Sabtu, 26 Desember 2015

Cara Kuno Matikan Lampu

Suatu hari pace dan mace pergi ke kota mengunjungi anak mereka. Setiba di rumah, pace dan mace ini disambut hangat oleh keluarga anak mereka. Setelah ditunjukkan kamar tempat mereka menginap, mereka bergabung dengan anggota rumah di ruang keluarga.
Saat mau tidur, mace minta ke pace untuk mematikan lampu, karena mereka tak biasa tidur dalam situasi terang. Maklum, di kampong belum ada listrik. Hanya pakai lampu pelita.
Pace berdiri di bawah lampu lalu meniupnya. Namun lampu tak padam. Sudah berkali-kali ia coba, lampu tetap terang benderang. Kemudian pace ambil kursi dan berdiri di atas kursi sehingga lebih dekat lagi dengan lampu. Dia tiup, tapi lampu tidak mau padam.
Pace           : Mace, lampu tak mau padam. Saya sudah coba berkali-kali, tetap dia masih terang. Kau urus dulu dia.
Mace emosi. Dia bangun lalu ambil gagang sapu. Kemudian mace jolok lampu itu hingga pecah. Dan kamar menjadi gelap
edited by: adrian, dari cerita Polly Pape
Baca juga humor lainnya:

Orang Kudus 26 Desember: St. Stefanus

SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA
Hari ini tidak sama dengan hari kemarin (25 Desember). Sukacita dan kegembiraan hari kemarin karena kelahiran Yesus Kristus, seolah sirna seketika dengan tragedi iman, yaitu pembunuhan atas Diakon Stefanus. Hari ini kemartiran Stefanus dirayakan Gereja.
Satu-satunya sumber informasi terpercaya tentang Stefanus adalah Kisah Para Rasul bab 6 dan 7. Di dalamnya Stefanus ditampilkan sebagai orang beriman yang kokoh dan penuh Roh Kudus, dan salah satu orang yang diangkat oleh keduabelas Rasul untuk memangku jabatan diakon atau pelayan meja, barangkali sebagai pengurus rumah tangga jemaat. Ia seorang Kristen Yahudi yang tinggal di Yerusalem, dan bisa berbahasa Yunani.
Stefanus pandai berpolemik dan sangat radikal dalam pandangannya mengenai tradisi-tradisi serta lembaga-lembaga Yahudi. Ketika berada di hadapan Sanhendrin, ia dengan tegas membantah semua tuduhan kaum Farisi, dan membuka karya misionernya di antara orang-orang Yahudi. Pembelaannya diperkuat dengan mengutip kata-kata Kitab Suci yang melukiskan kebaikan hati Yahweh kepada Israel dan ketidaksetiaan Israel sebagai “bangsa terpilih” kepada Yahweh. Oleh karena itu, ia diseret ke luar tembok kota Yerusalem dan dirajam sampai mati oleh pemimpin-pemimpin Yahudi yang tidak mampu melawan hikmatnya yang diilhami oleh Roh Kudus.
Senjata utama untuk melawan musuhnya ialah cintanya akan Tuhan. cinta itu demikian kuat mendorongnya untuk bersaksi tentang Kristus, meskipun ia harus menghadapi perlawanan yang kejam dari musuh-musuhnya. Bahkan sampai saat terakhir hidupnya di dalam penderitaan sekian hebatnya, ia masih sanggup mengeluarkan kata-kata pengampunan, “Tuhan, janganlah dosa ini Engkau tanggungkan kepada mereka itu.”
Laporan tentang pembunuhan Stefanus itu menyatakan bahwa Saulus (yang kemudian menjadi Paulus, Rasul bangsa kafir) hadir di sana dan memberi restu terhadap pembunuhan itu. namun apa yang terjadi atas Saulus di kemudian hari? Sebagai pahala besar bagi Stefanus ialah bahwa Saulus musuhnya yang utama serta penghambat ulung Gereja, bertobat dan menjadi Paulus, rasul terbesar bagi kaum kafir. Stefanus mati sebagai martir kira-kira tahun 34.
sumber: Iman Katolik

Kamis, 24 Desember 2015

Renungan Malam Natal - Thn C

Renungan Malam Natal, Thn C/II
Bac I  Yes 9: 1 – 6; Bac II                   Tit 2: 11 – 14;
Injil    Luk 2: 1 – 14;
Malam hari ini kita mengakhiri peziarahan kita selama masa adven. Penantian kita sudah berakhir. Tuhan Yesus sudah lahir. Injil mala mini mengisahkan tentang peristiwa tersebut. Dikatakan bahwa Bunda Maria melahirkan di Betlehem, karena ada program sensus. Maria tidak melahirkan di sebuah rumah, melainkan di sebuah kandang. Tuhan Yesus terbaring dalam palungan. Terdengar seperti menyedihkan, suram dan hina. Namun penginjil menutup kisahnya dengan berita sukacita, meski lokasi kejadiannya berbeda. Terlihatlah “sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah.” (ay. 13)
Gambaran seperti Injil terlihat juga dalam bacaan pertama. Yesaya, dalam kitabnya, mengungkapkan adanya dua situasi berbeda dalam kehidupan manusia. Ada orang yang mengalami situasi suram atau “berjalan dalam kegelapan.” (ay. 2). Akan tetapi, Yesaya menegaskan bahwa manusia tidak selamanya hidup dalam kesuraman atau berjalan dalam kegelapan. Akan ada sorak-sorai dan sukacita yang besar (ay. 3). Semua itu karena kelahiran seorang anak, yang adalah Raja Damai (ay. 6). Di sini Yesaya mau menubuatkan kelahiran Tuhan Yesus.
Bacaan kedua, yang diambil dari Surat Paulus kepada Titus, seakan merefleksikan bacaan pertama dan Injil. Apa yang diungkapkan Yesaya dalam bacaan pertama merujuk pada Tuhan Yesus. Dia-lah yang dimaksudkan Yesaya sebagai Raja Damai. Dia-lah Terang bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan; dan orang yang telah mematahkan kuk dan gadar dari umat manusia. Paulus melihat semua ini sebagai bentuk kasih karunia Allah yang mau menyelamatkan manusia. Jadi, kelahiran Yesus Kristus merupakan wujud kasih Allah kepada umat manusia.
Tuhan sudah lahir. Malam ini kita diajak untuk bersukacita atas kelahiran-Nya. Sukacita kita bukan semata-mata karena peristiwa kelahiran, melainkan karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Karena itu, sabda Tuhan malam hari ini menyadarkan kita bahwa Allah mengasihi kita lewat kelahiran seorang anak di palungan. Namun, kita juga disadarkan, sebagaimana pesan Paulus dalam bacaan kedua, bahwa lewat kasih-Nya kita diajak untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingian duniawi, dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah.” (ay. 12). Tuhan juga menghendaki supaya kita “rajin berbuat baik.” (ay. 14)***
by: adrian