Jumat, 11 Februari 2022

TELAAH ISLAM ATAS SURAH MUHAMMAD AYAT 7

 


Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS 47: 7)

Umat islam yakin bahwa Al-Qur’an merupakan firman yang berasal dari Allah sendiri. Firman itu disampaikan secara langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Berhubung Muhammad adalah seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, maka setelah mendapatkan firman Allah itu dia langsung mendiktekan kepada pengikutnya untuk ditulis. Semua tulisan-tulisan itu kemudian dikumpulkan, dan jadilah kita yang sekarang dikenal dengan nama Al-Qur’an. Karena itu, apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah sendiri. Tak heran bila umat islam menganggap kitab tersebut sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an adalah juga penghinaan terhadap Allah, dan orang yang melakukan hal tersebut wajib dibunuh. Ini merupakan kehendak Allah sendiri, yang tertuang dalam surah al-Maidah: 33.

Keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah didasarkan pada firman Allah sendiri. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an, yang merupakan perkataan Allah, yang mengatakan hal tersebut. Al-Qur’an diturunkan agar menjadi petunjuk bagi umat islam. Setiap umat islam wajib mengikuti apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an. Untuk kemudahan ini maka sengaja Allah mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan (QS al-Qamar: 17). Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah kitab yang sudah jelas dan mudah dipahami.

Berangkat dari keyakinan umat islam ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan merupakan perkataan Allah. Apa yang tertulis di atas, kecuali yang ada dalam tanda kurung, merupakan kata-kata Allah sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Jadi, wahyu Allah aslinya tanpa tambahan kata “agama”. Aslinya wahyu Allah berbunyi, “....Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu ....” Dapat dipastikan kata “agama” merupakan tambahan kemudian oleh tangan-tangan manusia. Kenapa harus ada tambahan itu? Apa maksud dan tujuannya?

Kamis, 10 Februari 2022

RASUL PAULUS, UPAH DAN PARA IMAM

Paulus adalah rasul Kristus. Gelar sebagai rasul Kristus ini dikatakan sendiri oleh Paulus. Hal ini terlihat dari beberapa pengantar suratnya, seperti 1 dan 2 Korintus, Efesus, Kolese dan 1 dan 2 Timotius. Sebagaimana rasul lainnya, tugas Paulus adalah mewartakan Injil Kristus. Bahkan bisa dikatakan bahwa inilah tugas utamanya. Paulus pernah berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1Kor 9: 16).

Selain mewartakan Injil, tugas pokok Paulus yang lain adalah membangun jemaat. Dalam menjalankan tugasnya, Paulus jarang sekali memperhatikan kepentingan pribadinya. Semua usahanya ditujukan pada pelaksanaan tugasnya saja. Kerapkali Paulus menghadapi banyak cobaan, dari dihina, disepelekan, dilempar batu sampai dikira sudah mati, hingga kapal karam. Dalam menjalankan tugas mewartakan Injil Kristus, Paulus juga mendapat tantangan dari masyarakat yang sudah “mapan” baik dalam hal budaya (perkawinan, adat istiadat, seks bebas dan liar, dll), sosial (gender, status sosial, dll), mentalitas warga (hedonistis, konsumtivistis, materialistis, dll).

Sekalipun tantangan dan cobaan menghadang, Paulus tetap terus berjuang. Ia tetap setia pada panggilannya. Paulus tidak lari dan meninggalkan tugasnya. Ia terus mewartakan Injil baik lewat kata-kata maupun aksi nyata. Kesetiaan Paulus dalam menjalani tugas dilakukan hingga akhir waktu. “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Tim 4: 7).

Begitu besarnya pengorbanan Paulus dalam menjalani tugas dan begitu banyaknya yang dikerjakan Paulus, tentulah membuat orang berpikir bahwa upah yang diterimanya juga banyak. Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah berkata, “Seorang pekerja patut mendapat upah.” (Mat 10: 10)? Paulus tidak menampik soal itu. Namun melihat upahnya, orang tentu akan heran. Paulus pernah berkata, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah.” (1 Kor 9: 18). Paulus mendapat upah, tapi upahnya adalah tidak mendapat upah. Dengan kata lain, Paulus tidak menerima gaji atau upah dari tugas yang dijalankannya. Hal ini tentu berdasarkan nasehat Tuhan Yesus sendiri, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat 10: 8).

Rabu, 09 Februari 2022

BEDA TIPIS ANTARA MANUSIA DENGAN ANJING

Di sela-sela pertemuan, tiba-tiba seorang perempuan datang ke ruang pertemuan sambil berteriak-teriak. Sasarannya adalah Pak Anu, salah seorang peserta pertemuan. Perempuan itu menyatakan bahwa dirinya adalah teman selingkuh Pak Anu. Ia datang bukan hanya untuk mewartakan hubungan gelapnya dengan Pak Anu, melainkan juga meminta pertanggungjawaban Pak Anu.

Ternyata, Pak Anu menjalin relasi gelap lagi dengan perempuan lain. Relasi itu diketahui oleh perempuan itu. Ia merasa cemburu. Karena itu, ia datang mengamuk di ruang rapat itu. Tindakannya itu benar-benar membuat wajah Pak Anu merah karena malu.

Ketika satpam hotel menggiring perempuan itu ke luar dari ruang pertemuan, Pak Anu segera mengetik sesuatu di handphone-nya. Tak lama kemudian, muncul tiga orang pemuda ke lokasi perkara. Melihat ketiga pemuda itu, perempuan tadi langsung kabur. Maklum, ketiganya dikenal sebagai preman. Mereka ternyata mendapat mandat dari Pak Anu untuk mengamankan situasi.

Tampak jelas kalau ketiga preman itu begitu setia dengan Pak Anu. Hal ini bisa dimengerti karena Pak Anu sering memberi mereka uang atau hal lainnya. Jadi, kesetiaan mereka dilihat sebagai ungkapan balas budi atas kebaikan yang mereka terima dari Pak Anu.