Kamis, 09 Januari 2014

Renungan Hari Kamis sesudah Penampakan

Renungan Hari Kamis sesudah Penampakan, Thn A/II
Bac I   : 1Yoh 4: 19 – 5: 4; Injil    : Luk 4: 14 – 22a

Bacaan pertama hari ini masih senada dengan yang kemarin, yaitu tentang penegasan bahwa Allah adalah kasih. Di sini Yohanes kembali mengingatkan bahwa dasar kita hidup dalam kasih adalah “karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (ay. 19). Yohanes merujuk pada perintah Sang Guru bahwa mengasihi Allah harus terlihat dalam mengasihi sesama.

Dalam Injil, Lukas memperlihatkan pemenuhan nubuat Nabi Yesaya dalam diri Yesus. Dalam nubuat tersebut terlihat wujud kasih Allah yang ditampilkan oleh Yesus: warta gembira bagi kaum miskin (ay. 18), pembebasan bagi para tawanan dan kaum tertindas serta penglihatan bagi orang buta (ay. 19). Di sini Lukas mau mengajak pembacanya untuk menerima Yesus sebagai wujud kasih Allah.

Sabda Tuhan hari ini mau mengingatkan kembali akan perintah kasih yang sudah disampaikan Yesus Kristus. Di sini Tuhan menghendaki supaya kita hidup saling mengasihi satu sama lain sebagai ungkapkan kasih kita kepada Tuhan. Adalah ironis jika kita mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan, namun dalam kehidupan kita membenci atau berlaku kasar kepada sesama; apalagi dengan mengatasnamakan Tuhan.

by: adrian

Rabu, 08 Januari 2014

Renungan Hari Rabu sesudah Penampakan

Renungan Hari Rabu Biasa sesudah Penampakan, Thn A/II
Bac I   : 1Yoh 4: 11 – 18; Injil      : Mrk 6: 45 – 52

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari surat Yohanes yang pertama, Yohanes menegaskan bahwa Allah adalah kasih. Salah satu wujud kasih Allah adalah kehadiran-Nya di dunia ini dalam diri Yesus Kristus. Kehadiran Yesus menunjukkan kepada umat manusia bahwa Allah peduli dan mengasihi umat-Nya. Karena itulah Yohanes mengajak kita untuk membalas kasih Allah itu dengan hidup saling mengasihi.

Jika kita hidup dalam kasih, maka kita tidak perlu merasa takut. Yohanes berkata, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (ay. 18). Inilah yang digambarkan Markus dalam injilnya. Para murid yang terkatung-katung di tengah danau karena angin sakal, merasa ketakutan ketika melihat Yesus menghampiri mereka. Mereka takut karena tidak ada kasih dalam diri mereka sekalipun Yesus sudah menunjukkan kasih kepada mereka. Ini bisa terjadi karena “hati mereka tetap degil.” (ay. 52).

Sabda Tuhan hari ini mau menyadarkan kita bahwa Allah telah mengasihi kita dalam diri Yesus Kristus. Tuhan menghendaki supaya kita hidup dalam kasih-Nya dengan saling mengasihi satu sama lain. Kita tak perlu ragu akan kasih Allah itu. Jangan bersikap seperti para murid dalam Injil. Dengan keyakinan bahwa Allah telah mengasihi, maka kita bertanggung jawab untuk juga hidup dalam kasih.

by: adrian

Pencitraan di Balik Kenaikan Harga Gas

Tahun baru 2014 rakyat Indonesia mendapat kado istimewa dari pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, yaitu BPJS dan kenaikan harga gas elpiji 12 kg. Kenaikan harga yang melangit membuat rakyat kecil, khususnya Usaha Kecil Menengah, menjerit. Aksi protes pun terjadi di mana-mana. Ada yang demo, ada pula yang melakukan aksi membuang tabung gas elpiji ke tempat sampah.

Akhirnya harga gas elpiji diturunkan sehingga rakyat sedikit bisa bernafas lega. Namun ada dua hal yang menarik dari berita turunnya harga gas elpiji tersebut. Pertama, baik menteri maupun kader Partai Demokrat mengatakan bahwa setelah mendengar aspirasi rakyat, akhirnya pemerintah (SBY) menurunkan harga gas elpiji. Sebuah pernyataan yang sangat indah di telinga, seolah-olah SBY begitu peduli dengan nasib rakyat. Lagi-lagi tudingan pencitraan meruak. Hal ini tidaklah aneh, karena memang SBY suka sekali dengan politik pencitraan. Maklum, tahun 2014 adalah tahun PEMILU.

Hal menarik yang kedua adalah bahwa SBY tidak tahu soal kenaikan harga gas elpiji 12 kg. Ketidaktahuan SBY ini bermakna bahwa dirinya tidak diberitahu. Jadi, karena tidak diberitahu, makanya SBY tidak tahu. Hal ini sungguh menarik perhatian orang, khususnya para pengamat politik. Banyak orang merasa aneh, koq urusan ini tidak dilaporkan kepada presiden supaya yang bersangkutan tahu. Dari sini muncul penilaian kalau komunikasi di antara presiden dan bawahannya tidak berjalan dengan baik.

Akan tetapi, melihat reaksi Menteri BUMN, Dahlan Ikhsan, banyak orang merasa tak yakin kalau SBY tidak tahu. Orang lantas menilai kalau PERTAMINA dan Dahlan Ikhsan telah dijadikan korban politik pencitraan. Maklum, sosok Dahlan Ikhsan adalah sosok pekerja, bukan politikus. Beliau tidak mau dipusingkan dengan urusan politik, yang penting baginya adalah bekerja untuk kepentingan nusa dan bangsa.

Karena itulah, menjadi pertanyaan kita sekarang adalah apakah memang SBY tidak tahu soal kenaikan harga gas elpiji atau memang pura-pura tidak tahu. Dari uraian di atas, dapatlah dikatakan bahwa kecil kemungkinan kalau SBY tidak tahu soal hal itu. Kemungkinan besarnya adalah SBY pura-pura tidak tahu. Setelah mengetahui reaksi dari rakyat, barulah SBY tampil bak pahlawan untuk menyelamatkan rakyatnya.

Atau, kemungkinan lain lagi, SBY memang tidak mau tahu. Sepertinya salah satu sikap SBY adalah tidak mau tahu. Salah satu contoh adalah ketika SBY ditanya oleh salah seorang peserta pertemuan East Asian Summit 2013 tentang kemacetan di Jakarta, SBY menjawab kalau dirinya tidak tahu; lantas menyuruh penanya untuk langsung bertanya ke Gubernur DKI Jakarta. Di sini tampak bahwa SBY tidak mau tahu urusan DKI Jakarta, meski dirinya bekerja di Jakarta, dan melemparkan urusan itu ke pemerintah daerah. (Tentang hal ini lihat di sini)

Nah, demikian pula halnya dengan masalah kenaikan gas elpiji 12 kg ini. Bukan tidak mungkin SBY tidak mau tahu dengan urusan ini. Toh masa pemerintahannya tinggal beberapa bulan lagi. Daripada sibuk mengurus negara, mendingan mengurus partai yang terus didera kasus korupsi. Elektabilitas partai pun tidak memuaskan.

Kepastian soal sikap SBY ini: tidak tahu, pura-pura tidak tahu atau memang tidak mau tahu, hanyalah Tuhan dan SBY saja yang tahu. Sekalipun SBY dengan lantang mengatakan bahwa dirinya SUNGGUH tidak tahu, sebagian besar rakyat sudah tidak percaya. Rakyat Indonesia bukan orang bodoh lagi. Banyak rakyat sudah pintar. Mereka tahu kalau politikus itu pembual; lain di bibir lain pula di hati dan di lapangan. Karena itulah, masalah ini diserahkan kepada hati nurani yang bersangkutan.
Jakarta, 7 Januari 2014
by: adrian