sedangkan dengan konteks berarti orang punya maksud.”

“Punya maksud gimana? Itu kan gambar porno. Saya ini guru. Punya jabatan mulia. Orang itu pasti sengaja untuk menghancurkan martabat mulia saya.”

“Maaf, sobat. Bukankah beberapa bulan lalu ada skandal seks muridmu? Kamu membelanya dengan cara minta bukti. Untuk skandal seks, buktinya tak jauh dari hal-hal yang berbau pornografi. Mungkin saja pengirim gambar porno itu mau menunjukkan bukti. Jika pengirim punya maksud tertentu, sementara kamu menganggapnya sebagai perbuatan iseng, berarti kamu tidak menghargai niatnya. Kamu malah menganggapnya sebagai orang iseng yang kurang ajar.”

Sang guru hanya terdiam saja.

“Kalau memang itu merupakan bagian dari bukti, mau tidak mau kamu harus menanggapinya. Bukan dengan cara menghindar, melainkan menindak-lanjutinya. Kamu harus bijak. Karena kalau tidak, orang akan menilai kamu hanya bisa menuntut, tapi ketika orang memenuhinya kamu malah lari tak menanggapinya. Kemuliaan jabatan kita terletak pada bagaimana kita menyikapi suatu persoalan.”

Sang guru masih tetap terdiam. Dalam diamnya dia mencerna kata-kata sahabatnya itu. Namun ia sudah terlanjur basah. Dia selalu mendengarkan kata-kata penasehatnya, bukan kata hatinya.