Kamis, 02 September 2021

CATATAN HUJAN BULAN AGUSTUS

 

Pada catatan hujan bulan Juli lalu, kita sempat memperkirakan akan terjadinya kemarau di bulan Agustus. Perkiraaan ini bukannya tanpa dasar. Mulai pertengahan kedua bulan itu hujan jarang sekali turun, bahkan tidak turun sama sekali. Ternyata fenomena itu bukan hanya terjadi di Ujung Beting saja, melainkan juga di Dabo (berdasarkan informasi dari beberapa umat)

Akan tetapi, perkiraan tersebut meleset jauh sekali. Di bulan Agustus ini justru curah hujan sangat tinggi. Dalam waktu 31 hari hujan tidak turun tak lebih dari 6 hari. Selebihnya hujan turun dengan intensitas ringan hingga lebat dan durasi waktu juga bervariasi. Beberapa kali terjadi lebih dari 1 hari hujan turun tak kunjung reda. Hal ini menyebabkan suhu terasa dingin. Dan di saat hujan tidak turun, cuaca mendung. Karena itu, bisa dikatakan bahwa sepanjang bulan Agustus ini cahaya matahari amat sangat sedikit dirasakan.

Saat kami melaporkan ini, sedang dalam persiapan menuju Ujung Beting, cuaca mendung. Ada kemungkinan turun hujan. Apakah ini menjadi pertanda hujan masih tetap lanjut di bulan September? Kita pantau saja perkembangannya dari Ujung Beting..

KIAT MEMILIH PERMAINAN BUAT ANAK

 

Anak selalu diidentikkan dengan dunia bermain. Dapat dikatakan bahwa bermain merupakan aktoivitas harian mereka. Bermain terbukti ilmiah mampu merangsang tumbuh kembang otak anak secara optimal. Sementara itu, dengan rutin bermain, tubuh secara alamiah akan memberikan alarm penanda rasa lapar dan kenyang dengan lebih efektif.

Anak-anak juga akan terlatih keseimbangan tubuh dan gerak motorik halus atau kasar dari kegiatan bermain mereka. Jika rutin bermain, secara otomatis putra-putri Anda akan terbiasa untuk menggerakkan otot-ototnya. Di sinilah, mereka juga belajar mengoordinasikan gerakan, melatih dan mempertajam fungsi pancaindra, serta menyalurkan energi.

Terlibat

Tujuan bermain tidak hanya untuk sebuah kesenangan dan penyegaran, melainkan sebagai sebuah pembelajaran bagi anak. Untuk itu, diperlukan kebijaksanaan orang tua dalam memberikan permainan yang tepat sehingga pada saat bermain sang buah hati dapat memperoleh manfaat maksimal bagi perkembangan kepribadiannya.

Tak lupa, terlibatlah untuk bermain bersama buah hati. Lewat keterlibatan tersebut secara efektif akan membentuk emosi positif yang bermanfaat. Kebaikan dari emosi positif itu, yakni mengoptimalkan tumbuh kembang otak anak, menjalin kedekatan emosi, melatih konsentrasi dan menciptakan komunikasi terbuka.

Rabu, 01 September 2021

REFLEKSI ATAS KEPUTUSAN MUNDUR DIRI

 

Ketika Paus Benediktus XVI menyatakan pengunduran dirinya pada tanggal 28 Februari 2013, sontak dunia merasa terkejut. Ada perasaan aneh dan tak percaya pada berita dan keputusan itu. Orang merasa aneh karena mereka jarang menemukan peristiwa seperti itu. Dalam catatan sejarah memang jarang sekali Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik ini mengundurkan diri. Tercatat ada tiga Paus yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri. Pertama sekali adalah Paus Selestinus V (1294) diikuti Paus Gregorius XII (1415) dan yang terakhir adalah Benediktus XVI. Umumnya pergantian pimpinan ini terjadi karena kematian. Contoh terakhir adalah peralihan dari Yohanes Paulus II ke Benediktus XVI. Terpilihnya Paus Benediktus XVI karena takhta kosong setelah kepergian Yohanes Paulus II, yang meninggal dunia pada 2 April 2005.

Hal ini juga yang membuat orang merasa tak percaya. Orang melihat bagaimana Yohanes Paulus II “mempertahankan” jabatan kepausannya hingga akhir hayatnya. Sekalipun berbagai penyakit menderanya, tatap saja beliau bertahan di Takhta Santo Petrus. Hanya kematian saja yang menghentikannya. Kebanyakan orang berpikir bahwa Paus Benediktus XVI akan mengikuti langkah beliau dalam mempertahankan jabatan. Ternyata keputusannya lain.

Mundur dari jabatan, khusus pimpinan tinggi, juga bukan menjadi sesuatu yang baru dalam sejarah Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Sejak berstatus Prefektur Apostolik Bangka Belitung hingga berstatus Keuskupan Pangkalpinang, dominasi mundur sangat dominan. Berawal dari Mgr. Theodorus Herkenrath, sebagai Prefektur Apostolik yang pertama. Dialah pimpinan tinggi Gereja Keuskupan Pangkalpinang yang mengundurkan diri dari jabatannya (tahun 1926 mengajukan permohonan, 1928 permohonan mundur dikabulkan). Posisi beliau diganti Mgr. Vitus Bouma, yang meninggal dunia sebagai tawanan perang. Masa jabatan Mgr. Bouma sebenarnya masih panjang, namun dihentikan oleh kematian.

Untuk mengisi kekosongan jabatan ini, Vatikan memilih Mgr. Marcellinus van Soest sebagai Administrator Apostolik. Jabatan Administrator Apostolik hanyalah bersifat sementara hingga muncul pejabat resminya. Artinya, jika suatu saat Gereja Keuskupan Pangkalpinang sudah mempunyai pimpinan barunya, maka Mgr. van Soest mundur secara otomatis. Itulah yang terjadi ketika Vatikan memilih Gabriel van der Westen sebagai Vikaris Apostolik Pangkalpinang. Ini sebagai konsekuensi atas perubahan status dari Prefektur Apostolik ke Vikaris Apostolik.