Kamis, 03 Januari 2013

Orang Kudus 3 Januari: St. Anterus

SANTO ANTERUS, PAUS & MARTIR
Anterus berasal dari Yunani. Ia terpilih menjadi paus dan memimpin Gereja sampai saat kematiannya pada tanggal 3 Januari 236. Ia ditangkap dan dianiaya hingga mati karena diketahui mencatat semua kegiatan para martir lainnya dan memasukkan catatan itu dalam arsip kepausan. Ia dikuburkan di ruang bawah pekuburan Santo Kalistus, Roma, yang dikhususkan untuk para paus. Kuburnya ditemukan kembali pada tahun 1854.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Renungan Hari Kamis Natal II-C

Renungan Hari Kamis Natal II, Thn C/I
Bac I : 1 Yoh 2: 29 – 3: 6; Injil       : Yoh 1: 29 – 34

Titik temu sabda Allah dalam bacaan pertama dan Injil adalah status anak Allah. Dalam bacaan pertama, Yohanes menyebut kita sebagai anak-anak Allah (ay. 1). Gelar itu kita dapat karena kasih Allah kepada kita, yang mengangkat diri kita menjadi anak-Nya. Sedangkan dalam Injil, yang mendapat gelar anak Allah adalah Yesus. Gelar itu didapat Yesus dari Yohanes Pembaptis, karena ia melihat "Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya." (ay. 32).

Anak Allah adalah tema utama sabda Tuhan hari ini. Sekalipun sama, namun subyeknya berbeda: Kita dan Yesus. Meski kita sama-sama anak Allah, akan tetapi antara kita dan Yesus ada perbedaan. Perbedaannya adalah dalam dosa. Ya, Yesus sama seperti kita kecuali dalam dosa. Yohanes menegaskan hal itu dalam suratnya yang pertama (ay. 5).

Sabda Tuhan hari ini mau mengajak kita untuk berangkat dari perbedaan menuju kesamaan. Artinya, hendaklah kita mengikuti Yesus yang suci dan tidak berdosa dalam kehidupan kita. Atau seperti yang dikatakan Yohanes dalam suratnya, yaitu agar kita "menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (ay. 3).

by: adrian

Rabu, 02 Januari 2013

(Inspirasi Hidup) Kisah Petapa & Senar Gitar

PETAPA DAN SENAR GITAR
Ada seorang petapa tinggal seorang diri di hutan. Ia menjalani hidup bertapanya dengan keras. Hari-hari hidupnya hanya diisi dengan berdoa, bersemedi, bermeditasi dan kontemplasi. Ia beraskese dan menjalani hidup mati raga dengan keras. Ia menolak kekayaan dan kemewahan dengan cara hidup miskin. Untuk makan pun ia mengemis di kampung-kampung sekitar hutan itu.

Suatu hari ia keluar dari hutan, berjalan menuju ke sebuah kampung. Tujuannya: mencari makanan dengan cara mengemis. Ketika hendak memasuki kampung itu, ia melihat seorang anak kecil dengan sebuah gitar di pelukannya. Anak itu sedang menyetem senar gitarnya. Sang petapa memperhatikannya dengan serius.

Dua senar gitar bagian distel longgar. Anak itu melonggarkannya lagi sambil ibu jari tangan kanannya memetik senar gitar itu. Tangan kiri anak itu kembali memutar spul gitar sehingga tali gitar semakin longgar.

“Terlalu longgar,” pikir petapa itu dalam hati. “Kalau terus dilonggarkan, hilanglah suaranya. Senar gitar itu tak akan bisa menghasilkan suara. Percuma ia ada di gitar itu.”

Tiba-tiba anak itu beralih ke dua senar gitar yang paling bawah. Kali ini dia bukannya melonggarkan tali gitar itu melainkan mengencangkannya. Ia terus mengencangkan senar gitar itu sampai menghasilkan bunyi yang melengking. Jempol tangan kanan bocah itu kembali memetik dua senar itu lalu tangan kirinya kembali memutar spul gitar untuk kembali mengencangkannya.

“Berhenti! Berhenti!!” Tiba-tiba petapa itu berteriak sambil berjalan menghampiri anak itu. “Kamu bisa memutuskan tali gitar itu.”

Petapa itu mengambil gitar itu. Dengan kemampuan yang masih dimilikinya, ia kembali menyetem gitar itu sehingga bisa menghasilkan suara yang harmonis. Ia mengembalikan gitar itu ke pemiliknya.

“Kalau senar gitar ini kamu longgarkan, suaranya jelek bahkan bisa hilang. Tapi kalau kamu kencangkan bunyinya tak indah. Jika terlalu kencang senarnya bisa putus.”

“Itulah hidup Anda!” Anak kecil itu berdiri dan berjalan meninggalkan petapa itu seorang diri.