Sabtu, 30 Mei 2015

Renungan Hari Sabtu sesudah Pentakosta - Thn I

Renungan Hari Sabtu VII, Thn B/I
Bac I  Sir 51: 12 – 20; Injil        Mrk 11: 27 – 33;

Sabda Tuhan hari ini mau berbicara kepada kita tentang kebijaksanaan. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Putera Sirakh, penulis mengungkapkan madah syukurnya atas karunia kebijaksanaan yang dia terima. Bagi penulis, kebijaksanaan bagaimana harta yang tak ternilai, sehingga ia akan selalu berjuang mencarinya. Ada rasa sesal jika ia melalaikannya. Di sini penulis ingin mengajak pembacanya untuk juga berusaha mengejar kebijaksanaan dan menghormati mereka yang mengaruniakannya.
Dalam Injil hari ini kebijaksanaan terlihat pada diri Tuhan Yesus ketika Dia memberi jawaban kepada imam-imam kepala, para ahli Taurat dan tua-tua. Mereka bertanya tentang asal kuasa Yesus, yang “membersihkan” Bait Allah dari para pedagang dan penukar uang. Pertanyaan mereka dijawab dengan pertanyaan soal asal baptisan Yohanes. Para petinggi agama Yahudi itu tidak mau menjawab, sekalipun mereka tahu, karena jawaban itu dapat merusak reputasi mereka. Di sini terlihat bahwa demi kepentingan pribadi, orang rela mengorbankan kebenaran.
Kebijaksanaan merupakan suatu sikap yang terarah keluar dari diri sendiri. Orang yang bijaksana adalah orang yang mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi; berjuang demi kebenaran sekalipun kebenaran itu menyakitkan diri sendiri. Sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk senantiasa bersikap bijaksana. Tuhan menghendaki agar kita selalu memperjuangkan kebenaran. Kebijaksanaan tidaklah berasal dari diri kita sendiri. Dia dapat datang dari siapa saja, meski sumber utama kebijaksanaan adalah Tuhan. Kita diminta untuk menaruh hormat kepada mereka yang telah mengajarkan kita kebijaksanaan.***
by: adrian

Jumat, 29 Mei 2015

Akibat Mabuk Berat

Romo Yosef dan Romo Anto baru saja mengikuti acara pesta perak imamat Rm. Agus di keuskupan. Dalam acara itu mereka banyak minum sehingga mabuk. Meski sudah ditawari untuk bermalam di keuskupan, keduanya ngotot ingin pulang. Dengan meminjam mobil keuskupan, malam itu juga mereka pulang.
Ketika mau masuk garasi pastoran, Rm. Yosef mulai berteriak, “To, depan tu ada dinding. Awas, ada dinding! Dinding itu…., hati-hati! Stooooop…!!”
“Baaaaam!” Mereka menabrakkan mobilnya ke dinding sehingga bemper depan mobil penyok.
Keesokan harinya, keduanya duduk sarapan bersama.
Rm. Yosef   : Habislah kita dimarahi Bapak Uskup. Mobilnya rusak parah.
Rm. Anto     : Paling mereka tagih biaya perbaikan.
Rm. Yosef     : Kamu payah sih. Padahal aku sudah teriak padamu untuk hati-hati. Kenapa kamu tak mau dengar?
Rm. Anto     : Dengar gimana? Kan yang nyetir mobil kamu!
Rm. Yosef   : &#@$%*&@#????
edited by: Adrian
Baca juga humor lainnya:

Renungan Hari Jumat sesudah Pentakosta - Thn I


Renungan Hari Jumat VII, Thn B/I
Bac I  Sir 44: 1, 9 – 13; Injil                Mrk 11: 11 – 26;

Kitab Putera Sirakh, yang menjadi bacaan pertama hari ini, menampilkan refleksi penulis atas kehidupan orang-orang terdahulu. Di sini Putera Sirakh hendak menanamkan suatu sikap kepada pembacanya untuk menghormati para leluhur yang termasyhur hidupnya dan meninggalkan warisan baik kepaa keturunannya. Dengan kata lain, penulis kitab ini mau mengajak mereka untuk meneladani hidup mereka. Meneladani hidup mereka merupakan salah satu wujud penghormatan atas mereka.
Sikap yang diajarkan penulis Kitab Putera Sirakh, tidak terdapat pada orang-orang Yahudi di Yerusalem. Mereka tidak menaruh rasa hormat atas Bait Allah. Bait Allah yang seharusnya dihormati sebagai tempat doa, dijadikan mereka sebagai tempat berjualan. Karena itulah, Tuhan Yesus marah dan mengusir mereka dari dalam Bait Allah. Di sini Tuhan Yesus menghendaki supaya orang-orang menaruh rasa hormat kepada Bait Allah sebagai tempat kudus.
No man is an island. Demikian bunyi pepatah Inggris, yang berarti tidak ada manusia hidup seorang diri. Manusia adalah makhluk sosial. Kesosialannya membuat ia bersentuhan dengan orang lain, baik itu dari lingkar terdalam (keluarga) maupun lingkar luar, yaitu masyarakat. Orang lain ini memiliki banyak peran dalam perkembangan hidup setiap orang. Kita tidak mungkin berkembang dari diri kita sendiri. Ada banyak manusia yang berjasa di dalamnya. Untuk itu, kita diminta untuk menaruh rasa hormat kepada mereka. Inilah pesan dari sabda Tuhan hari ini. Menghormati mereka dapat dilakukan dengan cara mengikuti teladan baik mereka.***
by: adrian