Rabu, 31 Mei 2017

PENODAAN AGAMA: BAGAIMANA UMAT KRISTEN MENYIKAPINYA?

Tahun 2016 ini ditutup dengan berita panas tentang masalah penodaan agama. Dan pertengahan tahun 2017 diisi dengan berita vonis 2 tahun penjara bagi pelaku penodaan agama. Tokoh utamanya adalah Basuki Tjahaya Purnama, atau biasa disapa Ahok. Berawal dari keselip lidah dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, yang mana videonya yang telah diedit diunggah di dunia maya, Ahok difatwa telah melakukan penodaan agama. Protes, kecaman dan demo pun mulai menyeruak di negeri ini, bukan hanya di Jakarta melainkan juga di beberapa daerah Indonesia.
Sekalipun Ahok sudah menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa tidak ada niatnya untuk menghina agama islam (Al Quran), sekalipun Nusron Wahid dan beberapa tokoh islam sudah menyatakan tidak ada kata-kata yang menghina Al Quran dalam pidato Ahok, umat islam sudah keburu marah. Mungkin sudah didasari oleh fatwa MUI bahwa Ahok telah melakukan penodaan agama dan ulama. Mereka tidak memperhatikan isi dan konteks pidato Ahok.
Soal penodaan agama sebenarnya bukan baru kali ini saja terjadi. Penistaan agama juga sebenarnya bukan hanya dialami oleh umat islam saja. Penodaan agama juga dialami oleh umat dari agama mana pun, dan sudah terjadi sejak dulu. Salah satunya adalah umat kristen.
Ini Kisah Nyata
Seorang anak SD berkata kepada pastornya, “Romo, apa benar yang di salib itu bukan Tuhan Yesus?” Ketika pastor bertanya darimana info itu didapat, siswa itu menjawab dari guru agama islam. Kemudian anak itu mengatakan bahwa yang sebenarnya mati di kayu salib itu adalah orang yang menyerupai Yesus. Dengan tersenyum, pastor itu berkata, “Itu keyakinan mereka. Kita harus menghormatinya. Keyakinan kita adalah bahwa yang mati di salib adalah Tuhan Yesus. Itu tertulis dalam kitab suci.”
Pengalaman anak SD di atas bisa terjadi juga di tempat lain. Ada banyak siswa Kristen, yang karena kekurangan tenaga guru agamanya, terpaksa ikut pelajaran agama islam. Tentu publik ingat akan Aria Desti Kristiana, seorang mualaf, yang menjadi islam sejak kelas 1 SD. Bukan tidak mungkin, di sekolahnya ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dia jawab. Misalnya, kenapa Tuhan harus disalib? (baca kisahnya di sini: Kisah Mualaf).

Selasa, 30 Mei 2017

AHOK DAN AL-MAIDAH: 51

Ada banyak kasus penistaan agama yang terjadi di Indonesia. Namun kasus penistaan agama dengan pelaku Basuki Tjahaya Purnama, atau biasa disapa Ahok, adalah kasus yang sangat menarik perhatian publik Indonesia. Dikatakan menarik karena kasus ini tidak hanya murni kasus agama saja. Kalau orang mau jujur, kasus ini sarat dengan nuansa politik. Kentalnya warna politik dalam kasus ini membuat orang bingung menilai: apakah agama memainkan politik atau politik yang memainkan agama. Yang dimaksud agama di sini adalah agama islam.
Dari kasus penistaan agama ini muncul fenomena “aneh”, yang di satu sisi akan menimbulkan kebingungan bagi umat non muslim tapi di sisi lain membuka “aib” sendiri (sayang, hal ini sepertinya tidak disadari). Fenomena pertama adalah “perang” argumentasi. Ada ahli agama islam menilai Ahok telah melakukan penistaan agama. Mereka mengemukakan argumen-argumen, baik dari sisi quranis, hadis maupun teologis. Namun ada juga ahli, yang juga ahli agama islam, yang menilai Ahok tidak melakukan penistaan. Dasar argumentasinya pun tak jauh berbeda dengan dasar argumentasi ahli sebelumnya.
Fenomena kedua adalah “perang” pro dan kontra. Tak bisa dipungkiri kasus penistaan agama oleh Ahok ini menimbulkan “perang” di antara umat islam sendiri. Ada banyak umat islam menghojat dan mengecam Ahok karena telah menghina agamanya. Namun tak sedikit pula umat islam membela Ahok, dan berpikir Ahok tidak melakukan penghinaan. Dan sebagaimana perang pada umumnya yang selalu meminta adanya korban, dalam kasus ini pun ada korban. Ada jenazah warga yang mendukung Ahok ditolak untuk dishalatkan. Hal ini dipertegas lagi dengan spanduk yang jelas-jelas menyatakan menolak menshalatkan jenazah pendukung atau pembela penista agama. Sekali lagi perlu ditegaskan, agama yang dimaksud di sini adalah agama islam.
Semua fenomena yang lahir dari kasus Ahok ini sungguh membingungkan umat non islam. Sementara umat islam, baik dari kubu pro maupun kontra, berusaha menampilkan jatidiri agamanya, umat nom muslim bertanya inikah islam. Umat non islam tahu bahwa Ahok telah menistakan agama hanya dari pernyataan pendapat Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dibaca di media massa. Akarnya pada pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, yang menyinggung surah Al-Maidah ayat 51. Dalam pidatonya Ahok menyebut, “Dibohongi pakai surah Al-Maidah ayat 51.”

Senin, 29 Mei 2017

PAUS FRANSISKUS: KASIH TUHAN MELEMBUTKAN HATI SEKERAS BATU

Kasih Tuhan dapat mengubah hati yang keras dari orang-orang yang menggunakan hukum untuk mengutuk orang lain, demikian ungkap Paus Fransiskus. Seseorang yang memiliki hati yang keras dan tidak mengizinkan Roh untuk masuk, seringkali mengandalkan kekuatan dan kepintarannya sendiri daripada memahami kehendak Tuhan melalui kerendahan hati, ujar Paus Fransiskus dalam misa di Domus Sanctae Marthae.
“Mereka tidak tahu bahwa Sabda telah menjadi daging, bahwa Sabda menjadi saksi kesetiaan,” ungkap Paus Fransiskus. “Mereka tidak sadar bahwa kebaikan Tuhan memampukan orang-orang untuk keluar dari hati yang sekeras batu dan menggantikannya dengan hati selembut daging.”
Paus Fransiskus berbicara tentang kemartiran St. Stefanus, yang dirajam sampai mati karena mengecam para pemuka agama dan penatua sebagai orang yang keras kepala dan selalu menolak Roh Kudus. Berbeda dengan murid-murid yang berjalan ke Emaus yang hatinya terbuka ketika bertemu dengan Yesus, para tokoh agama yang melempari Stefanus dengan batu membiarkan amarah mengendalikan mereka. Ini menjadi tragedi bagi mereka yang hatinya tertutup dan tidak mau berubah.
“Yang membuat gereja menjadi sangat menderita adalah hati yang tertutup, hati yang keras seperti batu, hati yang tidak mau terbuka, yang tidak mau mendengar, hati yang hanya mengenal bahasa kutukan,” tegas Paus Fransiskus. Mereka yang melempari batu kepada martir pertama gereja tidak menyediakan tempat dalam hati mereka untuk Roh Kudus, yang membuat orang kristen melihat orang lain dengan kelembutan yang Tuhan lakukan kepada kita, terhadap dosa-dosa kita dan terhadap kelemahan-kelemahan kita.
sumber: UCAN Indonesia