Senin, 23 Maret 2020

MENYIKAPI TRAGEDI DALAM HIDUP


Di sebuah kamar bersalin sebuah rumah sakit, lahir seorang anak dengan cacat jantung bawaan yang berasal dari latar belakang genetik orangtuanya. Cacat itu sungguh-sungguh membahayakan hidup anak itu.
Andaikata anak itu meninggal tak lama sesudah dilahirkan, tentu kedua orangtuanya akan pulang dengan hati pedih meskipun tidak menjadi terbenam oleh tragedi itu. Untuk beberapa saat mereka memang akan bersusah hati, merenungkan kemungkinan penyebabnya, namun mereka akan segera melupakan kejadian itu dan memulai menatap ke masa depan.
Akan tetapi, anak itu tidak meninggal. Berkat bantuan ilmu kedokteran modern dan pengabdian luar biasa dari para perawat dan dokter yang membidaninya, ia bertahan hidup. Ia tumbuh menjadi besar, otaknya cerdas, periang dan popular, namun terlalu lemah untuk ikut main dalam kegiatan-kegiatan olahraga.
Ia menjadi dokter. Ia menikah dan mempunyai anak-anak. Ia dihormati di lingkungan profesinya dan disenangi di lingkungan tempat tinggalnya. Isteri dan anak-anaknya mencintainya; banyak orang akhirnya tergantung pada dia.
Lalu, pada usia yang keempat puluh, kesehatannya yang rapuh itu mulai menyergapnya. Jantungnya yang memang lemah bawaan dan yang hampir saja menewaskannya tak lama sesudah ia dulu dilahirkan, mulai tampak cacatnya. Akhirnya ia meninggal.

Jumat, 20 Maret 2020

INILAH AYAT-AYAT PEDANG DALAM AL QURAN

Agama islam sering diidentikkan dengan agama teroris karena memang ada ajaran untuk itu dalam agamanya. Sumber ajaran agama islam ada pada Al Quran dan hadis. Para teroris selalu mendasarkan perbuatannya pada ajaran agama yang tertuang dalam Al Quran, yang dikemudian hari dikenal sebagai ayat-ayat pedang. Bagi umat islam Al Quran diyakini langsung berasal dari Allah (QS 32: 2 dan 39: 1 – 2, 41). Dan Al Quran merupakan kitab yang jelas (QS 54: 17), sehingga tidak dibutuhkan lagi tafsiran. Makna dari pesan Allah sudah tertulis jelas seperti yang tertulis dalam Al Quran.
Seperti yang telah disampaikan, ayat-ayat Al Quran, yang dijadikan dasar terorisme, biasa disebut ayat-ayat pedang. Yang menjadi sasaran ayat-ayat pedang ini adalah kaum kafir, kaum musyrik, kaum fasik dan juga kaum munafik. Berikut ini adalah kutipan-kutipannya (kami menggunakan Quran Karim):
Surah al-Baqarah (2)
Ayat 178: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.
Ayat 190: Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu.
Ayat 191: Bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka.
Ayat 193: Perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.
Ayat 216: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.

Kamis, 19 Maret 2020

MEMBONGKAR KESESATAN PIKIR KAREN ARMSTRONG DALAM BUKU SEJARAH TUHAN


Tahun 1993 Karen Armstrong menulis sebuah buku dengan judul A History of God: The 4.000-Years Quest of Judaism, Christianity and Islam. Buku yang mendapat pujian dari banyak pihak ini, pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan pada bulan April 2001. Judulnya adalah Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam. Hingga akhir tahun 2001, buku ini sudah empat kali dicetak. Hal ini menunjukkan betapa buku ini laris, alias masuk dalam daftar best sellers.
Karen Armstrong sendiri merupakan penulis tentang islam, yang banyak disukai oleh pembaca muslim. Ada banyak buku-bukunya yang membahas tema islam. Dan Mizan merupakan salah satu penerbit buku islam di Indonesia yang setia mempopulerkan buku-bukunya. Dapat dipastikan ketertarikan Penerbit Mizan menerjemahkan buku-buku Karen Armstrong dilandasi pada sikap positif Armstrong terhadap islam dan sikap negatifnya terhadap kekristenan dan Barat. Dalam semua tulisannya, Armstrong selalu memuji dan membela islam dan mencela sikap negatif Barat dan Kristen terhadap islam.
Usaha Karen Armstrong dalam memaparkan perjalanan sejarah Tuhan dalam bukunya ini memang pantas dipuji. Sumber-sumber literatur yang digunakannya benar-benar berkualitas. Namun bukan lantas berarti tulisan Armstrong ini harus diterima begitu saja. Tak dapat dipungkiri, unsur subyektivitas dalam buku Sejarah Tuhan begitu kentara. Hal ini tak lepas dari sikap Armstrong yang positif terhadap islam dan negatif dengan kekristenan dan dunia Barat. Sikap ini sangat nyata dalam bab 4 dan bab 5. Dalam bab 4, yang membahas Tuhan Kristen, Armstrong memulainya dengan kontroversi ajaran trinitas dan berlanjut dengan kontroversi konsep creation ex nihilo. Kesan yang mau dibangun di sini adalah ajaran Kristen itu tidak jelas atau penuh kontroversi. Berbeda ketika Armstrong membahas bab 5 tentang Tuhan Islam, dimana dia memulai dengan nada positif, pujian kepada Muhammad, seolah-olah Muhammad murni mendapatkan wahyu dari Allah tanpa pernah bersentuhan dengan tradisi agama sebelumnya. Padahal pada halaman 189, 212 – 214 dapat dikatakan bahwa Muhammad pernah bersentuhan dengan kitab suci orang Yahudi dan Kristen.
Berikut ini kami sajikan kesesatan pikir Karen Armstrong dalam buku Sejarah Tuhan. Apa yang kami sajikan ini berangkat dari tinjauan kritis kami atas apa yang tertulis di sana. Semua kesesatan pikir Karen Armstrong ini berakar pada sikapnya yang positif terhadap islam.