Kamis, 26 November 2020

TINGGALKANLAH BEBAN MASA LALUMU


Setiap orang pastilah pernah mengalami pengalaman terluka dalam hidup. Tak jarang pula pengalaman pahit itu diikuti dengan rasa trauma. Jika mengalami trauma yang sangat besar pada masa lalu ia akan meninggalkan bekas. Dan sering kali terjadi bahwa trauma ini lantas digunakan sebagai 'kambing hitam' atas keterpurukan saat ini. Kita terus terikat dengannya, meski itu menyakitkan.

Bila kita tak bisa lepas dari trauma, maka cobalah tanyakan hal ini pada diri sendiri, "Berapa banyak luka lagi yang akan saya biarkan diderita oleh diri saya sendiri? Apakah trauma ini pantas menghancurkan seluruh sisa hidup saya? Siapa yang berkuasa di sini, diri saya--ataukah trauma?"

Mari kita belajar dari alam. Perhatikanlah daun-daun yang mati dan berguguran dari pohon, ia sebenarnya memberikan hidup baru pada pohon. Bahkan sel-sel dalam tubuh kita pun selalu memperbaharui diri. Segala sesuatu di alam ini memberikan jalan kepada kehidupan yang baru dan membuang yang lama. Satu-satunya yang menghalangi kita untuk melangkah dari masa lalu adalah pikiran kita sendiri.

Sering kali terjadi bahwa beban berat masa lalu, dibawa dari hari ke hari. Beban itu berubah menjadi ketakutan dan kecemasan, yang kemudian pada akhirnya akan menghancurkan hidup kita sendiri. Ingatlah, hanya seorang pemenanglah yang bisa melihat potensi, sementara seorang pecundang sibuk mengingat masa lalu.

Bila kita sibuk menghabiskan waktu dan energi kita memikirkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan, maka kita tidak memiliki hari ini untuk disyukuri.

Saat kita merasa sedih dan putus asa atau bahkan menderita, coba renungkan keadaan di sekitar kita. Barangkali masih banyak yang lebih parah dibandingkan kita? Tetaplah tegar dan percaya diri, berpikir positif dan optimis, berjuang terus, dan pantang mundur.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Rabu, 25 November 2020

PERHATIAN SAHABAT LAMA


Markus adalah mantan seminari, tapi tidak sampai tamat. Karena keterbatasan uang sekolah, ia akhirnya memutuskan untuk mundur. Selepas dari seminari, ia merantau ke Jakarta. Berbagai profesi sudah digelutinya, sampai akhirnya dia menjadi sopir Mikrolet.

Suatu hari, seorang imam naik mikrolet yang dikemudikan Markus. Dari kaca di atas sopir, Markus terus memperhatikan penumpang istimewanya itu. Dia merasa mengenal orang tersebut. Ketika mobil berhenti sebentar hendak menaikkan penumpang, Markus meminta penumpang istimewanya itu maju ke depan, duduk di samping sopir.

Setelah duduk di samping, Markus berkata sopan, “Anda pastor, kan?”

Imam itu sedikit kagum atas tepatnya tebakan sang sopir. “Koq, kamu tahu?”

“Tampak dari cara naiknya,” ujar Markus diselingi sebuah senyuman. “Romo, sepertinya wajah romo tak asing bagi saya.” Markus memulai percakapan sambil menyetir mikroletnya menyelib-nyelib mobil-mobil lain. “Kalau tak salah, nama romo adalah Matius, kan?”

“Lho, kamu ini siapa? Koq tahu?” Romo Matius, yang merupakan penumpang istimewa mikrolet itu semakin penasaran.

“Romo, kita dulu satu seminari menengah. Saya keluar kelas 2.” Markus menjelaskan beberapa hal penting yang bisa menjadi pengingat. Dan ternyata memang mereka merupakan sahabat lama waktu seminari menengah itu. Akhirnya ceritapun mengalir sampai tukaran nomer HP.

Ketika tujuan Romo Matius sudah dekat, dia mengambil duapuluh ribu dari sakunya. Namun Markus, sang sopir mikrolet, menolaknya. “Untuk romo selalu gratis. Romo naik mobil saya saja sudah merupakan berkat. Berkat itu kan bahasa Latinnya Gratia. Mirip-mirip dengan gratis.” Ujar Markus sambil tersenyum.

Selasa, 24 November 2020

HABIB RIZIEQ DAN WAJAH ISLAM

 


Tiga tahun, sejak Habib Rizieq kabur ke Arab, sepertinya tidak ada gegap gempita aksi Front Pembela Islam (FPI). Namun sejak pertama kali menginjakkan kakinya di tanah air, suasana yang dulu-dulu kembali hadir. Bandara lumpuh, jalanan macet, aneka spanduk dan baliho menyemaraki kedatangan Iman Besar Umat Islam Indonesia. Tidak hanya itu, segala aturan yang sudah dibangun pun diobrak-abrik. Acara maulid nabi dan pesta pernikahan sang putri benar-benar menampilkan wajah FPI yang selama 3 tahun ini tak kelihatan.

Aksi Habib tidak berhenti di situ. Dalam acara keagamaan, Rizieq menebarkan ancaman kepada siapa saja yang menghina islam, menghina nabi dan menghina ulama. Rizieq meminta umat islam agar Indonesia meniru apa yang terjadi di Perancis, terhadap guru yang dipenggal kepalanya karena menghina nabi. Ancaman Rizieq itu bukanlah bualan atau hoaks. Berikut ini kami tampilkan videonya


(jika tak bisa dibuka, silahkan klik di sini).

Banyak orang memberi tanggapan atas pernyataan Imam Besar Umat Islam Indonesia itu. Ada yang meminta agar pemerintah, melalui aparatnya, bersikap tegas. Hukum harus ditegakkan. Tak sedikit juga yang mengecamnya karena mencoreng wajah islam. Bagi mereka, apa yang dikatakan Rizieq dengan mengatas-namakan islam, sungguh bukanlah wajah islam. Mari kita cermati dua aksi ini.

1.    Pemerintah harus bertindak

Banyak kalangan, baik itu dari umat islam maupun non muslim, mendesak supaya pemerintah menindak Habib Rizieq atas pernyataannya tersebut. Mereka mengingatkan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum dan negara Pancasila. Sebagai negara hukum, segala tindak kejahatan harus diproses melalui hukum yang ada, bukan dengan hukum agama tertentu. Dan hukum punya mekanismenya sendiri, tidak boleh dipaksa mengikuti kemauan pribadi kelompok. Sebagai negara Pancasila, Indonesia tidak hanya islam, tapi masih ada 6 agama lain yang mempunyai hak yang sama.

Memang, melihat tayangan video tersebut, sebenarnya aparat pemerintah bisa bertindak. Akan tetapi, harus dimaklumi juga bahwa pemerintah berada dalam situasi dilema. Menghadapi pernyataan Rizieq tersebut, pemerintah tidak hanya melihatnya dari sisi hukum saja, melainkan juga mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, kesehatan, keamanan, agama, politik, dan lain sebagainya. Artinya, pemerintah melihat masalah tersebut dari banyak sudut pandang, sedangkan mereka yang mendesak pemerintah hanya melihat masalah tersebut dari segi hukum saja.