Senin, 24 Juni 2019

PANDANGAN KELIRU ISLAM TERHADAP KRISTEN

Dua tahun lalu, persisnya hari ini, 24 Juni 2017, blog budak-bangka menurunkan sebuah tulisan dengan judul agak provokatif, yaitu “Islam Menyajikan Kekristenan Palsu kepada Umatnya”. Jika agama-agama lain hanya focus kepada umatnya saja, berbeda dengan agama islam yang sibuk juga mengurusi agama lain. Setidaknya dalam Al-Qur’an ada disinggung agama Kristen dan Yahudi dan juga agama asli Arab pra-islam. Namun sayangnya, apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an terkait dengan agama-agama lain itu ternyata keliru.
Hal inilah yang hendak dibahas dalam tulisan 2 tahun lalu itu, secara khusus kekeliruan terhadap agama kristen. Tulisan tersebut merupakan hasil olah ulang atas bab 24 dari buku "Islam and Terorism". Pernyataan bahwa islam menyajikan kekristenan palsu merupakan hasil refleksi dan sekaligus kesaksian penulis buku itu, yang adalah mantan Guru Besar Universitas Al Azhar, Mesir. 
Tulisan 2 tahun lalu itu dapat menjadi jembatan komunikasi antara umat islam dan Kristen. Tulisan tersebut diurai dengan menggunakan bahasa yang ringan dan sederhana sehingga mudah dicerna siapa pun. Pembaca tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk membacanya, karena tulisan tersebut dikemas dengan singkat, padat, bernas dan jelas.
Lebih lanjut mengenai isi tulisan tersebut langsung saja klik dan baca di sini. Selamat membaca!!!

Senin, 17 Juni 2019

PAUS FRANSISKUS: KETIDAKSETARAAN ADALAH ANCAMAN TERHADAP DEMOKRASI

Satu ancaman terbesar terhadap demokrasi adalah normalisasi ketidak-dilan sosial dan ketidak-setaraan ekonomi. Keduanya masih sangat terabaikan sehingga orang-orang yang terdampak melakukan aksi protes kemudian dicap sebagai pembuat onar yang berbahaya. Demikian pernyataan Paus Fransiskus, saat bertemu para hakim dari Amerika Utara, Amerika Tengah dan Amerika Selatan di Vatikan pada 4 Juni lalu. Orang miskin dan lemah sering tidak dipedulikan oleh para penguasa.
Sementara teknologi menawarkan “kenikmatan yang berlimpah dan menyenangkan kepada sedikit orang yang bahagia,” ujar Paus Fransiskus, ribuan orang miskin bahkan tidak mempunyai rumah yang layak. “Sistem politik ekonomi, terkait perkembangannya yang baik, harus memastikan bahwa demokrasi bukan sekedar soal nominal tetapi bisa diungkapkan dalam aksi-aksi konkret yang menjaga martabat semua orang atas dasar kebaikan bersama, dalam sebuah panggilan akan solidaritas dan keberpihakan kepada orang miskin,” lanjut Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus berbicara pada hari terakhir “Pan-American Judges Summit” yang digelar pada 3 – 4 Juni dan yang disponsori oleh Akademi Kepausan untuk Ilmu Sosial. Bertema “Hak Sosial dan Doktrin Fransiskan”. Pertemuan tersebut berfokus pada solusi untuk mengatasi ketidaksetaraan dan menjamin hak masyarakat untuk tierra, techo y trabajo (tanah, rumah dan pekerjaan).
Paus Fransiskus berterima kasih kepada peserta pertemuan atas karya mereka dalam membela hak semua orang khususnya orang-orang yang paling lemah. Para hakim “membantu negara untuk tidak meninggalkan fungsi yang paling mulia dan utama: menjaga kesejahteraan warga mereka.” Semakin berkurangnya perhatian terhadap hak-hak sosial – yang sering kali dianggap oleh sejumlah orang sebagai “doktrin” karena “kuno, tidak modern dan tidak memberi kontribusi kepada masyarakat” – adalah alasan untuik memberikan perhatian, papar Paus Fransiskus.

REFLEKSI ATAS FILM SILENCE


Dua tahun lalu, persisnya hari ini, 17 Juni 2017, blog budak-bangka menurunkan sebuah tulisan dengan judul “Silence: Susahnya Menjadi Pengikuti Kristus”. Tulisan tersebut merupakan ulasan atas film yang berjudul Silence, yang mengambil latar belakang kehidupan misionaris Katolik dan juga pengikuti Gereja Katolik di Jepang pada abad XVI. Dari tayangan film itu terlihat jelas bahwa penjadi orang katolik itu bukan tanpa tantangan, cobaan bahwa penderitaan.
Tulisan dua tahun lalu tersebut tidak hanya sebatas mengulas film Silence saja. Berangkat dari film tersebut, penulis menawarkan hasil refleksinya. Dengan kata lain, tulisan 2 tahun lalu itu merupakan juga ulasan sekaligus refleksi atas film Silence. Dengan ulasan tersebut, penulis seakan hendak meyakinkan pembaca, khususnya para murid Kristus, bahwa mengikuti-Nya penuh konsekuensi.
Ada dua topic penting sebagai hasil refleksi penulis atas film silence, yaitu penegasan bahwa menjadi orang Kristen berarti siap menderita, dan film Silence dan islam. Apa dan bagaimana isis refleksi penulis? Untuk mengetahui kedua hal penting itu dan juga isi tulisan tersebut, langsung saja klik dan baca di sini. Selamat membaca!!!