Selasa, 28 Juli 2020

PERJALANAN PANJANG HIDUP SELIBAT KAUM RELIGIUS KATOLIK


Selibat Rohaniwan Katolik adalah aturan di beberapa gereja partikular yang membentuk Gereja Katolik yang hanya memperbolehkan pria yang tidak menikah saja yang dapat ditahbiskan menjadi imam. Aturan yang sama juga dijunjung oleh beberapa gereja lainnya dalam hal pentahbisan menjadi gembala (uskup, pendeta, rasul) gereja tersebut.
Pemimpin gereja-gereja partikular Katolik yang mentaati aturan ini adalah Ritus Latin, namun, di antara Gereja-gereja Katolik Timur, setidaknya Gereja Katolik Ethiopia menerapkannya juga.
Dalam konteks ini, "selibat" mempertahankan arti sesungguhnya dari "tidak menikah", dan tidak merujuk pada penahanan nafsu atau puasa dari hubungan seksual yang bisa juga dilakukan oleh pihak-pihak yang telah menikah.
Di seluruh Gereja Katolik, baik di Timur maupun di Barat, sebagaimana juga di Gereja Ortodoks Timur dan di Gereja Ortodoks Oriental, seorang imam tidak boleh menikah. Untuk bisa menjadi seorang imam yang menikah, dalam beberapa gereja dan kasus, maka seseorang harus menikah dahulu sebelum ditahbiskan. Gereja Katolik, Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental, tanpa pengecualilan, menutup kemungkinan pentahbisan bagi pria yang telah menikah untuk menjadi imam.
Hukum selibat klerik dianggap bukan sebuah doktrin, namun sebuah aturan. Beberapa pengecualian kadang-kadang dibuat, terutama dalam kasus rohaniwan Protestan yang pindah ke dalam Gereja Katolik, dan aturan ini, secara teori, bisa diubah bagi semua macam pentahbisan imam. Namun, selibat klerik ini dinilai sebagai sebuah kesaksian yang berharga bagi iman Kristiani dan sebagai sebuah jalan untuk mengikuti teladan Kristus dan kehidupan selibat-Nya.

Senin, 27 Juli 2020

MEMAHAMI PERSELINGKUHAN DARI SUDUT PANDANG PRIA


Selingkuh adalah sebuah kata yang sangat ditakuti saat orang hendak membangun sebuah relasi. Bukan hanya relasi cinta suami-istri atau relasi pacaran saja, melainkan relasi koalisi dalam dunia politik. Dalam dunia politik sering kali terdengar istilah pecah kongsi, di mana awalnya berkoalisi namun akhirnya berpisah karena adanya salah satu partai yang berselingkuh atau tidak setia pada komitmen. Karena itu, dalam dunia politik dikenal adagium ini: tak ada teman yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan. Namun apakah dengan demikian berarti juga dalam relasi suami – isteri?
Minggu lalu kita sudah melihat ulasan umum tentang selingkuh. Kali ini kami akan menurunkan tulisan soal selingkuh dari aspek kaum laki-laki. Mengapa laki-laki selalu diidentikkan sebagai tukang selingkuh? Apa konsep selingkuh bagi laki-laki? Bagaimana sikap pria jika pasangannya yang selingkuh? Tak lupa bagian akhir tulisan ini kami menawarkan solusi yang sedikit berguna.
1.    Pria Suka Selingkuh
Selingkuh kini sudah bersifat universal. Tak hanya kaum eksekutif yang memiliki banyak uang yang bisa melakukan selingkuh. Profesi apa pun, bahkan tukang becak sekalipun, bisa melakukan selingkuh. Namun, karena kaum eksekutif kadang merupakan public figure, perselingkuhan yang dilakukannya pun menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat.
Seperti survei dilakukan oleh majalah Eksekutif terhadap 500 pria eksekutif di Jakarta untuk mengamati masalah perselingkuhan. Hasil survei yang dipublikasikan melalui Facebook rupanya mendapat respons dari ribuan orang. Banyaknya pro dan kontra ini menunjukkan antusiasme masyarakat memperbincangkan masalah perselingkuhan. Banyak pula yang mempertanyakan keakuratan data karena contoh yang diambil belum tentu mewakili kaum eksekutif. Namun, survei ini terbukti menarik perhatian masyarakat untuk berkomentar. Perselingkuhan ternyata sudah dianggap sebagai hal yang biasa, yang menurut para tokoh ini tak perlu terlalu diperdebatkan.

Minggu, 26 Juli 2020

PAUS FRANSISKUS: KESABARAN TUHAN MEMBUKA HATI KITA UNTUK BERHARAP


Pada doa angelus di hari Minggu, 19 Juli 2020, Paus Fransiskus berdoa agar Perawan Maria yang Terberkati bisa “membantu kita memahami dan meniru kesabaran Allah, yang ingin agar tidak anak-anak-Nya yang hilang, yang Dia kasihi dengan kasih seorang Bapa.” Dengan perumpamaan tentang gandum dan ilalang, Yesus membantu kita memahami kesabaran Tuhan, membuka hati kita untuk berharap, jelas Paus Fransiskus.

Dalam bacaan Injil hari itu, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang yang menanam gandum yang baik di ladangnya. Di malam hari musuh menabur benih lalang di antara gandum itu. Ketika gandum dan lalang mulai tumbuh bersama, hamba-hamba tuan ladang itu ingin mencabut lalang itu. Namun, sang guru menyuruh mereka menunggu sampai panen, karena takut mereka akan mencabut gandum saat mereka mencabut lalang itu.

Di antara kita, dapat dikatakan bahkan hari ini, tanah telah dihinggapi begitu banyak herbisida, pembunuh lalang, dan racun yang membahayakan diri kita sendiri dan bumi. Dalam perumpamaan itu penguasa ladang adalah Tuhan, “yang hanya menabur benih yang baik,” dan “tujuannya adalah panen yang baik.” Musuh adalah setan, “lawan klasik Allah” yang karena iri dan permusuhan berupaya menghancurkan pekerjaan Allah. “Niat setan adalah menghalangi pekerjaan keselamatan, menghalangi kerajaan Allah melalui pekerja jehat, penabur dalam skandal,” urai Paus Fransiskus. Gandum dan lalang bukanlah simbol kebaikan dan kejahatan abstrak, tetapi representasi manusia, “yang bisa mengikuti Tuhan atau setan.”

Paus Fransiskus mencatat, berkali-kali kita juga mendengar tentang keluarga atau komunitas yang damai tiba-tiba terbelah oleh konflik, iri hati. “Hal-hal buruk mulai terjadi,” papar Paus Fransiskus seraya melihat bagaimana kita menuduh seseorang menabur gosip.