Selasa, 22 Januari 2013

(Pencerahan) Jadilah Dirimu Sendiri!

Anak itik
Sham-e Tabbrizi, seorang sufi yang suci,
mengisahkan cerita tentang dirinya sendiri
sebagai berikut.

Sejak masih kanak-kanak,
aku dianggap seorang yang tak berguna.
Rupanya tak seorang pun memahami diriku.
Ayahku sendiri pernah berkata,
“Kau tidak cukup gila
untuk dimasukkan ke rumah sakit jiwa,
dan tidak cukup saleh
untuk dimasukkan ke biara.
Aku tidak tahu harus berbuat apa denganmu.”

Aku menjawab,
“Sekali peristiwa, sebutir telur itik
dierami oleh seekor ayam.
Setelah telur menetas, anak itik itu berjalan-jalan
bersama-sama mengikuti si induk
sampai mereka tiba pada sebuah kolam.
Anak itik itu langsung terjun ke dalam air.
Induk ayam tertinggal di pinggir kolam,
sambil berkotek-kotek kebingungan.
Nah, bapakku tercinta,
aku sudah terjun ke dalam samudera raya,
dan merasa kerasan di sana.
Bapak tentu tidak dapat mencela aku,
kalau bapak memilih tinggal di pantai saja.”

by: Anthony de Mello, Burung Berkicau
Baca juga refleksi lainnya:

Orang Kudus 22 Januari: St. Vinsensius Pallotti

SANTO VINSENSIUS PALLOTTI, PENGAKU IMAN
Vinsensius lahir pada tanggal 21 April 1795. Meskipun kesehatannya sering terganggu dan banyak kesempatan tersedia baginya untuk menjadi orang penting di dalam masyarakat, namun imamat menjadi satu-satunya cita-cita dan pilihan hidupnya.

Pada zamannya ada kebiasaan umum di mana orang (umat) mengikuti sekelompok imam untuk berkarya di Roma secara sukarela. Vinsensius menjalani hidupnya dengan cara ini untuk beberapa lama. Setelah beberapa tahun dia bekerja dengan cara ini, Vinsensius menerima satu perjanjian kerja di Gereja Neapolitan di Roma. Pada tahun 1835 ia mendirikan Serikat Kerasulan Katolik, sebuah organisasi untuk kaum awam dan imam-imam yang diabdikan pada tugas penyebaran iman dan peningkatan penghayatan nilai keadilan sosial. Serikat ini merupakan perintis gerakan Aksi Katolik.

Sebagai pemimpin Serikat Kerasulan Katolik, Vinsensius mengabdikan dirinya pada karya di rumah-rumah sakit, melayni para serdadu dan mengelola pusat-pusat kesehatan dan rumah-rumah para jompo. Ia juga berusaha menciptakan kondisi-kondisi kerja yang baik bagi para buruh dengan mendirikan perkumpulan-perkumpulan kaum buruh.

Vinsensius juga banyak membantu dalam aksi pengumpulan bantuan bagi para misionaris, seperti pakaian-pakaian misa, buku-buku dan uang. Ia mengorganisir kelompok-kelompok penerbit Katolik untuk mengirimkan buku-buku kepada para misionaris.

Di samping menjadi Bapa Pengakuan pribadi paus, Vinsensius juga dikenal baik oleh para kardinal, imam dan kaum awam sebagai seorang pembimbing rohani yang termasyhur. Tugas pokoknya ialah memberikan bimbingan mingguan kepada para pelajar di dua seminari di Roma.

Seratus tahun setelah kematiannya, pada tanggal 22 Januari 1850, Vinsensius digelari ‘beato’ (Yang Bahagia) oleh Paus Pius XII. Kemudian oleh Paus Yohanes XXIII ia ditetapkan sebagai ‘santo’ pada tanggal 20 Januari 1963.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Selasa Biasa II-C

Renungan Hari Selasa Biasa II, Thn C/I
Bac I : Ibr 6: 10 – 20; Injil       : Mrk 2: 23 – 28

Injil hari ini menceritakan debat antara Yesus dengan orang Farisi berkaitan dengan aturan sabat. Orang Farisi mengkritik apa yang dilakukan oleh para murid Yesus dengan mendasarkan argumennya pada Kitab Suci. "Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" (ay. 24). Aturan hari sabat dapat dilihat dalam Kitab Imamat.

Sangat menarik bahwa Yesus melawan mereka juga menggunakan Kitab Suci.  "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" (ay. 25 - 26).

Yang menarik untuk kita renungkan adalah pernyataan Yesus ini. Dari sini bisa disimpulkan bahwa aturan itu untuk manusia, bukan untuk aturan itu sendiri. Artinya, ada ruang kompromi dalam pelaksanaan aturan, asalkan demi kemanusiaan.

Di sini sabda Tuhan mau mengajak kita untuk bersikap seperti Yesus dalam menghadapi aturan dalam kehidupan kita. Tuhan menghendaki agar, terhadap aturan, kita berlaku bijaksana sebagai manusia, bukan berlaku kaku sebagai robot.

by: adrian