Senin, 30 Desember 2019

BAGAIMANA UANG PAROKI DIKORUPSI?

Korupsi sudah merajalela merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ia menjadi budaya, yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Karena itu, tak heran ketika mendengar pengakuan Paus Fransiskus bahwa ada korupsi di Vatikan. Saat jumpa pers dalam penerbangan pulangnya dari kunjungan ke Jepang menuju Roma pada 26 November 2019, Paus Fransiskus menegaskan hal tersebut.
Mungkin sebagian umat mengatakan bahwa mustahil ada korupsi di Vatikan atau Gereja, karena uskup dan imam sudah mengikrarkan janji kemiskinan yang menjauhkan mereka dari kemewahan harta kekayaan. Janji kemiskinan membuat mereka dapat melawan godaan korupsi. Namun pernyataan Paus Fransiskus tersebut bisa menjadi bahan refleksi umat untuk menyadari bahwa tak ada yang kebal terhadap godaan uang. Bukan bermaksud menuduh, tapi kita harus berangkat dari asumsi dasar bahwa uskup dan imam itu adalah manusia; dan setiap manusia rentan terhadap godaan uang. Dari asumsi ini dapatlah disimpulkan bahwa korupsi bisa juga dilakukan oleh para pejabat Gereja itu. Artinya, budaya korupsi dapat juga merasuki Gereja.
Bagaimana praktek korupsi dilakukan di Gereja? Inilah yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini. Dalam tulisan ini, Gereja yang dimaksud adalah paroki, dan saya, sebagai pastor paroki, adalah pelakunya. Karena itu, pertanyaannya adalah bagaimana saya mengorupsi uang paroki?

Yang pertama sekali saya lakukan adalah membuat sistem keuangan tertutup dan tunggal. Artinya, keuangan paroki hanya diatur dan diketahui oleh saya. Bendahara paroki hanya membuatkan pembukuaannya. Dewan Pengelola Harta Benda Paroki (DPHBP) dan pastor pembantu pun tidak tahu. Mereka baru diberitahu pada laporan akhir tahun dalam rapat DPHBP pleno. Tentulah mereka tidak akan mengetahui secara detail data-data keuangan selama satu tahun, karena yang saya berikan hanyalah laporan rekapitulasinya.

BUNDA MARIA: MEREKA MABUK KEHAMPAAN


Tak lama lagi, umat manusia, teristimewa umat katolik, akan meninggalkan tahun 2019 dan menyambut tahun baru 2020. Merayakan pergantian tahun sepertinya sudah menjadi tradisi rutin. Setiap orang akan bersukacita menyambut tahun baru. Pesta sukacita dengan berbagai macam acaranya pun digelar. Tahun berganti yang baru, namun tabiat, sifat dan sikap manusia tak ikut berubah menjadi baru. Karena itu, sangat menarik mendengarkan pesan Bunda Maria kepada kita dalam rangka menyambut tahun baru.
Pesan Bunda Maria ini diambil dari wawancara batin antara Don Stefano Gobbi dan Bunda Maria. Wawancara batin adalah suatu gejala mistik yang ada dalam kehidupan Gereja. Ia bukanlah komunikasi inderawi. Dalam wawancara batin ini orang tidak mendengar dengan telinga atau melihat dengan mata dan tidak ada sesuatu yang bisa disentuh. Jadi, wawancara batin merupakan karunia dalam wujud pesan yang disampaikan Allah supaya kita laksanakan dengan bantuan-Nya.
Dalam wawancara batin di sini, Don Stefano menjadi alat komunikasi; dimana kebebasannya tetap terjaga, ia mengungkapkan persetujuan terhadap kegiatan Roh Kudus. Artinya, ia tidak mencari-cari gagasan atau cara pengungkapannya. Ia murni sebagai penyalur pesan.

Sabtu, 28 Desember 2019

Renungan Hari Minggu Oktaf Natal IV - A

Renungan Pesta Keluarga Kudus, Thn A
Bac I  Sir 3: 2 – 6, 12 – 14; Bac II       Kol 3: 12 – 21;
Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan Pesta Keluarga Kudus. Keluarga kudus di sini merujuk pada Yusuf, Maria dan Yesus. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengangkat tema tentang keluarga. Nadanya lebih pada nasehat. Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Putra Sirakh, memberikan nasehat yang lebih ditujukan kepada anak. Putra Sirakh meminta anak-anak untuk menghormati dan memuliakan ayah ibunya (ay. 2 – 6). Mereka juga diminta agar menolong dan bukannya menyakiti hati orangtuanya (ay. 12). Mereka harus memaafkan orangtuanya (ay. 13). Singkatnya, Putra Sirakh menasehati anak-anak supaya mereka berbuat baik kepada orangtuanya.
Rasul Paulus, dalam bacaan kedua, juga berbicara tentang keluarga. Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus memberikan nasehat kepada semua anggota keluarga. Kepada suami istri, Paulus meminta mereka untuk saling menghormati dan mengasihi (ay. 18 – 19). Suami diminta untuk tidak berlaku kasar terhadap istri (ay. 19) dan juga anaknya (ay. 21). Anak-anak dinasehati agar mentaati orangtuanya (ay. 20). Taat di sini bisa saja merupakan bentuk sikap hormat, kasih dan peduli. Apa yang dinasehati Paulus ini sebenarnya merupakan bentuk penjabaran dari sikap orang-orang pilihan Allah, yaitu belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran (ay. 12). Secara tidak langsung, Paulus menghendaki agar semua anggota keluarga memiliki sikap-sikap tersebut.
Apa yang dipaparkan Paulus terlihat dalam Keluarga Kudus Nasareth. Injil hari ini masih dalam suasana natal. Kisah yang diangkat juga masih bercerita tentang bayi Yesus. Sebagai bayi, Yesus itu lemah, sekalipun Dia adalah Allah. Dalam kelemahan-Nya itulah terlihat peran orangtua-Nya yang menjaga dan melindungi. Ini merupakan wujud kasih Yusuf dan Maria. Dalam kisah perjalanan panjang Keluarga Kudus, terlihat kelemah-lembutan dan kesabaran Yusuf. Ini bisa terjadi karena sikap rendah hati yang dimilikinya. Semua sikap itu membuatnya selalu ada dalam setiap kehidupan keluarganya.
Pesta Keluarga Kudus menyajikan nasehat kepada para keluarga kristiani. Lewat bacaan-bacaan liturgi hari ini, Tuhan hendak mengajak keluarga-keluarga kristiani, sebagai “orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya” (Kol 3: 12), untuk membangun keluarganya menjadi lebih baik. Tuhan menghendaki agar sorga hadir dalam setiap keluarga kristiani. Untuk itu, seperti kata Paulus, hendaklah setiap anggota keluarga mengenakan kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (ay. 14). Selain itu, hendaklah selalu mengucapkan syukur dalam segala sesuatu.***
by: adrian