Sabtu, 03 Agustus 2013

Pastor Paroki ala Jokowi

ANDAI PASTOR PAROKI SEPERTI JOKOWI: SEBUAH MIMPI
Jokowi (plus Ahok) memang fenomenal. Hadirnya Jokowi dalam kampanye pemilihan Gubernur DKI hingga tampilnya sebagai orang nomor satu di Jakarta itu sungguh menyedot perhatian banyak orang, bukan saja di dalam negeri melainkan juga di luar negeri. Banyak orang senang, simpati dan menaruh harapan perubahan pada wajah ibukota negara ini. Semua rasa dan asa itu diletakkan di pundak Jokowi (plus Ahok), karena kepribadian dan kinerja mereka sungguh mendukung terwujudnya rasa dan asa rakyat itu.

Kehadiran Jokowi juga menyita perhatian saya. Karena begitu kagum pada sosok Jokowi ini, sampai-sampai terbawa ke alam mimpi. Yah, saya pernah bermimpi soal Jokowi ini. Tapi mimpi itu bukan tentang Jokowi dan Jakarta, melainkan sosok Jokowi yang merasuk dalam sanubari pastor paroki. Yang menjadi landasan mimpi saya adalah pertanyaan, bagaimana seandainya Pastor Paroki seperti Jokowi dalam mengelola paroki dan karya pastoral.

Jawaban atas pertanyaan itu menghadirkan 7 adegan dalam mimpiku, mirip dalam tayangan film. Inti dari 7 adegan itu adalah perubahan. Yah, sebagaimana Jokowi membawa asa akan Jakarta Baru, demikian pula pastor paroki dapat menghadirkan perubahan dalam wajah parokinya.  Perubahan apa saja?
1.      Seperti Jokowi yang mau berbagi peran dengan rekannya (Basuki Tjahaya Purnama, selaku wakil gubernur), demikian pastor paroki mau menyerahkan sebagian urusan paroki kepada rekannya (pastor pembantu atau asisten). Bukan tampil sebagai single fighter. Sikap  single fighter dapat menimbulkan kebingungan dan frustasi bagi rekan kerjanya dan banyaknya program yang terbengkelai. Jika program terbengkelai, yang menjadi korban adalah umat.

2.      Seperti Jokowi yang mau transparan dalam laporan keuangan dan hal-hal lain terkait dengan uang, demikian pula pastor paroki mau transparan dalam laporan keuangan paroki. Jangan hanya pastor paroki dan bendahara paroki saja yang tahu keuangan paroki, sementara umat bahkan pastor pembantu pun tidak sama sekali. Harus dipegang prinsip ini: Cinta akan uang merupakan akar kejahatan (1Tim 6: 10). Dan setiap manusia (termasuk para imam, bahkan uskup sekalipun) sangat rentan terhadap godaan uang.

3.      Seperti Jokowi yang mau ‘blusukan’ menemui warganya, bahkan yang miskin, demikian juga pastor paroki mau mengunjungi umatnya. Bukan enak-enakan saja di “istana”nya dengan tablet di hadapannya dan Galaxy Note II di telinga. Dan yang dikunjungi itu bukan cuma umat yang kaya, yang selalu mengantar makanan ke pastoran atau mengisikan pulsa, melainkan juga umat miskin sederhana.

4.      Seperti Jokowi yang tanggap akan masalah, demikian pula pastor paroki akan segera menyelesaikan masalah yang ada. Bukan dengan menumpuk masalah dan membiarkan waktu yang menyelesaikannya. Di sini dibutuhkan sikap tegas dan kemauan untuk berbagi dengan orang-orang yang berkompeten.

5.      Seperti Jokowi yang peduli pada rakyat miskin dengan mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat (misalnya Kartu Jakarta Sehat dan rumah susun) demikian juga pastor paroki harus memiliki option for the poor lewat karya pastoralnya. Bukan cuma sibuk mengurus misa, misa dan misa dengan menekankan kolekte kepada umat. Jangan hanya menumpuk uang dan kekayaan untuk diri sendiri dan keluarga. Yang harus diingat dan disadari adalah umat bukan sapi perah bagi pastor.

6.      Seperti Jokowi yang ramah kepada siapa saja (orang miskin, biasa atau kaya, pejabat, buruh, pedagang PKL, dll) demikian pula hendaknya pastor paroki kepada umatnya. Jangan pilih kasih dalam bersikap ramah. Jangan hanya ramah dan tersenyum dengan wanita cantik dan orang kaya saja sementara yang lain dipasang wajah bulldog. Senyum itu untuk semua umat. Sama seperti perintah kasih Yesus, hendaknya sikap ramah dan senyum itu ditujukan kepada sesama kita, bahkan orang yang membenci kita.

7.      Seperti Jokowi yang bisa bertindak tegas terhadap bawahannya yang kerja tidak benar, demikian juga pastor paroki hendaknya tegas kepada karyawan yang tidak benar dalam kinerjanya. Bukan dengan diam membiarkan sehingga sebuah kesalahan dan pelanggaran menjadi kebiasaan. Hal ini akan menjadi beban tersendiri bagi calon pastor paroki yang baru.

Demikianlah resensi dari ketujuh adegan mimpi saya. Jika semua itu terwujud, bukan tidak mungkin akan ada perubahan pada wajah paroki dan, seperti Jokowi yang disenangi dan dicintai rakyatnya, demikian pula pastor paroki akan disenangi dan dicintai umatnya.

Dapatkan semua ini terwujud? Maaf, ini hanyalah sebuah mimpi.
Moro, 21 Maret 2013

by: adrian

(Inspirasi Hidup) Bodoh tapi Bijak

SEORANG PEDAGANG KAYA & PELAYAN BODOH
Di sebuah daerah hiduplah seorang pedagang kaya. Ia mempunyai seorang pelayan yang sangat lugu, sehingga orang menyebutnya bodoh.

Suatu hari, si pedagang berkata pada pelayannya untuk pergi ke sebuah desa yang miskin untuk menagih hutang dari para penduduknya. "Hutang mereka sudah terlalu banyak," kata pedagang itu.

"Baiklah, tuan," jawab si bodoh. "Tetapi apa yang akan anda lakukan terhadap uang itu nantinya?"

"Belikan sesuatu yang tidak aku punya," jawab si pedagang.

Kemudian pelayan bodoh itu pergi ke desa. Ia menagih hutang satu demi satu dari para penghuni desa. Penghuni desa itu sangat miskin dan desa mereka baru saja menderita karena kemarau panjang.

Akhirnya, si pelayan bodoh menyelesaikan tugasnya. Di perjalanan pulang ia mengingat perintah tuannya, "belikan sesuatu yang tidak aku punya."

"Apa, ya? Tuanku sangat kaya, bukankah ia sudah memiliki segalanya?" pikir si bodoh.

Setelah berpikir beberapa saat, si bodoh menemukan jawabannya. Ia kembali ke desa itu dan ia membagikan uang yang baru saja ia kumpulkan kepada para penghuni desa.

"Tuanku memberikan uang ini untukmu." katanya. Para penghuni desa sangat gembira. Mereka memuja kebaikan si pedagang itu.

Saat si bodoh pulang ke rumah dan melaporkan apa yang sudah ia lakukan, si pedagang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar sangat bodoh," ia mengeluh.

Waktu berlalu. Terjadilah sesuatu yang tidak diperkirakan. Pergantian pemimpin karena pemberontakan dan bencana banjir menghancurkan usaha pedagang itu.

Pedagang itupun bangkrut. Ia meninggalkan rumahnya dan hanya si bodoh yang mengikuti dirinya. Saat sampai di sebuah desa, entah mengapa, para penduduk desa menyambut mereka dengan ramah dan hangat. Mereka menyediakan sebuah tempat dan makanan untuk si pedagang.

"Siapa para penghuni desa ini? Dan mengapa mereka menolongku?" tanya si pedagang.

"Sebelumnya, tuan mengatakan padaku untuk menagih hutang dari para penduduk miskin desa ini." jawab si bodoh. "Tuan memintaku untuk membelikan sesuatu yang tuan tidak miliki. Aku pikir, tuan sudah mempunyai segalanya. Satu-satunya yang tuan tidak punya adalah cinta dari hati mereka. Kemudian aku mengembalikan uang itu atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.

Kadang kita tidak menyadari, orang-orang yang kita pikir tidak penting, menjadi orang yang menolong kita di saat sulit. Sadarilah itu! Jangan lupakan sesamamu, karena tidak peduli seberapa kecil kebaikanmu, suatu hari kamu akan menuai berkahnya.
Baca juga refleksi lainnya:

Jumat, 02 Agustus 2013

Tugas Gereja

TRITUGAS GEREJA KATOLIK YANG UTAMA
Dalam kehidupan kita, gereja mempunyai tiga tugas penting sebagai usaha melanjutkan karya Kristus dan merangkul kita semua, yakni: tugas sebagai nabi, tugas imani, dan tugas rajawi. Tugas imani merupakan tugas pengudusan, tugas sebagai nabi merupakan tugas pewartaan, dan tugas rajawi merupakan tugas melayani yang diartikan dalam Konsili Vatikan II. Tugas-tugas tersebut disebut juga sebagai Tritugas Gereja. Berikut penjelasannya.

Tugas Mewartakan
Gereja pada dasarnya tidak lain dan tidak bukan adalah jawaban atas panggilan Yesus Kristus sebagai sabda Allah. Dengan adanya Gereja, Yesus Kristus bisa hadir di antara kita semua. Hal inilah yang menyebabkan Gereja disebut sebagai Sabda. Dalam hal ini gereja dipandang sebagai pewarta dari arti yang luas. Selain tugas sebagai pewarta di dunia, Gereja juga memiliki bentuk-bentuk sabda. Ketiga bentuk sabda Allah dalam Gereja, yaitu: (1) sabda para rasul sebagai daya yang membangun Gereja; (2) sabda dalam Kitab Suci sebagai kesaksian normatif; dan (3) sabda Allah dalam pewartaan aktual Gereja sepanjang zaman.

Gereja juga berkarya dalam hal magisterium atau wewenang dalam mengajar. Hal ini muncul dari adanya konflik dari umat yang sering terjadi dengan para umat sendiri dan/ataupun  dengan para pemimpin Gereja, terutama dalam hal wewenang dan pengajaran. Itulah yang menyebabkan munculnya tugas hierarki di mana tugasnya adalah sebagai pemersatu. Wewenang mengajar dalam Gereja Katolik tidak berarti bahwa hanya ada dalam lingkungan hierarki yang menjadi aktif, tetapi juga diharapkan dari pihak yang berlawanan. Pengajaran dalam agama tidaklah sembarangan. 

Untuk mengajar atau mewarta harus memenuhi empat syarat, yaitu:
-       Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan,
-       Harus bersifat ajaran yang otentik,
-       Dinyatakan dengan tegas dan defenitif, dan
-       Disepakati bersama.

Adapun dalam Gereja Katolik yang disebut dengan teologi, di mana tugas teologi adalah mengadakan penelitian lebih mendalam sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang pewahyuan, jawaban atas persoalan atau masalah yang timbul dari kemajuan ilmu pengetahuan, dll. Teologi ada untuk menjelaskan sesuatu dalam agama sehingga suatu hal atau ajaran dapat diterima secara rasional. Dapat dikatakan bahwa teologi berada di antara ilmu pengetahuan dan agama.

Adapun hal lain yang perlu diketahui bahwa tugas hierarki berbeda dengan tugas teologi. Hierarki mempunyai tugas struktural dalam dalam Gereja demi kesatuan Gereja, sedangkan teologi bertugas merumuskan iman sesuai dengan situasi kehidupan Gereja dan tuntutan zaman. Oleh karena menjadi pewarta merupakan suatu panggilan maka kita dituntut dengan adanya penyesuaian ekstensial antara pewarta dengan apa yang diwartakan. Secara khusus tugas pewarta ini merujuk kepada golongan imam dan biarawan-biarawati yang dengan status hidup mau memberikan kesaksian tentang kebenaran injil.

 Tugas Menguduskan
Tugas Gereja yang kedua ini lebih khusus mengarah kepada kegiatan-kegiatan dalam Gereja, seperti: doa-doa, sakramen-sakramen dan ibadat-ibadat. Dalam tugasnya, Gereja selalu dibimbing oleh Roh Kudus, “Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam Kristus, sebagai prinsip kesatuan Gereja”(UR 2). Kesatuan Gereja bukan hanya karena karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antar manusia, terutama komunikasi iman. Sarana komunikasi iman dalam Gereja adalah pengungkapan iman. Yang termasuk dalam pengungkapan iman adalah perayaan liturgi, perumusan iman dan perayaan iman.
  • Doa-doa dalam Gereja Katolik
Dalam Gereja Katolik dibedakan antara doa pribadi dan doa bersama. Doa pribadi disebut juga sebagai “doa di dalam Gereja”, sedangkan doa bersama biasa juga disebut “doa Gereja”. Doa sendiri berarti bahwa mengarahkan hati kepada Tuhan. Dalam berdoa tidak membutuhkan banyak kata, tidak perlu sikap badan yang bagus dan baik, serta gerakan-gerakan yang khusus. Hal ini demikian karena yang berdoa adalah hati kita, bukan badan.

Salah satu bentuk doa Gereja adalah liturgi. Liturgi tidak hanya merupakan kegiatan yang istimewa, tetapi juga wahana utama untuk mengatur umat Kristen ke dalam persatuan pribadi dengan Kristus.

Inti pokok dari doa adalah kesatuan pribadi dengan Putra dan dalam penyerahan-Nya kepada Bapa. Maka dari itu, dalam Gereja Katolik kita selalu berdoa, “Dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus”. Selain itu, liturgi juga bukan hanya pujian kepada Tuhan, tapi karena kemuliaan Allah tidak pernah lepas dari segi lain dari iman. Liturgi selalu mempunyai dua segi, yaitu: segi kemuliaan Allah dan segi manusia.

Jadi liturgi bukanlah tontonan bagi kita, tapi liturgi merupakan perayaan dalam hidup rohani kita. Melalui perayaan yang kita laksanakan kita manusia pun turut ambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Seperti tertulis: “Di mana ada dua atau tiga orang yang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. 
  • Sakramen
Sakramen menjadi bagian dalam tugas Gereja karena sakramen itu sendiri merupakan rahmat yang tidak kelihatan dalam bentuk yang kelihatan dan ditawarkan kepada kita. Gereja Katolik menetapkan ada tujuh sakramen dalam gereja, yaitu: baptis, tobat, ekaristi, krisma, imamat, perkawinan, dan minyak suci. Sakramen sendiri berawal dari praktik dan ritus-ritus dalam Gereja perdana pada awalnya, namun belum ada penetapan pada saat itu bahwa itulah yang ketujuh sakramen tersebut.

Dalam sakramen, cinta kasih Allah disampaikan secara konkret melalui tanda-tanda badaniah kepada kita. Hal nyata yang dapat kita lihat adalah pada saat pembaptisan. Seorang imam akan menuangkan air kepada si penerima sebagai tanda sambil berkata, “Aku membabtis engkau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus”. Perbuatan itu melambangkan peristiwa penyelamatan yang  dilaksanakan oleh Allah Tritunggal melalui imam menjadi nyata. Hal ini juga berlaku pada keenam sakramen lainnya sebagai sarana bagi kita. 
  • Sakramentali
Sakramentali adalah tanda-tanda suci yang memiliki kemiripan dengan sakramen-sakramen. Sakramentali juga menandakan karunia-karunia khususnya yang bersifat rohani, yang diperoleh berkat doa permohonan Gereja (SC 60). Sakramen dan sakramentali tidaklah sama. Sakramen merupakan pelaksanaan diri Gereja dalam bidang perayaan dan semuanya menyangkut Gereja, sedangkan sakramentali lebih bersifat khusus yang artinya bahwa ia perwujudan dari doa Gereja bagi orang tertentu. Namun perlu diketahui bahwa sakramentali bukanlah perwujudan kehadiran Kristus dalam Gereja melainkan dalam bentuk permohonan Gereja yang konkret. 

Tugas Melayani
Gereja selain memiliki tugas sebagai pewarta dan pengudusan, juga memiliki tugas dalam hal melayani. Tugas inilah yang paling mendasari semuanya. Seperti Yesus yang melayani pada waktu perjamuan malam terakhir, maka Gereja pun ingin mengikuti tradisi tersebut sebagai pelayan di zaman sekarang ini. Tugas melayani ini banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sekarang. Entah itu sebagai pelayan dalam ibadat rukun maupun pelayan dalam ekaristi.

Contoh konkret yang dapat kita bilaan adalah pada imam yang adalah pelayan Gereja. Seorang imam harus ikhlas dalam melayani setiap umat yang datang. Bukan saja imam tapi kita pun dituntut untuk berlaku demikian. Dalam usaha pelayanan janganlah yang lain menjadi objek belas kasihan. Pelayanan berarti kerjasama, di mana di dalamnya semua orang merupakan subjek yang ikut bertanggung jawab. Yang pokok adalah harakat, martabat, harga diri, bukan kemajuan dan bantuan sosial-ekonomis yang hanyalah sarana.

Dalam melayani, Gereja Katolik memiliki beberapa ciri antara lain: Pertama, sikap iman yang radikal harus dinyatakan dalam pelayanan terhadap sesama, seperti yang ada dalam hukum kasih bahwa kita mesti mencintai sesama kita. Kedua, kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan guru. Dan ketiga ialah mengambil bagian dalam sengasara dan penderitaan Kristus yang telah senasib dengan semua yang menderita.