Kamis, 26 Oktober 2017

PENAIK KACA MOBIL OTOMATIS

Mengisi liburan, seorang anak seminaris bernama Hendra memilih tinggal di sebuah Paroki. Kebetulan dia masih punya hubungan keluarga dengan pastor parokinya. Paroki itu mempunyai dua mobil: Avanza dan pick up Hilux. Hampir setiap kali pastor paroki keluar, Hendra selalu diajak. Selalu mereka menggunakan Avanza. Karena itu, Hendra sudah sangat familiar dengan komponen mobil.
Suatu hari pastor pembantu mengajak Hendra ke stasi. Mereka naik mobil Hilux. Karena sudah terbiasa dengan mobil Avanza, Hendra sedikit merasa asing dengan mobil tersebut.
Hendra        : Mo, mana tombol untuk turunkan kaca jendela?
Romo          : Tu di sampingmu (sambil memberi contoh yang ada di sisi kanannya). Tinggal diputar aja.
Hendra        : Wah, enakan mobil Avanza. Naik turun kacanya otomatis.
Beberapa menit berselang, karena cuaca panas, sementara kaca jendela sisi kiri tidak terbuka, Romo meminta Hendra untuk membukanya.
Romo           : Hend, coba buka jendelanya.
Hendra segera memutar alat penurun kaca jendela. Segera angin segar berhembus membuat kegerahan sirna.
Romo           : Tu kan. Otomatis juga kan kaca jendelanya.
Hendra        : Otomatis gimana?
Romo          : Saya bilang ‘coba buka jendelanya’ otomatis kaca jendelanya juga turun.
Hendra        : Ha ha ha ha ha ha …..
Koba, 4 Juli 2017
by: adrian
Baca juga humor lainnya:

Senin, 23 Oktober 2017

TIGA SYARAT PERNIKAHAN JADI SAH

Pernikahan adalah suatu tindakan hukum. Dengan mengikuti ketentuan hukum pernikahan yang dibangun menjadi sah dan diakui oleh masyarakat. Jika tidak disertai dengan aturan hukum resmi, maka tidak ada pernikahan. Yang ada hanya hidup bersama tanpa ikatan nikah, alias kumpul kebo.
Pernikahan katolik menjadi sah jika mengikuti tiga ketentuan berikut ini: (1) kedua calon mempelai bebas dari halangan nikah (kan. 1083 – 1094). Ada dua jenis halangan nikah, yaitu halangan nikah kodrati dan halangan nikah gerejawi. Halangan pertama mengikat semua orang dan tak bisa didispensasi, sedangkan halangan kedua hanya khusus buat orang katolik dan bisa didispensasi. Orang non katolik yang menikah dengan orang katolik juga dikenakan aturan halangan nikah gerejawi.
(2) adanya kesepakatan nikah (kan. 1095 – 1107). Yang membuat kesepakatan adalah mereka yang akan menikah, meski terbuka juga untuk diwakilkan. Agar kesepakatan itu sah, maka kedua calon harus berada dalam kondisi bebas, sadar, tahu dan mau, tidak berada dalam tekanan atau paksaan. Kesepakatan yang dibuat juga harus jujur.
(3) tata peneguhan nikah (kan. 1108 – 1129). Kanon 1057 §1 menyebutkan bahwa kesepakatan nikah harus dinyatakan secara legitim, yakni menurut tata peneguhan yang sudah ditentukan. Maksud tata peneguhan nikah adalah mereka yang akan menjadi saksi resmi, yaitu yang bertugas meneguhkan pernikahan, dan saksi umum (dikenal dengan istilah saksi nikah). Terbuka kemungkinan orang menikah tanpa mengikuti tata peneguhan ini asalkan ada dispensasi dari Ordinaris Wilayah.

by: adrian 

Sabtu, 21 Oktober 2017

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIII - Thn II

Renungan Hari Sabtu Biasa XXIII, Thn A/II
Bac I    1Kor 10: 14 – 22a; Injil                    Luk 6: 43 – 49;

Injil hari ini memuat pengajaran Tuhan Yesus tentang penilaian seseorang. Bagi Yesus, orang baik akan terlihat dalam sikap dan perilaku hidupnya. Kebaikan itu akan memancar dalam hidupnya. Tuhan Yesus membandingkannya dengan pohon. Tak mungkin pohon yang tak baik menghasilkan buah yang baik. Hanya pohon yang baik saja yang menghasilkan buah yang baik. Demikianlah manusia. Karena orang baik akan mengeluarkan perbendaharaan yang baik dari dalam hatinya, sedangkan orang jahat mengeluarkan yang jahat. Jadi, untuk menilai apakah seseorang itu baik atau tidak, dapat dilihat dari buah yang dihasilkannya.

Apa yang diajarkan Tuhan Yesus, kembali ditekankan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, yang menjadi bacaan pertama hari ini, dengan cara yang sedikit berbeda. Paulus berangkat dari permenungannya atas ekaristi. Dalam perayaan ekaristi umat memakan roti yang satu dan minum dari cawan yang sama, yang semuanya melambangkan Kristus. Artinya, dengan merayakan ekaristi, dimana umat makan dan minum dari cawan yang sama, Kristus ada di dalam hidup umat. Karena Kristus ada di dalam dirinya, maka umat tidak layak lagi terlibat dalam aksi sembah berhala. Kristus yang ada dalam dirinya, menuntun umat untuk menyembah Allah semata. Hal ini akan terlihat dalam kehidupan nyata.

Tak jarang kita menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, entah itu dari cara berpakaian ataupun dari status dan jabatannya. Tak sedikit orang beranggapan bahwa uskup, imam atau suster itu otomatis baik. Padahal banyak dari mereka yang tidak menghasilkan buah yang baik dalam hidupnya. Banyak juga orang menilai bahwa mereka yang berpenampilan awut-awutan otomatis buruk, sedangkan yang necis dan rapi pasti baik. Mereka lupa bahwa banyak koruptor selalu berpakaian rapid an berpenampilan meyakinkan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyingkirkan cara pandang seperti itu. Kita diajak untuk menilai seseorang dari sikap dan perilaku hidupnya juga. Tuhan menghendaki juga supaya kita menghasilkan buah-buah kebaikan dalam hidup.

by: adrian