Kamis, 29 Juli 2021

JIKA BERADA DALAM GENGGAMAN PENGUASA

 


Di dunia ini penguasa itu identik dengan pemegang kuasa. Ada banyak kuasa di dalam genggaman tangannya, yang dapat menentukan nasib orang lain. Memang tetap harus diakui bahwa hidup mati ada dalam kuasa Tuhan, meski dalam arti tertentu dapat juga dipindahkan ke tangan manusia yang memiliki kuasa tadi.

Kalau penguasa alam semesta itu hanya ada satu, yaitu Tuhan Allah, maka penguasa di dunia ini ada banyak, tergantung bidangnya. Untuk sebuah negara, penguasanya adalah kepala pemerintah, meski teorinya mengatakan bahwa rakyatlah pemilik kuasa itu. Di bidang hukum, hakimlah penguasanya. Dialah pemegang keputusan bersalah atau tidaknya seseorang.

Untuk lingkup Gereja, misalnya di keuskupan, pemegang kuasa itu adalah uskup. Inipun masih ada catatannya, yaitu bahwa menurut teorinya kekuasaan dalam Gereja itu berarti pelayanan dan pengabdian. Tapi, itu lebih pada teori. Karena, sebagaimana lazim terjadi, tidak banyak teori sejalan dengan prakteknya.

Karena dengan kuasa yang dimiliki itu, sang penguasa dapat menentukan nasib orang lain, maka wajar bila banyak orang berusaha dan berjuang agar bisa dekat dengan penguasa. Kedekatan ini tentulah akan berdampak positip baginya. Dan supaya bisa dekat dengan sang penguasa itu, berbagai cara pun dilakukan. Salah satunya adalah menjilat. Dari sinilah muncul istilah ABS (Asal Bapak Senang).

Ada banyak manfaat yang diperoleh dari kedekatan relasi dengan penguasa ini. Salah satunya adalah perlindungan. Dengan adanya perlindungan, orang akan merasa aman dan nyaman. Apapun tindakannya, bahkan salah sekalipun, orang tetap dilindungi berkat perlindungan tadi. Karena itu, orang salah bisa jadi tidak disalahkan. Jika melakukan hal yang benar, maka pujian akan melambung tinggi melampaui langit, meski sebenarnya biasa-biasa saja. Ada banyak orang lain melakukan hal yang serupa, bahkan mungkin lebih lagi, namun tidak mendapat apresiasi karena tidak adanya kedekatan relasi dengan penguasa. Sekali lagi, ini semua karena kedekatan dengan penguasa.

Rabu, 28 Juli 2021

BOLEH MEMBANGUN RELASI, TAPI .......

 


No man is an island. Manusia adalah makhluk sosial. Kesosialan membuat manusia hidup bersama dan berdampingan dengan orang lain. Agak susah menemukan manusia yang hidup seorang diri dalam lingkungan manusia, karena ketika lahir pun ia sudah berada dalam lingkungan sosial. Agar dapat terhubung dengan orang lain, setiap manusia membangun sebuah relasi personal. Di mana pun manusia berada, ia akan membangun relasi.

Waktu masih kuliah, beberapa rekan dari Flores sangat giat menjalin relasi dengan beberapa keluarga di mana dia berada. Sekalipun ada perbedaan latar belakang budaya, karena sifat sosial tadi, membuat relasi yang dijalin terbangun. Dari jalinan itu banyak yang akhirnya menjadi erat sehingga rekan itu dianggap sebagai anggota keluarga. Karena itu, sangat terkenal istilah papi dan mami bagi rekan-rekan dari Flores. Dan umumnya, dari rekan-rekan Flores saja yang memiliki mami dan papi ini.

Dengan adanya jalinan relasi ini, tentulah rekan-rekan ini mendapatkan sesuatu yang agak sulit diperoleh dari keluarganya yang nun jauh di seberang. Ia mendapat perhatian, dan tak jarang kebutuhannya pun terpenuhi.

Selesai kuliah dan akhirnya menjadi imam, beberapa rekan juga masih meneruskan “tradisi” membangun relasi. Di mana ia berkarya, ia berusaha menjalin relasi dengan umat. Dan kebanyakan relasi yang dibangun ditujukan kepada orang-orang berada atau berpunya. Tentulah pengalaman kuliah memberi pelajaran: relasi memberi perhatian dan terpenuhinya kebutuhan.

Karena itu, tak heran jika menemukan imam yang baru satu dua tahun imamat sudah hidup bergelimang harta kekayaan. Kalau ditanya, selalu jawabannya klasik, “Diberi umat.” Tentulah bukan umat sembarangan yang mau memberi. Umat yang dimaksud adalah umat kalangan tertentu yang sudah sedari awal dibina relasinya.

Selasa, 27 Juli 2021

INI CARA HADAPI BOSS YANG USIANYA MASIH MUDA

 


Beberapa perusahaan biasanya lebih mengutamakan pimpinan yang berusia muda. Salah satu alasannya, usia muda identik dengan terobosan dan kebaruan. Nah, jika Anda memiliki atasan yang berusia jauh lebih muda, apa yang harus dilakukan?

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah tetap tenang. Rasa iri tentu muncul ketika melihat seorang anak muda tiba-tiba didapuk untuk menduduki posisi pimpinan. Hal tersebut sebenarnya wajar mengingat kini semakin banyak karyawan yang memulai karier di usia muda. Selain itu, kini semakin banyak juga perusahaan yang memberi kesempatan akselerasi karier kepada karyawan muda.

Hal kedua, yaitu patahkan stereotip yang mengatakan “orang tua tak semangat kerja”. Seorang karyawan yang bekerja terlalu lama di kantor biasanya identik dengan zona nyaman. Hal ini membuat mereka seperti “bekerja apa adanya”. Nah, untuk membuktikan bahwa hal tersebut kurang tepat, Anda bisa membuat gebrakan yang megejutkan. Misalnya, Anda bisa memuat inovasi yang mempermudah pekerjaan di kantor.

Hal ketiga, gunakan kemampuan parenting Anda. Mengingat faktor pengalaman yang masih sedikit, ada kalanya terobosan yang dibuat sang atasan terlalu klise. Misalnya, atasan memberikan usul untuk meningkatkan produksi dengan cara ekspansi. Padahal, hal ini sudah pernah dilakukan perusahaan dan ternyata kurang berhasil.

Sebagai karyawan yang baik, Anda bisa menggunakan kemampuan parenting. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Wah, itu ide bagus, tetapi menurut saya….” Intinya, Anda bisa mengambil sikap yang mendukung, tak merendahkan dan memberikan saran secara baik.

Hal keempat, bekerja profesional. Ada kalanya atasan memberikan tugas yang cukup banyak. Dalam hal ini, Anda harus melihat dari sisi positif, bukan negatif. Sisi positifnya, atasan sangat percaya dengan kemampuan Anda. Namun, jika dirasa tugas yang diberikan terlalu banyak, Anda bisa mendiskusikan dengan atasan secara profesional.

Hal kelima yaitu posisikan diri Anda sebagai karyawan, bukan orang tua. Jika atasan berusia muda, bahkan seusia anak Anda, ada kalanya sifat orang tua muncul. Misalnya, ketika atasan berbuat salah, Anda ingin langsung menasehati. Sifat ini memang secara naluriah muncul. Namun, Anda sebaiknya ingat posisi di rumah dan kantor yang berbeda.

diolah dari tulisan 7 tahun lalu