Selasa, 19 Maret 2013

Orang Kudus 19 Maret: St. Yusuf

Santo Yusuf, suami maria
Semua pengetahuan kita tentang Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria dan ‘ayah piara’ Yesus, Putera Allah, bersumber pada dua bab pembuka dari Injil Mateus dan Lukas. Secara hukum, Yusuf dianggap sebagai ayah Yesus. Karena Yusuf adalah keturunan Raja Daud, maka Yesus dianggap juga sebagai turunan Raja Daud. Yesus lalu disebut Putera Daud.

Hubungan Yusuf dan Maria lebih daripada suatu hubungan pertunangan. Hubungan mereka merupakan suatu hubungan perkawinan yang yang sah, walaupun pada mulanya mereka tidak pernah hidup sebagai suati istri. Kira-kira selama satu tahun, mereka tidak pernah hidup bersama di bawah satu atap. Ketika Maria mengandung secara ajaib oleh kuasa Roh Kudus, Yusuf bingung dan bermaksud meninggalkan Maria secara diam-diam. Namun Yusuf yang saleh itu tidak percaya akan godaan kebingungan dan kecurigaan terhadap Maria yang sedang hamil itu. Mateus dalam Injilnya mengatakan bahwa Yusuf memutuskan untuk “meninggalkan Maria secara diam-diam.” (Mat 1: 19).

Sehubungan dengan itu, selanjutnya Mteus mengatakan bahwa Allah mengutus seorang malaikat untuk menerangkan kepada Yusuf bahwa anak yang ada di dalam rahim Maria sesungguhnya berasal dari Roh Kudus. Oleh kunjungan malaikat Allah itu dan setelah merenungkan pesan yang disampaikan, Yusuf tanpa ragu-ragu mengambil Maria sebagai isterinya dan mulai tinggal serumah (Mat 1: 24). Untuk menghindari salah pengertian, Mateus selanjutnya mengatakan bahwa Yusuf bukanlah ayah kandung Yesus. Mateus berkata, “Ia tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki.” (Mat 1: 25).

Kata ‘sampai’ yang digunakan Mateus menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sebelum Maria melahirkan anaknya. Kata itu pun tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, Yusuf bersetubuh dengan Maria. Kata-kata ‘anaknya laki-laki’, bahkan dikatakan ‘anaknya yang sulung’ (Luk 2: 7) juga tidak berarti bahwa Maria mempunyai beberapa orang anak. Istilah itu adalah suatu istilah yang lazim dan sah untuk menamai setiap anak laki-laki pertama yang lahir dari suatu perkawinan, meskipun anak itu tidak mempunyai saudara dan saudari. Lukas dalam bab kedua Injilnya menyebut Yusuf dan Maria sebagai orang tua Yesus (Luk 2: 27).

Menurut Mateus, Yusuf adalah seorang tukang kayu (Mat 13: 55) tentang riwayat hidupnya tudak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus tampil di depan umum untuk memulai karya-Nya. Karena ia tidak pernah disebut-sebut lagi selama kurun waktu penampilan Yesus itu. Salah satu bukti biblis untuk menunjukkan hal ini dapat ditemukan di dalam lukisan Penginjil Yohanes tentang peristiwa penyerahan Maria kepada Yohanes, murid kesayangan Yesus: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19: 26 – 27). Teks ini menunjukkan bahwa pada waktu itu Maria sudah menjanda.

Cerita-cerita apokrif purba menggambarkan Yusuf sebagai seorang lelaki yang sudah tua, bahkan tua sekali. Cerita itu mau melukiskan bahwa pada waktu itu tak seorang pun menganggap Yusuf sebagai ayah kandung Yesus. Sebaliknya, kehamilan Maria dianggap sebagai suatu peristiwa yang memalukan bahkan merupakan skandal karena Yusuf suaminya dikatakan sudah tua sekali.

Cerita purba itu pun melukiskan Yusuf sebagai duda yang mempunyai enak orang anak dari perkawinannya yang pertama. Kisah ini dimaksudkan untuk menerangkan bagian Injil yang melukiskan tentang ‘saudara-saudara Yesus’ (Mat 12: 46; Yoh 2: 12; 7: 10). Keterangan yang sebenarnya ditemukan dalam makna kata bahsa Aram yang digunakan Yesus dan murid-murid-Nya. Bahasa Aram menggunakan kata yang sama untuk melukiskan saudara-saudara dan sepupu-sepupu, dan para engarang Injil mengetahui bahwa hal ini akan berarti dan dipahami oleh umat yang menjadi tujuan penulisan Injil bila mereka menunjuk kepada ‘saudara-saudara Yesus.’

Yusuf dan Maria benar-benar menikah. Mereka memiliki hak-hak perkawinan secara penuh satu terhadap yang lain seperti lazimnya suami isteri, walaupun mereka sendiri tidak menggunakan hak-hak itu. Alasan pokok teologis kenapa Yesus dilahirkan dari seorang perawan adalah bahwa Pribadi Kedua dalam Tritunggal Mahakudus itu telah ada sejak kekal. Kelahiran-Nya sebagai manusia melalui rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi seorang anggota umat manusia dalam sebuah keluarga manusia. Yusuf – meskipun bukan ayah Yesus dalam arti fisik – dihubungkan dengan Yesus oleh persatuan rohaniah seorang ayah, kewibawaan dan pelayanan. Yesus termasuk anggota keluarga Yusuf dan hubungan itu diungkapkan dengan menggambarkan Yusuf sebagai atah piara bahkan ayah Yesus yang sah.

Devosi kepada Santo Yusuf tidak dikenal di dalam Gereja selama berabad-abad. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu kekuatiran bahwa tekanan yang berlebihan pada kedudukan Yusuf dapat menimbulkan anggapan umum bahwa Yusuf adalah ayah kandung Yesus. Dalam praktek sekarang Gereja menghormati Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus, Putera Allah.

Paus Pius IX (1846 – 1878) pada tanggal 8 Desember 1870 menetapkan Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal. Dalam litani Santo Yusuf, Yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh/karyawan, keluarga, para perawan, orang-orang sakit dan orang-orang yang telah meninggal. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapak-bapak keluarga, imam-imam dan kaum religius serta pelindung para peziarah.

Pada tahun 1937, Paus Pius XI (1922 – 1939) mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik. Dan pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII (1958 – 1963) memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf sendiri mulai dimasukkan dalam Kanon Misa pada tahun 1962.

Pada abad kedelapan dan kesembilan, tanggal 19 Maret ditentukan sebagai Hari Raya utama Santo Yusuf. Pada tahun 1955, Paus Pius XII (1939 – 1958) memaklumkan pesta Santo Yusuf Pekerja yang dirayakan pada tanggal 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai seorang pekerja dan untuk menyatakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Senin, 18 Maret 2013

(Inspirasi Hidup) Yang Mustahil Menjadi Nyata

YANG MUSTAHIL MENJADI NYATA
Siapa yang tak kenal dengan Wright bersaudara? Di tahun 1900, Wright bersaudara sudah mengajukan kemungkinan orang dapat terbang. Tanggapan sinis dan keraguan menyerang mereka bahwa manusia tidak dapat terbang. Memang keraguan itu beralasan, karena manusia terbang bertentangan dengan hukum alam. Yah, manusia sebagai manusia memang tidak dapat terbang, namun manusia dapat membuat sarana yang memungkinkan dirinya untuk terbang. Inilah yang mau ditunjukkan oleh Wright bersaudara.

Mereka mengawali dengan percobaan demi percobaan. Bukan sekali percobaan langsung jadi. Banyak sekali percobaan mereka yang gagal. Tapi Orville Wright dan Wilbur Wright tidak menyerah pada visi mereka.  Mereka mempersiapkan segala risikonya jika percobaan mereka gagal, seperti mereka menyiapkan landasan darurat di pantai berpasir yang lebih aman.

Setelah melalui berbagai percobaan dan kegagalan, maka pada 17 Desember 1903, di pagi hari yang cerah, mereka berhasil mengubah kemungkinan menjadi kenyataan. Dari percobaan yang berulang kali gagal, Wright bersaudara akhirnya berhasil menorehkan sejarah penerbangan dunia untuk pertama kalinya. Meski hanya bisa melayang setinggi 10 kaki selama 12 detik, tetapi percobaan mereka merupakan fondasi penemuan pesawat terbang. Soal tinggi dan waktu bukanlah menjadi tujuan. Dengan prestasi ini Wright bersaudara mau menunjukkan bahwa suatu kemungkinan bisa menjadi kenyataan dengan kerja keras dan ketekunan.

Dalam kehidupan ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang menjadi pilihan. Setiap kemungkinan selalu disertai dengan halangan bahkan resiko. Kemungkinan itu bukanlah tujuannya. Tujuan itu ada di belakang kemungkinan itu. Dan di depan kemungkinan sudah ada hambatan dan resiko. Jika Anda dapat melihat kemungkinan-kemungkinan, yakinilah dan wujudkan kemungkinan tersebut! Mungkin Anda juga akan melihat banyak rintangan dan tantangan. Tetapi yang membedakan Anda dengan orang lain adalah mereka hanya bisa melihat risikonya saja, sedangkan Anda bisa melihat bagaimana mengatasi risiko tersebut. Orang maju adalah orang yang selalu menatap di belakang kemungkinan itu, bukan terpaku pada sesuatu di depan kemungkinan.

Kegagalan adalah sesuatu yang selalu mewarnai setiap usaha. Kegagalan sering membuat orang putus asa dan menyerah. Ketika orang lain menyerah dan menangisi kegagalan, kekuatan pikiran Andalah yang dapat mengatasinya. Katakan bahwa Anda dapat bangkit lagi setiap kali gagal dan mencoba lagi. Kegagalan itu adalah biasa, namun menjadi luar biasa bila bangkit dari kegagalan.

Singkirkan segala keraguan dan ketakutan. Jika Anda percaya Anda dapat terbang, maka Anda pun terbang. Dalam bahasa agama dikenal dengan istilah iman. Bukan tunggu iman menjadi besar dulu baru sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Yesus pernah berkata, “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Matius 17: 20).

by: adrian, diolah dari email Anne Ahira
Baca juga refleksi lainnya:

Orang Kudus 18 Maret: St. Syrillus dari Yerusalem

Santo syrillus dari yerusalem, uskup & pengaku iman
Syrillus lahir di Yerusalem kira-kira pada tahun 315 dan meninggal di sana pada tanggal 8 Maret 386. Ia ditahbiskan menjadi imam oleh Santo Maksimus, Uskup Yerusalem. Ia juga diangkat sebagai katekis khusus untuk para calon permandian (katekumen). Untuk membantu imam-imam dan ketekis lainnya, ia menulis sebuah buku pelajaran agama. Buku Katekismus ini merupakan buku pelajaran agama pertama yang secara ringkas menguraikan Credo Para Rasul dan Sakramen-sakramen.

Sesudah menerangkan tentang sifat-sifat Allah yang mahaesa, Syrillus menulis: “Pengetahuan terbesar mengenai Allah ialah mengakui cinta kasih-Nya dengan iman dan mengenal kebenaran-Nya.” Penjelasannya tentang ekaristi kudus tegas dan terang. Ia menulis, “... oleh karena Kristus sendiri telah memberkati roti persembahan sambil berkata, ‘Inilah Tubuh-Ku,’ siapakah yang berani bersangsi terhadap kebenaran ini? dan setelah Ia mengucapkan berkat atas roti, Ia mengambil anggur dan memberkatinya sambil berkata, ‘Inilah Darah-Ku,’ siapa lagi yang masih bersangsi terhadap kebenaran ini dengan berkata ini bukanlah Darah-Nya?”

Sepeninggal Uskup Maksimus, Syrillus terpilih sebagai Uskup Yerusalem pada tahun 350. Awal karyanya sebagai Uskup Yerusalem ditandai dengan suatu penampakan ajaib di langit: sebuah salib besar tampak di langit dengan cahaya yang berkilau-kilauan meliputi puncak Kalvari hingga taman Zaitun. Penampakan ini menandakan penderitaan yang akan dialaminya sebagai seorang uskup.

Seperti uskup-uskup lain pada masa itu, Syrillus juga beberapa kali dikejar dan diusir dari wilayah keuskupannya karena perlawanannya terhadap ajaran sesat Arianisme. Ia baru mulai memimpin Gereja Yerusalem dengan tenang hingga kematiannya pada tahun 386 setelah kamatian Kaisar Valentinus

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun