Jumat, 05 Juni 2015

Renungan Hari Jumat Biasa IX - Thn I

Renungan Hari Jumat Biasa IX, Thn B/I
Bac I  Tob 11: 5 – 17; Injil        Mrk 12: 35 – 37;

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus menerangkan mengenai Mesias. Bagi orang Yahudi kehadiran Mesias sangat dinanti-nantikan, karena akan membawa pembebasan dan keselamatan bagi mereka. Dari penjelasan Tuhan Yesus tampak jelas kalau konsep Mesias orang Yahudi bersifat duniawi. Hal ini didasarkan dari pernyataan bahwa Mesias adalah anak Daud. Akan tetapi, dengan logika akali, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa konsep Mesias yang dirindukan itu harus melampaui aspek duniawi. Ia lebih bersifat rohani-spiritual. Dikatakan bahwa banyak orang mendengarkan penjelasan Tuhan Yesus dengan penuh minat (ay. 37).
Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Tobit, bercerita tentang Tobia dan isterinya, Sara, pulang kembali ke Tobit. Melalui Tobia, mata Tobit yang sebelumnya buta, pulih kembali. Tobit benar-benar merasakan belas kasih Allah. Hal itulah yang diwartakannya kepada segenap penduduk kota Niniwe, sehingga mereka semua tercengang-cengang (ay. 16). Dapat dikatakan bahwa awalnya penduduk menilai bahwa Tobit mendapat kutuk dan tak mungkin lagi sembuh. Mereka menggunakan kemampuan manusiawi dalam menilai penyakit Tobit tanpa memberi kesempatan kepada kemurahan Tuhan.
Hidup manusia mempunyai aneka dimensi paradoksal. Ada dimensi rohani, ada pula jasmani. Ada dimensi duniawi, dan ada pula ilahi-spiritual. Kelihatan dimensi-dimensi ini saling bertentangan, akan tetapi keduanya saling melengkapi. Manusia hendaknya tidak hanya berkutat pada satu dimensi saja. Hal inilah yang hendak ditawarkan Tuhan melalui sabda-Nya hari ini. Berkaitan dengan mesianisme, Tuhan menghendaki agar kita tidak seperti orang Israel, yang melihat Mesias itu hanya dari dimensi duniawi saja dan mengabaikan dimensi rohani-spiritual. Atau seperti orang-orang Niniwe yang mengabaikan kemampuan ilahi dalam proses kesembuhan fisik ragawi. Tuhan ingin agar kita menjaga keseimbangan dimensi-dimensi itu dalam kehidupan kita.***
by: adrian

Kamis, 04 Juni 2015

Orang Kudus 4 Juni: St. Yakobus Viterbo

BEATO YAKOBUS VITERBO, USKUP & PENGAKU IMAN
Yakobus Cappoci lahir pada sekitar tahun 1255 di Viterbo, Italia. Ia adalah putera keluarga Cappoci yang terkenal. Yakobus bergabung dengan Ordo Agustinian pada sekitar tahun 1270 di Biara Tritunggal Mahakudus, Viterbo. Yakobus dikirim ke Paris untuk belajar, dan salah satu pengajarnya adalah Giles dari Roma, murid St. Thomas Aquino. Yakobus sempat kembali ke Italia setelah menyelesaikan pendidikannya, tetapi ia kembali ke Paris untuk melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 1293, Yakobus menyelesaikan pendidikannya dan mulai mengajar teologi.
Tahun 1300, Yakobus mengikuti kapitel di Naples. Di sana ia terlibat pertengkaran dengan Prior Jenderal, Agustinus dari Tarano, karena Yakobus membela seorang biarawan Jerman yang mendapat tuduhan. Kerendahan hati Yakobus dalam membela biarawan yang ia yakini tidak bersalah, membuatnya dikenal.
Pada September 1302, Yakobus ditunjuk oleh Paus Bonifasius VIII menjadi Uskup Beneveto, dan pada bulan Desember ia menjadi Uskup Agung Naples. Pada tahun 1303, Yakobus menerbitkan buku De Regimine Christiano. Sebaai Uskup Agung Naples, Yakobus mendirikan Katedral Naples.
Yakobus Viterbo meninggal dunia pada sekitar 1308 di Naples, Itaiia. Pada tahun 1911 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius X.
Baca juga riwayat orang kudus hari ini:

Mari Kendalikan Emosi

MENJADI “TUAN” ATAS EMOSI SENDIRI
Emosi, yang dimengerti sebagai perasaan marah yang meledak-ledak, biasanya muncul ketika kita mendapat tekanan yang melampaui batas kesabaran. Misalnya, seorang ibu sedang sibuk memasak di dapur pada jam 11.00, sementara jadwal makan siang jam 12.00. Sebelumnya ia mendapat berita dari anaknya di kota untuk segera kirim uang sekolah, sementara tagihan listrik belum bayar. Saat sibuk di dapur, anaknya bungsu rewel terus menerus. Dapatlah dipastikan emosi ibu ini akan mudah atau segera meledak.
Tentulah di antara kita pernah mengalami situasi seperti ibu di atas, entah di rumah, tempat kerja ataupun dalam kehidupan masyarakat. Kita menghadapi banyak tekanan, baik yang berasal dari luar diri kita maupun dari dalam diri sendiri. Di saat kita tak bisa lagi menahan tekanan itu, maka amarah akan terlihat. Amarah yang meledak-ledak ini dapat hanya berupa umpatan kata-kata, bisa juga berwujud tindakan, baik yang terarah kepada obyek kemarahan ataupun obyek pelampiasan.
Emosi yang tidak terkendali bisa berbahaya bagi orang lain dan juga diri sendiri. Karena itu, sangat diharapkan agar kita memiliki kemampuan mengendalikan emosi. Dibutuhkan tingkat kematangan dan kecerdasan emosi. Jauh lebih baik bila kita mengendalikan emosi daripada emosi yang mengendalikan kita.
Ada banyak buku menawarkan cara mengendalikan emosi. Intinya adalah emosi itu penting namun musti dikelola dengan baik dan benar. Kemampuan mengelola emosi dapat membantu kita meningkatkan kecerdasan emosi. Ada dua aspek cara peningkatan kecerdasan emosi, yaitu aspek personal dan aspek sosial.
A.   Aspek Personal
Peningkatan kecerdasan emosi ini berpusat pada diri sendiri. Artinya, kita melatih kecerdasan emosional dengan berangkat dari diri kita sendiri. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, seperti:
1.    Kenali Munculnya Emosi
Langkah awal untuk menjadi cerdas secara emosional adalah dengan mengenal diri kita secara lebih baik. Sadari reaksi tubuh kita ketika kita mulai merasakan emosi tersebut. Misalnya, jantung yang berdebar lebih keras atau tangan yang berkeringat saat hendak marah. Selain itu, kita juga perlu mengenal kapan dan hal-hal apa saja yang memicu rasa amarah, terutama emosi-emosi negatif yang mungkin akan berpotensi merusak. Jika kita sudah mengenalnya, segeralah mengendalikannya; jangan biarkan gejala-gejala itu bermuara pada amarah.
2.    Beri Kesempatan Otak Berpikir
Bagaimana otak memroses emosi? Informasi yang ditangkap oleh panca indera kita diterima dan disalurkan ke dua channel, yaitu ke bagian pengaturan emosi (amygdale) dan bagian berpikir (neocortex). Menariknya, proses penyampaian informasi ke amygdale berlangsung lebih cepat daripada proses ke neocortex.
Ketika kita merasakan emosi yang sangat kuat, amygdale akan segera mengambil alih otak kita dan mengambil tindakan untuk kabur, berkelahi atau mematung. Akibatnya, neocortex tidak sempat bekerja dan kita dapat menilai informasi dengan rasional. Proses ini, oleh Daniel Goleman, diberi istilah “pembajakan amygdale”. Inilah alasannya kenapa seringkali kita menyesal melakukan tindakan atau mengambil keputusan di saat emosi kita sedang intens.
Karena itu, ketika kita berada dalam kondisi yang mungkin memicu emosi yang intens, berhentilah. Berilah waktu pada otak kita untuk berpikir. Salah satu teknik manajemen emosi menyatakan bahwa berhenti melakukan apapun selama 6 detik memberi waktu yang cukup untuk membuat amygdale berhenti membajak otak berpikir kita.
3.    Fokus pada Apa yang Dapat Kita Kontrol
Seringkali hal-hal yang menganggu kita adalah hal-hal yang sebenarnya berada di luar kontrol kita. Atasan yang pemarah, rekan kerja yang ceroboh, jalanan yang macet atau anak yang rewel. Kita sering berpikir bahwa kita harus mengubah situasi supaya kita bisa merasa lebih baik, nyatanya kita tidak bisa melakukannya.
Lantas apa yang dapat kita buat? Fokuslah pada apa yang dapat kita lakukan. Alih-alih menunggu atasan kita untuk berubah menjadi tidak pemarah lagi, kita bisa memfokuskan diri untuk mengatur mood kita atau mengerjakan pekerjaan kita sebaik mungkin. Jangan terbawa emosi amarah atasan kita. Jadilah pengatur bagi emosi kita sendiri, jangan biarkan pihak luar mengatur emosi kita.