Kamis, 01 Oktober 2020

INSPIRASI DARI GURU RENANG


Pak Joko dan Pak Jono adalah guru, sekaligus pelatih renang di Sekolah Berenang Menengah Pertama. Jabatan guru dan pelatih ini didapat atas perintah atau SK dari Kepala Sekolah.

Suatu hari ada pelajaran berenang. Ini merupakan pertemuan pertama. Pak Joko menangani siswa kelas A, sedangkan Pak Jono siswa kelas B. Pak Joko langsung mengajak para siswanya ke kolam renang dan menyuruh mereka berdiri di tepi kolam.

“Sekarang kalian berenang ke sana,” perintah Pak Joko sambil menunjuk sisi lain dari kolam renang yang ada di depan para murid. “Doni dan Domi, kalian pakai gaya bebas. Dono dan Dodo pakai gaya punggung. Dollo gaya kupu-kupu dan Dore gaya dada. Siap?! Mulai!”

Semua siswa, mungkin karena takut atau sekedar menghargai sang guru, terjun ke dalam kolam. Ada yang tenggelam, ada yang hanya mengepak-ngepak kembali ke tempat semula dengan wajah pucat. Ada pula yang terdampar di sisi kiri dan kanan kolam. Satu orang berhasil ke tujuan. Itu pun dengan susah payah. Entah sudah berapa liter air kolam masuk ke dalam mulutnya.

Sementara di tempat yang lain, Pak Jono mengajak siswanya ke ruang kelas. “Kalian, kalau berenang, harus mengenakan pakaian renang,” jelasnya kepada mereka. Ia memberitahukan alasannya. Kemudian ia menerangkan tentang teknik-teknik berenang, tentang gaya berenang seperti gaya bebas, gaya punggung, gaya kupu-kupu dan gaya dada.

“Baiklah, minggu depan kita praktekkan pelajaran hari ini di kolam renang,” ujar Pak Jono setelah memberikan beberapa penjelasan.

diambil dari tulisan 7 tahun lalu 

INILAH KEBOHONGAN IBU DEMI KEBAIKAN KITA


Aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- Inilah KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata: “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata: ”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata: ”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata: “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Rabu, 30 September 2020

SEBELUM CERAI, BACALAH KISAH INI


Pada hari pernikahan, Joko membopong istrinya, Sri. Mobil pengantin berhenti di depan flat mereka yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabat Joko menyuruhnya membopong Sri begitu keluar dari mobil. Maka Joko membopong Sri memasuki rumah mereka. Mereka kelihatan malu-malu. Joko merasa dirinya adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Mereka mempunyai seorang anak. Joko terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara mereka pun semakin surut. Sri adalah pegawai sipil. Setiap pagi mereka berangkat kerja bersama-sama dan sampai di rumah juga pada waktu yang kurang lebih bersamaan.

Anak mereka sedang belajar di luar negeri. Perkawinan mereka kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dewi hadir dalam kehidupan Joko. Waktu itu adalah hari yang cerah. Joko berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulnya. Hatinya sekali lagi terbenam dalam aliran cinta. Ini adalah apartmen yang dibelikan untuknya. Dewi berkata, “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkan Joko pada istrinya. Ketika mereka baru menikah, istrinya pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Joko menjadi ragu-ragu. Joko tahu kalau dirinya telah  mengkhianati Sri. Tapi dia tidak sanggup menghentikannya. Joko melepaskan tangan Dewi dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.? Aku ada sedikit urusan di kantor” Kelihatan Dewi jadi tidak senang karena Joko telah berjanji menemaninya.

Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiran Joko walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, Joko merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada Sri. Walau bagaimanapun dijelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu mereka akan menonton TV sama-sama. Atau Joko akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dewi. Ini adalah hiburan.

Suatu hari Joko berbicara dalam guyon, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?” Sri menatap selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Joko tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa dirinya serius.