Rabu, 26 Februari 2020

PANTANG DAN PUASA DALAM GEREJA KATOLIK


Banyak umat islam kaget setelah tahu bahwa Gereja Katolik punya tradisi berpuasa. Tak sedikit umat islam menilai bahwa orang karolik meniru kebiasaan mereka. Hal ini seolah-olah bahwa puasa itu hanya milik orang islam saja. Perlu diketahui, ketika umat katolik berpuasa, tidak terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar, tidak seperti kalau umat islam yang berpuasa.
Bagaimanakah berpuasa yang benar menurut ajaran Gereja Katolik? Kapan dan bagaimana puasa itu dilakukan?
Pertama-tama perlu diketahui dulu alasan kenapa umat katolik berpuasa dan berpantang. Bagi orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda mempersatukan sedikit pengorbanannya dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jadi puasa dan pantang bagi umat katolik tak pernah lepas dari doa. Dalam masa prapaska, maka puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti diit/supaya kurus, menghemat, dll.
Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak umat. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, umat diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, dengan cara yang paling sederhana, yaitu berdoa dan menyatukan pengorbanannya dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Umat katolik pun dapat mulai mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengannya: orang tua, suami/istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam, pemimpin Gereja, pemimpin negara, dst.
Berikut ini ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

Senin, 24 Februari 2020

PAUS FRANSISKUS: KITA SEMUA MISKIN DALAM ROH


DALAM bahasa Yunani dimana Injil ditulis, berdukacita seperti itu dijelaskan oleh Bapa-bapa Gurun dengan kata Yunani “penthos” yang merupakan dukacita batin yang bisa membuat kita terbuka pada hubungan otentik dengan Tuhan dan satu sama lain. Paus Fransiskus mengatakan hal itu dalam audensi umum mingguan di Aula Paulus VI, 12 Februari 2020, ketika merenungkan Sabda Bahagia kedua, yakni “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
Menurut Paus Fransiskus, Alkitab berbicara tentang dua jenis kedukaan. Pertama, untuk “kematian atau penderitaan seseorang.” Dukacita ini “adalah jalan pahit, tetapi bisa digunakan untuk membuka mata seseorang terhadap kehidupan dan nilai sakral dan tak tergantikan dari setiap orang, dan orang pun menyadari betapa singkatnya waktu.”
Aspek lain, Paus Fransiskus menyoroti “air mata karena dosa – dosa sendiri – ketika hati seseorang berdarah kesakitan karena melukai hati Allah dan sesama.” Dengan menyebut Santo Petrus sebagai contoh dalam mengungkapkan dukacita karena dosa, Paus Fransiskus menjelaskan dukacitanya dinyatakan dengan air matanya setelah mengkhianati Yesus yang datang sebagai karunia dari Roh Kudus, Sang Penghibur.

KISAH ANAK SEKOLAH MINGGU


Adalah seorang anak bernama Toni. Dia baru pulang dari mengikuti Sekolah Minggu di aula pastoran. Hari itu pelajaran Sekolah Minggu membahas kisah penyeberangan Laut Merah, yang diambil dari Kitab Keluaran.
Setibanya di rumah, sang Ibu menyambut dan memeluk Toni. Dia bertanya kepada anaknya apa yang baru dipelajari dalam Sekolah Minggu. Tanpa ada nada antusias, Toni mengatakan, “Kisah bangsa Israel menyeberangi Laut Merah.”
“Gimana kisahnya? Tolong ceritakan, mama pengen dengar,” pinta sang Ibu sedikit antusias.
Toni menatap wajah ibunya. Setelah itu barulah dia bercerita. “Bangsa Israel meninggalkan tanah Mesir, namun Firaun bersama balatentaranya memburu mereka. Mereka akhirnya sampai ke Laut Merah dan tak dapat menyeberanginya. Sementara itu balatentara Mesir semakin dekat. Maka Musa segera mengeluarkan walkie-talkienya, dan tak lama kemudian angkatan udara Israel membomi tentara Mesir, angkatan laut Israel membangun jembatan ponton sehingga orang-orang Israel itu dapat menyeberang.”
Sang Ibu terkejut setengah mati. “Begitukah guru agamamu menceritakan kisah itu kepadamu?”
“Memang tidak,” aku Toni dengan santai. “Tetapi kalau kuulangi kisah itu kepada mama dengan cara seperti yang mereka pakai waktu menceritakannya kepada kami, pasti mama tidak akan mempercayainya.”
Diolah kembali dari Harold S. Kushner, Derita, Kutuk atau Rahmat: Manakala Kemalangan Menimpa Orang Saleh. Yogyakarta: Kanisius, hlm 73.