Jumat, 22 Januari 2021

AYAT-AYAT NERAKA DALAM AL-QUR'AN


Al-Qur’an diyakini sungguh oleh umat islam sebagai kitab yang berasal langsung dari Allah SWT. Apa yang tertulis dalam kitab itu dipercaya sebagai kata-kata atau wahyu Allah SWT. Dasar keyakinan ini adalah Al-Qur’an sendiri. Beberapa ayat Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an ini (sekedar menyebut beberapa, QS al-Baqarah: 4; QS Ali Imran: 3; QS; an-Nisa: 105; QS al-Maidah: 48; QS ar-Rad: 1; QS an-Nahl: 89; QS al-Kahf: 1). Umat islam juga sungguh yakin dan percaya bahwa Allah SWT itu maha benar dan maha tahu. Karena itulah, umat islam percaya apa yang dikatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kebenaran yang meyakinkan (QS al-Haqqah: 51).

Umat islam melihat bahwa Al-Qur’an itu merupakan pedoman, petunjuk, keterangan, tuntunan dan pelajaran bagi manusia. Semuanya sudah dibuat jelas sehingga mudah dipahami. Hal ini bertujuan untuk mendatangkan rahmat bagi umat islam sendiri. Semua ini telah dinyatakan Allah dalam kitab tersebut.

Sebagai pedoman, Al-Qur’an memberikan arahan kepada umat muslim untuk terarah ke surga dan menghindari neraka. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memberikan keterangan yang jelas tentang surga saja, tetapi juga neraka. Keterangan seperti apa yang diberikan Al-Qur’an terkait dengan neraka? Pelajaran apa yang diberikan Allah lewat kitab-Nya soal neraka? Seperti apa gambaran neraka yang ada dalam Al-Qur’an?

Berikut ini akan dipaparkan ayat-ayat yang berbicara tentang neraka. Artinya, dalam ayat tersebut terdapat kata “neraka”. Kutipan ayat Al-Qur’an ini didasarkan pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Kutipan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah ini menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, ada beberapa petunjuk yang patut diperhatikan.

Kamis, 21 Januari 2021

GUNAKAN JUGA CARA PIKIR ORANG LAIN

 


Suatu hari, pesawat yang membawa seorang ahli arkeologi jatuh di rimba Kalimantan. Hanya sang ahli ini saja yang hidup. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada ia coba mencari-cari dan mengumpulkan sisa-sisa makanan yang ada untuk bertahan hidup hingga tim penyelamat datang. Menjelang sore, ia duduk santai beristirahat. Seekor moyet datang menghampirinya. Monyet itu duduk di hadapannya. Mereka saling bertatapan.

Sang ahli arkeologi ini menatap serius sang monyet. Dalam hati ia berkata, inilah dulu nenek moyang kami, manusia, seperti yang dikatakan engkong Darwin.

Si monyet menggaruk-garukkan kepalanya sambil berkata, ini kayaknya dulu nenek moyang kami.

Ini hanya sebuah cerita. Satu hal yang hendak disampaikan cerita ini adalah bahwa manusia selalu menggunakan sudut pandangnya saja dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Jarang sekali manusia mau menggunakan cara pikir orang lain juga.

Sama seperti sang ahli arkeologi tadi. Dia hanya memakai cara pandang dia saja, bahwa manusia berasal dari monyet. Ini didasari pada teori evolusi Darwin. Dari cara pandang ini, lahirlah sebuah kebenaran yang berlaku universal; tapi sayang hanya berlaku bagi manusia saja. Coba gunakan cara pikir monyet juga? Siapa tahu monyet juga berpikir bahwa dirinya berasal dari manusia. Artinya, manusia berevolusi menjadi monyet. Apa dasarnya?

Kalau manusia dari monyet, dasarnya adalah teori Darwin. Bagaimana dengan monyet berasal dari manusia? Janganlah karena tidak ada dasarnya, lantas tidak diakui. Bisa saja ada monyet yang mengeluarkan teori evolusi tersebut, tapi hingga kini belum diketahui atau ditemui oleh manusia. Karena keterbatasan manusia sajalah yang membuat kita tidak menemukan teori monyet itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menemukan perbedaan pendapat. Beda pendapat ini kerap ditimbulkan karena perbedaan sudut pandang atau cara berpikir saja. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan memaksakan pendapat kita yang paling benar dan memvonis pendapat orang lain itu salah. Cobalah sesekali kita memakai cara pikir orang lain sama seperti kita menggunakan cara pikir kita sendiri.

Namun di atas semuanya itu dibutuhkan kejujuran hati nurani yang besar. Karena ada banyak orang yang ngotot dengan pendapatnya hanya karena ingin membela kepentingan tersembunyi.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Rabu, 20 Januari 2021

SETIAP MASALAH ADA SOLUSINYA

 


Orang selalu mengatakan bahwa tak ada jalan yang mulus. Demikian pula halnya dengan perjalanan hidup setiap manusia. Siapapun dirinya, perjalanan hidup itu memang tidak selamanya mulus dan selalu sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menghadapi persoalan atau tantangan. Tidak ada seorangpun yang bisa menghindar dari masalah, ia akan datang tanpa permisi dan bisa menyerang pada siapa saja dan di mana saja.

Allah menghendaki umat-Nya hidup bahagia. Namun manusia selalu hidup dengan masalah: tantangan dan persoalan. Masalah merupakan bagian dari hidup manusia. Justru masalah itu membuat hidup manusia menjadi hidup. Maka, hendaknya jangan mengatakan bahwa masalah itu berasal dari Tuhan (bdk. Yak 1: 13).

Allah memang tidak pernah menjanjikan hidup tanpa masalah, TETAPI satu hal yang pasti adalah: Dia akan memberi kekuatan dan selalu menyediakan jalan keluarnya! Paulus, dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, berkata, “Allah tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1Kor 10: 13).

Jangan pernah mengangap persoalan sebagai penderitaan, jangan juga terlalu berfokus pada masalah sehingga bisa membuat kita menjadi stress dan depresi. Rasul Yakobus, dalam suratnya, mengajak orang untuk tetap merasa bahagia sekalipun menghadapi berbagai macam masalah (Yak 1: 2)

Untuk dapat bertahan menghadapi masalah, hendaklah kita memiliki pikiran yang positif. Di balik awan ada matahari. Di balik suatu masalah PASTI ada suatu kebaikan, selain itu juga akan mendewasakan iman kita agar terus bertumbuh. Pikiran positif membuat kita selalu menyadari bahwa masalah bisa datang kapan dan di mana saja, sehingga kita dapat mengantisipasinya. Antisipasi bukan berarti menghindari masalah sama sekali, melainkan mengurangi dampak masalah yang datang. Sebagai orang beriman, wujud antisipasi ini adalah seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Mat 26: 41).

Jangan gentar dengan setiap masalah yang muncul. Percayalah, di saat menghadapi jalan buntu, maka Allah sanggup memberikan jalan keluar yang terbaik. Kitab Mazmur menulis bahwa Tuhan “tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya.” (Maz 37: 28).

Sebagaimana sebuah gembok, sebesar apapun gembok itu, pasti ada kunci untuk membukanya. Begitu juga dengan masalah. Sekelam apapun masalah itu PASTI ada jalan keluarnya.

Be Positive, Be Happy!!!

diambil dari tulisan 7 tahun lalu