Selasa, 14 Juni 2022

IJASAH PALSU DAN MATINYA LEMBAGA PENDIDIKAN

Sudah kerap kali kita mendengar isu ijasah palsu Perguruan Tinggi. Topik ini sangat intens diberitakan, baik di media cetak maupun media elektronik, apalagi bila terkait tokoh publik. Memang masalah ini amat sangat memprihatinkan. Lembaga, yang seharusnya memperjuangkan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran, justru malah menciptakan kebohongan. Karena itu, tuntutan penanganan yang segera menjadi suatu keharusan.

Fenomena ijasah palsu sebanrnya sudah ada sejak lama. Apakah karena menteri pendidikan tidak mau kongkalikong atau karena adanya persaingan, entah itu di internal atau juga di eksternal kementerian. Tapi, kita patut apresiasi atas keputusan beberapa menteri (menteri pendidikan tinggi dan menteri PAN) menyikapi kasus ijasah palsu ini.

Sebenarnya masalah pendidikan, terkait dengan soal kejujuran dan kebenaran, tidak hanya mengenai ijasah palsu. Masih ada masalah lain yang terkait, yang juga menuntut peran aktif dari kementerian, khususnya menteri pendidikan. Setidaknya ada dua kasus.

Pertama, jual beli skripsi. Dewasa ini banyak mahasiswa mendapatkan skripsinya dengan cara membeli atau meminta orang lain yang membuatnya. Sama seperti ijasah palsu, masalah ini pun sebenarnya bukanlah masalah baru. Praktek jual beli skripsi ini disinyalir sudah ada sejak 5 – 10 tahun lalu. Hal ini dapat dilihat dari layanan iklan jasa pembuatan atau pengetikan skripsi.

Jumat, 10 Juni 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH ASY-SYUARA AYAT 196

 


Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu (disebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. (QS 26: 196)

Publik sudah tahu kalau Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan peri kehidupan umat islam. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an diyakini berasal dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung berbicara kepada Muhammad, dan Muhammad kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, umat islam yakin dan percaya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Karena Allah itu maha benar, maka benar pula apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an dinilai suci karena Allah adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an berarti juga penghinaan terhadap Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi bentuk hukuman bagi mereka yang menghina Allah (QS al-Maidah: 33).

Al-Qur’an dikenal juga sebagai kitab atau keterangan yang jelas. Kata “jelas” di sini dimaknai bahwa apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an harus dimaknai secara lugas. Dengan kata lain, ketiga Allah berbicara, Allah tidak menggunakan kata-kata kias. Karena itu, kata “membunuh” harus dipahami dengan tindakan menghilangkan nyawa seseorang, tidak ada makna lain. Demikian pula dengan kata “perang” atau “jihad”. Memang tidak semua perkataan Allah itu selalu bermakna lugas. Ada beberapa yang memiliki makna kias, terlebih kata-kata yang berkonotasi seksual. Misalnya, kata “bercampur” dimaknai dengan bersetubuh. Sekalipun memakai makna kias, tetap saja perkataan Allah itu mudah dipahami, karena Allah sendiri sudah berfirman bahwa diri-Nya telah memudahkan Al-Qur’an supaya mudah dipahami.

Berangkat dari premis-premis di atas, dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad. Meskipun demikian tetap harus diakui bahwa kutipan di atas tidaklah sepenuhkan merupakan perkataan Allah. Dua kata yang berada di dalam tanda kurang, yaitu “Al-Qur’an” dan juga “disebut”, harus diakui sebagai tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Aslinya wahyu Allah ini berbunyi sebagai berikut: “Dan sungguh, itu dalam kitab-kitab orang yang terdahulu.”

Ketika wahyu Allah berada dalam bentuk aslinya, maka yang dijumpai adalah ketidak-jelasan makna. Dengan demikian, ia bertentangan dengan wahyu Allah sendiri, yang menyatakan Al-Qur’an adalah kitab atau keterangan yang jelas. Membaca kutipan ayat di atas dalam bentuk aslinya hanya menemui ketidak-jelasan. Apa yang dimaksud dengan “itu” dan siapa yang dimaksud dengan “orang-orang yang terdahulu”. Sungguh tidak jelas. Ketidak-jelasan ini akhirnya melahirkan kebingungan bagi umat islam di kemudian hari. Akhirnya, dengan inisiatif mereka kemudian menambahkan dua kata pada wahyu Allah tersebut, yaitu kata “Al-Qur’an” dan “disebut”. Dengan penambahan itu maka wahyu Allah menjadi mudah dipahami, yakni bahwa Al-Qur’an sungguh disebut dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. Tentang frase terakhir, umumnya dipahami sebagai orang Yahudi dan Nasrani, sehingga kitabnya adalah Taurat dan Injil.

Kamis, 09 Juni 2022

PERAN IBU DLM PERTUMBUHAN MORAL ANAK

Tentulah setiap orang tua ingin supaya anaknya bertumbuh sehat, baik secara fisik, psikis dan moral. Terkait masalah moral, perlu disadari bahwa nilai-nilai moral pada anak tidak begitu saja muncul dalam diri anak. Nilai-nilai moral merupakan suatu pembelajaran terus menerus yang dimulai dari usia dini. Dan untuk itu, sekalipun belum memasuki usia sekolah, anak membutuhkan begitu banyak “guru” demi tumbuh kembangnya nilai-nilai moral itu. Orang-orang yang ada di sekitar anak, secara khusus ibu, musti berperan aktif membantu anak menemukan nilai moral dan menanamnya dalam dirinya.

Karena itu, suatu tantangan dewasa ini dimana anak lebih banyak diserahkan penanganannya kepada babysitter. Pada umumnya, seorang babysitter hanya membantu orang tua dalam memberi perawatan fisik kepada anak, bukan soal penanaman nilai-nilai moral. Sekalipun seorang babysitter mempunyai peran yang luas, tetaplah tidak boleh diserahkan sepenuhnya soal penanaman nilai-nilai moral ini. Karena, berdasarkan penelitian, ibu adalah kunci utama dalam menumbuh-kembangkan moralitas anak.

Sebuah eksperimen yang dilakukan membuktikan bahwa interaksi ibu dan anak mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan moralitas anak. Dari eksperimen itu ditemukan bahwa secara tidak langsung, percakapan antara ibu dan anak dapat membuat anak menunjukkan ekspresi perasaan bersalah saat ia melakukan hal yang negatif, serta lebih memahami perasaan orang lain.

Intensitas percakapan dapat mempercepat pemahaman anak. Percakapan yang dibangun antara ibu dan anak memungkinkan anak menumbuhkan kompetensi bahasanya. Komunikasi yang terjalin dapat menjadi wadah untuk bertukar ide dan konsep antara ibu dan anak sehingga anak dapat memahami dunia orang dewasa juga berkontribusi dalam menumbuhkan pemahaman psikologis orang lain.

Tiga tahun pertama merupakan fondasi bagi moralitas anak. Percakapan antara ibu dan anak penting untuk dibangun sejak dini karena dasar perkembangan moral anak ada pada tiga tahun pertamanya. Selain percakapan yang harus dibangun sejak dini antara ibu dan anak, penting pula untuk bisa menciptakan interaksi yang menyenangkan dengan anak. Interaksi yang menyenangkan sudah terbukti dapat memediasi respon timbal balik antara ibu dan anak dengan kognisi atau emosi serta perilaku moral anak di masa depan. Suasana hati yang positif dapat tumbuh selama interaksi yang menyenangkan antara ibu dan anak terjalin sehingga meningkatkan penerimaan anak terhadap ibunya. Penerimaan anak terhadap ibunya dapat mempermudah ibu untuk menanamkan nilai-nilai moral.

Jadi, begitu pentingnya peran seorang ibu dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak. Dan hal ini dapat terjadi dengan adanya kedekatan relasi. Kedekatan inilah yang menjadi pintu masuk untuk terciptanya komunikasi yang menyenangkan. Ibu dapat melakukannya dengan bercakap-cakap sambil bermain atau dengan menceritakan dongeng yang penuh dengan nilai-nilai moral.

Sekalipun seorang ibu terlibat aktif di luar, mungkin sebagai wanita karier, hendaknya tugas ini tidak diambil alih oleh seorang babysitter. Tugas ini hendaknya menjadi tugas seorang ibu, dan dibantu oleh sang ayah. Karena itu, ibu yang bekerja harus menyempatkan diri untuk berbincang dengan meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak. Sesibuk apapun seorang ibu, hendaklah anak tetap dapat merasakan adanya keterikatan dengan ibunya. Dengan adanya rasa keterikatan itu, anak akan lebih mudah memahami pesan-pesan moral yang ditanamkan oleh sang ibu.