Minggu, 13 Juni 2021

RESENSI BUKU TIGA PILAR ISLAM

 


Judul Buku                  : TIGA PILAR ISLAM: Pengantar kepada  Pengenalan Agama Islam

Penulis              : Sunairda

Penerbit             : Blog Budak Bangka

Tahun Terbit      : Januari 2021 (edisi Revisi)

Jumlah Halaman          : 76 halaman

Sinopsis Buku

Latar belakang penulisan buku ini adalah adanya 2 ekstrem pandangan terhadap islam. Sayangnya, kedua ekstrem itu lebih didasari pada perasaan bukan pada pemahaman akal budi. Dan kedua ekstrem itu tidak termasuk bagian dari ajaran islam.

Buku ini mengulas 3 pilar islam, yakni Allah, Al-Qur’an dan Muhammad. Dengan sangat menarik ketiga pilar tersebut digambarkan dengan sangat pas pada cover buku ini. Dalam buku ini dibahas secara garis besar atau secara umum tentang ketiga pilar tersebut, mengingat sifat dari buku ini hanyalah sebatas “pengantar”.

Uraian pembahasan buku ini enak dibaca, karena terkesan penulis menghindari penggunaan istilah-istilah yang dapat membuat bingung pembaca. Bahasa yang dipakai pun terbilang sederhana, dan penggunaan bahasa Indonesia sesuai EYD. Dapatlah dikatakan buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang hendak mengenal islam, bukan saja untuk non muslim tetapi juga untuk umat islam sendiri.

Jumat, 11 Juni 2021

TELAAH ATAS SURAH AL-ANKABUT AYAT 47


 

Dan demikianlah Kami turunkan Kitab (Al-Quran) kepadamu. Adapun orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) mereka beriman kepadanya (Al-Quran), dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekkah) ada yang beriman kepadanya. Dan hanya orang-orang kafir yang mengingkari ayat-ayat Kami. (QS 29: 47)

Dewasa kini, jika dikatakan Al-Qur’an orang langsung memahaminya sebagai kitab suci umat islam yang bertuliskan bahasa Arab, yang terdiri dari 114 surah. Al-Qur’an merupakan pusat spiritualitas umat islam. Ia dipercaya sebagai wahyu Allah yang disampaikan langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Kepercayaan ini didasarkan pada perkataan Allah sendiri yang banyak tersebar dalam Al-Qur’an. Karena Allah itu mahabenar, maka perkataan-Nya, yang tertulis di dalam Al-Qur’an adalah juga benar. Hal inilah yang kemudian membuat Al-Qur’an dikenal sebagai kitab kebenaran. Jika ditanya kepada umat islam kenapa begitu, pastilah mereka menjawab karena itulah yang dikatakan Al-Qur’an.

Berangkat dari premis ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan berasal dari Allah dan merupakan satu kebenaran. Apa yang tertulis pada kutipan di atas (kecuali yang ada di dalam tanda kurung), semuanya diyakini merupakan kata-kata Allah, yang kemudian ditulis oleh manusia. Seperti itulah kata-kata Allah (sekali lagi minus yang di dalam tanda kurung). Karena surah ini masuk dalam kelompok surah Makkiyyah, maka bisa dipastikan bahwa Allah menyampaikan wahyu ini saat Muhammad ada di Mekkah.

Pada kutipan di atas ada 2 kali kata “kitab” disebut. Pada sebutan “kitab” yang pertama langsung diberi keterangan dalam tanda kurung dengan kata “Al-Qur’an”. Ini berarti kitab yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Sedangkan pada sebutan yang kedua dipahami dengan Taurat dan Injil, terlihat frase dalam tanda kurung. Kedua kitab tersebut berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah yang berbicara kepada Muhammad. Dalam kutipan itu digunakan kata “turunkan” dan “berikan”, yang memiliki makna yang sama, dan sumbernya menggunakan kata ganti orang ketiga jamak “Kami”.

Kamis, 10 Juni 2021

UTAK-ATIK KENDARAAN POLITIK ANIES BASWEDAN PADA PILPRES 2024


 

Pemilihan presiden 2024 masih lama, namun geliatnya sudah mulai terasa. Survei elektabilitas calon oleh beberapa lembaga survei telah bermunculan, terlepas apakah itu titipan atau tidak. Riak di partai “moncong putih” (PDI-Perjuangan) sudah muncul. Aksi dukung-dukungan kader pun terang benderang. Tidak hanya itu saja. Gerakan koalisi pun bermunculan, meski ke permukaan dikamuflase sebagai silahturahmi.

Di antara sekian banyak calon, nama Anies Baswedan masuk dalam bursa yang patut diperhitungkan. Namanya selalu berada di tiga besar pada lembaga-lembaga survei. Tentulah hal ini sedikit mengherankan bagi orang yang masih mempunyai akal sehat. Pasalnya, umumnya orang sudah tahu kalau kinerja Anies selama menjabat Gubernur DKI Jakarta sangat lemah, kalau tak mau dikatakan tak ada. Anies Baswedan hanya bisa berkata-kata, tapi tak bisa bekerja. Dia hanya bisa berjanji. Mau dibawa kemana nantinya negara dan bangsa ini nantinya?

Itulah namanya politik. Tidak selamanya untuk urusan politik, khususnya pada PEMILU, melulu hanya urusan akal sehat. Kerap kalkulasi tak waras turut mewarnai dukungan politik. Pilkada DKI Jakarta 2017 memberikan buktinya. Warga lebih memilih Anies – Sandi hanya tergiur janji dan juga karena ayat dan mayat yang dijual tim Anies, dan melupakan Ahok – Jarot yang kerjanya jelas-jelas nyata. Sering terdengar alasan pemilih untuk memilih calon tertentu lantaran ganteng atau popularitas, bukan soal kredibilitas dan kapasitas yang dimiliki calon.

Akan tetapi, sekalipun dipandang sebelah mata, tetap saja Anies Baswedan patut diperhitungkan. Malah pada salah satu lembaga survei namanya mengungguli dua calon lain yang biasanya unggul. Ini sedikitnya membuktikan masih ada saja “orang tak waras”, yang lebih senang menderita asalkan jagoannya menang.

Sekalipun populer, tetap saja Anies masih mempunyai kendala untuk bisa maju pada pilpres 2024 nanti. Soal dana tak perlu diragukan lagi. Pundi-pundi Anies untuk itu sudah tersedia. Lima tahun sebagai Gubernur DKI tentulah cukup baginya, asalkan KPK tidak mengusik-usiknya. Belum lagi kalau memilih pasangan yang juga punya modal kencang, tentulah semakin aman. Kendala utama Anies adalah kendaraan politik. Anies butuh partai.