Rabu, 03 Oktober 2012

Renungan Hari Rabu Biasa XXVI - Thn II

Renungan Hari Rabu Pekan Biasa XXVI B/II
Bac I  Ayb 9: 1 – 12, 14 – 16; Injil       Luk 9: 57 – 62

Mendengar sabda Tuhan dalam Injil hari ini dapat membuat orang menjadi bimbang dan takut untuk mengikuti Kristus. Karena orang itu harus menanggalkan kenyamanannya dan melupakan orang tua juga kelurganya.

Itukah yang dikehendaki Tuhan?

Lewat Injil-Nya hari ini Tuhan mau mengatakan kepada kita bahwa mengikuti Dia harus menjadi prioritas utama. Artinya, masih ada prioritas lain dalam hidup kita; dan itu masih diperkenankan. Akan tetapi, janganlah prioritas itu mengalahkan prioritas utama tadi. Hal ini sama seperti sikap iman Ayub dalam bacaan pertama. Bagi Ayub, percaya kepada Allah merupakan segalanya sehingga ia berserah diri secara total pada-Nya.

Oleh karena itu menjadi jelas bagi kita bahwa Sabda Tuhan hari ini menghendaki kita untuk menjadikan Dia sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Tuhan memanggil kita. Bila kita menjawab panggilan-Nya itu, maka mengikuti Dia harus menjadi prioritas utama, mengalahkan prioritas-prioritas lain dalam hidup kita.

by: adrian

Orang Kudus 3 Oktober: St. Fransiskus Borgia

SANTO FRANSISKUS BORGIA, PENGAKU IMAN
Fransiskus lahir di Spanyol pada 28 Oktober 1510. Putera bangsawan tinggi Italia ini masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga kerajaan Spanyol. Ayah neneknya adalah Paus Aleksander VI (1492 – 1503) yang sebelum dipilih menjadi paus sudah mempunyai beberapa anak. Ia adalah putera sulung dari pasangan Juan Borgia, pangeran dari Gandia dan Yohanna dari Aragon. Setelah dididik di dalam istana Kaisar Karel V, ia dinobatkan menjadi Raja Muda Katalonia. Sebagai penguasa yang beragama kristen, ia tampail bijaksana dan saleh. Ia menunjukkan teladan hidup yang baik terhadap rakyatnya sesuai keutamaan kristiani. Ia bersikap tegas terhadap semua bangsawan yang korup. Oleh karena itu banyak orang tidak enyukai dia.

Ketika Ratu Isabela meninggal dunia, jenazasahnya harus dibawa ke Granada. Raja Muda Fransiskus Borgia ditugaskan untuk mengawal jenasah itu. Sebelum dimasukkan ke liang lahat peti jenasah harus dibuka untuk membuktikan bahwa jenasah ratulah yang akan dimakamkan. Ketika peti jenasa dibuka, Fransiskus hampir pingsan oleh bau busuk yang sangat menusuk hidung. Ia menyaksikan kehancuran mayat ratu yang dulu begitu cantik, bahkan dipujanya. Sejak saat itu ia berjanji untuk tidak lagi mengabdi seorang raja duniawi, yang dapat mati dan hancur tubuhnya. Ia bertekad menyrahkan dirinya kepada Tuhan sambil berjanji akan mengubah cara hidupnya sesuai dengan kehendak Allah.

Tatkala istrinya meninggal dunia tahun 1546, ia memutuskan masuk Serikat Yesus. Segala hartanya diwariskan kepada anaknya yang sulung. Di dalam Serikat Yesus Fransiskus ditahbiskan menjadi imam pada usia 41 tahun. Cara hidupnya sederhana dan lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina oleh banyak orang. Imam Fransiskus dikenal saleh. Kotbah-kotbahnya sangat menyentuh hati umat sehingga dapat membawa kembali banyak orang kepada pertobatan.

Keberhasilannya menarik hati Ignasius Loyola, pendiri Serkat Yesus. Oleh karena itu ia ditunjuk menjadi pembesar Yesusit di Spanyol. Empat tahun kemudian ia menggantikan Ignasius Loyola sebagai pemimpin tertinggi Serikat Yesus. Ia sangat berjasa pada universitas Gregoriana. Cita-citanya sebagai pemimpin Serikat Yesus ialah menjiwai ordonya dengan semangat hidup Ignasius serta memperluas wilayah apostolatnya ke seluruh dunia. Banyak imam Yesusit dikirimnya ke luar negeri seperti Polandia, Mexico, Peru dan Brasilia. Jumlah kolese diperbanyak untuk mendidik kader-kader yang dapat melanjutkan karya Gereja. Ketika ia berusia 61 tahun, ia mendapat tugas dari Paus Pius V (1566 – 1572) untuk mempersatukan para raja kristen guna menghadapi ancaman bangsa Turki yang islam atas wilayah-wilayah kristen. Fransiskus Borgia akhirnya wafat karena sakit pada 30 September 1572. Jenasahnya dimakamkan di Madrid, Spanyol. Pada tahun 1931 mkam itu dirusak dan dibakar oleh kaum atheis.

Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun

Selasa, 02 Oktober 2012

Bus Farrel Merah

Dalam kesempatan liburan di kampung (Maumere), bulan Agustus lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi saudari saya di Larantuka. Sudah 8 tahun kami tak berjumpa.Mereka juga selalu mengharapkan kehadiran saya di sana. Apalagi di sana juga ada adik sepupu saya. Jadi, dengan ke Larantuka, saya bisa mengunjungi dua saudara saya. 

Persoalannya, saya tidak tahu alamat rumah mereka. Orang di rumah (kampung) juga tidak tahu. Mereka hanya tahu rumahnya; alamatnya tidak. Dan bisanya mereka ke sana memakai bus Farrel. Kebetulan sopirnya orang satu kampung. Namanya Soni. Jika bermalam di Larantuka, ia sering nginap di rumah adik saya. Memang saya dan soni belum saling kenal, tapi dia tahu siapa saya.

"Nong ke sana pakai bus Farrel saja." Nasehat paman saya. "Nanti saya telpon sopirnya supaya jemput nong di Pasar Geliting."

Singkat cerita, pagi sekitar jam 06.00 saya sudah turun dengan ojek ke Geliting. Waktu tempuh kurang lebih 35 menit. Paman saya bilang bahwa Bus Farrel meninggalkan Maumere sekitar jam 07.00. Kepada saya, paman mengingatkan bahwa bus yang akan saya tumpangi namanya Farrel.

"Kan susah membaca nama busnya dari depan. Nama bus kan selalu ditulis di samping." Sela aku waktu makan malam.

"Busnya warna merah." Jelas pamanku.

Maka, setelah sampai di Geliting, saya langsung menuju tempat yang sudah disepakati: depan Toko Putra Jaya, Geliting. Saya selalu menyebut berkali-kali "Farrel Merah" hanya untuk mengingatkan diri. Dalam hati saya berpikir, pastilah saya akan dapat tempat duduk istimewa, makan gratis di rumah makan di Boru dan mungkin tidak bayar ongkos.

Lama saya menunggu bus. Jam sudah menunjukkan waktu 08.15. Sejak jam 07.00 sudah ada beberapa bus jurusan Larantuka yang lewat. Ada yang merah, tapi bukan Farrel.

Sekitar jam 08.50, dari kejauhan saya melihat bus jurusan Larantuka. Warnanya merah. Saya coba mendekat jalan. Bus itu berjalan melambat. Sopir melihat saya dan saya juga melihat dia dan langsung melihat ke samping bus. "FARREL".

"Nah, inilah dia!" Seru aku dalam hati.

Saya langsung menahan dan naik. Tidak ada sambutan khusus. Tidak ada tempat istimewa. Saya diam saja. Yang jelas saya sudah naik bus yang tepat. Farrel Merah.

Namun, ketika memasuki Boganatar, hati saya sedikit ciut. Seorang penumpang di belakang saya tiba-tiba memanggil sopir dengan sebutan "Willy." Mungkinkah saya naik bus yang salah? Ataukah Willy itu sopir cadangan?

Waktu di Boru dulu saya akhirnya sadar bahwa saya salah naik bus. Ternyata bus Farrel itu ada dua, dan dua-duanya warna merah. Akhirnya, terpaksalah saya "menggelandang" di Terminal Larantuka sampai bus Farrel yang dimaksud datang. Karena sopirnya, Sonni, yang akan mengantar saya ke rumah adik saya.

by: adrian
Baca juga humor lainnya: