Kamis, 11 April 2019

CARA MUDAH MERAWAT BATREI HP

Dewasa kini manusia sudah tak bisa lepas dari HP. Apalagi yang jenisnya smartphone. Sepertinya HP menjadi salah satu benda yang wajib dibawa kemana pun kita pergi (mungkin kecuali saat mandi). Akan tetapi, pernahkah kita tahu bahwa nyawa HP itu ada pada batrei? Dan sudahkah kita paham bagaimana merawatnya? Sekedar  diketahui saja, dengan merawat batrei, berarti kita menunjukkan rasa sayang kepada HP kita.
Berikut ini beberapa cara untuk merawat batrei HP kita. Setidaknya ada tujuh hal yang tidak boleh kita lakukan terhadap HP kita.
1.   Jangan mengisi ulang saat batrei sudah 0%. Kebiasaan ini akan mengurangi umur batrei. Charge-lah HP kita ketika daya batrei masih tinggal sedikit.
2.   Smartphone baru tidak perlu harus di-­charge sampai 100%. Dewasa kini bahan batrei smartphone menggunakan lithium ion yang memampukan HP dapat langsung digunakan tanpa perlu di-charge hingga 100%. Jadi, ketika kita beli HP baru, dimana jenis batreinya itu lithium ion, kita dapat langsung menggunakannya. Tunggu saat daya batreinya sudah menipis, barulah kita men-charge.
3.   Jangan menggunakan smartphone (HP) saat sedang di-charge. Kebiasaan ini akan mengurangi umur batrei dan membuat proses pengisian daya makin lama. Karena itu, matikanlah HP kita saat sedang di-charge.
4.   Jangan pernah menggunakan sembarangan alat charge. Biasanya ketika kita membeli HP, penjual langsung memberi sekalian dengan alat charge. Charge yang berbeda dengan tipe ponsel dapat memiliki arus listrik dan tegangan yang berbeda. Kebiasaan menggunakan charge yang bukan pasangan ponsel akan merusak kualitas batrei HP.

TIPS AGAR BADAN TETAP SEHAT


Tentulah kita tak asing lagi dengan pepatah atau nasehat “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Nasehat ini dapat diterapkan dalam banyak aspek kehidupan. Salah satunya adalah kesehatan. Nasehat itu hendak mengatakan bahwa menjaga kesehatan itu lebih baik. Salah satu aspek dari kesehatan adalah daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh kita baik, maka sehatlah kita. Karena itu, menjaga daya tahan tubuh merupakan sebuah bentuk menjaga kesehatan tubuh.
Masalah inilah yang diangkat blog budak-bangka enam tahun lalu, persisnya pada 11 April 2013. Topik ini dibahas dalam tulisan dengan judul “Menjaga Daya Tahan Tubuh”. Tulisan, yang diolah dari berbagai sumber tulisan ini, merupakan tips agar badan kita tetap sehat. Ada enam langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik. Semuanya diurai dengan ringkas.
Dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan ringan sehingga tulisan ini dapat dibaca dan dinikmati oleh pembaca mana pun. Tak perlu berlama-lama untuk menemukan keenam tahapan menjaga daya tahan tubuh kita, karena tulisan ini diurai dengan singkat, to the point dan jelas. Lebih lanjut mengenai tips menjaga tubuh tetap sehat langsung saja klik dan baca di sini. Selamat membaca!!!

Senin, 08 April 2019

KEBAIKAN JANGAN DIBATASI WAKTU


Setiap agama di dunia ini tentulah mempunyai tradisi puasa, yaitu tidak makan dan minum, atau biasa disebut dengan istilah matiraga. Bentuk dan cara berpuasa itu bisa saja berbeda dari satu penganut agama ke penganut agama lainnya. Umat islam berpuasa pada masa/bulan ramadhan penuh. Umat agama lainnya berpuasa menjelang hari raya besar. Demikian pula dengan umat katolik. Mereka berpuasa selama 40 hari selama masa pra-paskah.
Nah, tema puasa inilah yang diangkat blog budak-bangka pada lima tahun lalu, persisnya pada 8 April 2014. Judul tulisan yang ditampilkan adalah “Pantang Sesaat vs Pantang Sehayat”. Tulisan lima tahun lalu itu hendak menyorot satu tradisi puasa yang ada dalam Gereja Katolik. Melalui tulisan tersebut, penulis mau mengajak umat katolik untuk merefleksikan aktivitas puasanya dalam masa pra-paskah. Mengingat pentingnya aktivitas tersebut bagi kehidupan, maka penulis mencoba mengajukan pertanyaan reflektif, apakah kegiatan puasa itu hanya berhenti pada masa pra-paskah saja.
Dikemas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang ringan dan sederhana sehingga pembaca mana pun dapat menikmatinya. Meski ditujukan untuk umat katolik, namun lantas berarti umat agama lain tidak dapat membacanya. Pesan dari tulisan tersebut dapat diterapkan pada umat agama lain. Selain itu, pembaca tak perlu bersusah-susah dan berlama-lama untuk dapat menemukan poin-poin yang ditawarkan, karena tulian tersebut diurai dengan singkat, padat dan jelas. Lebih lanjut mengenai tulisan tersebut, langsung saja klik dan baca di sini. Selamat membaca!!!