
Banyak umat islam kaget
setelah tahu bahwa Gereja Katolik punya tradisi berpuasa. Tak sedikit umat
islam menilai bahwa orang karolik meniru kebiasaan mereka. Hal ini seolah-olah
bahwa puasa itu hanya milik orang islam saja. Perlu diketahui, ketika umat
katolik berpuasa, tidak terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar, tidak
seperti kalau umat islam yang berpuasa.
Bagaimanakah berpuasa
yang benar menurut ajaran Gereja Katolik? Kapan dan bagaimana puasa itu
dilakukan?
Pertama-tama perlu diketahui
dulu alasan kenapa umat katolik berpuasa dan berpantang. Bagi orang Katolik,
puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan
tanda mempersatukan sedikit pengorbanannya dengan pengorbanan Yesus di kayu
salib sebagai silih dosa dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan
pantang bagi umat katolik tak pernah lepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka
puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama
dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi orang
Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan
sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/supaya
kurus, menghemat, dll.
Dengan mendekatkan dan
menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak umat. Dan
karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui
puasa dan pantang, umat diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam
karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu
berdoa dan menyatukan pengorbanannya dengan pengorbanan Yesus di kayu
salib. Umat katolik pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan
mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengannya: orang
tua, suami/istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam,
pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.
Berikut ini ketentuan
tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

