Jumat, 06 Oktober 2023
AL-QUR'AN DI MATA ILMU PENGETAHUAN#1
Bagi umat islam, al-qur'an itu adalah kitab kebenaran. Ini juga yang dikatakan oleh allah. Hal ini masuk akal, karena sumber utama al-qur'an adalah allah, yang dipercaya sebagai maha benar.
Kamis, 05 Oktober 2023
SIAPA DULUAN ADA: WANITA ATAU PRIA
Dalam
kisah penciptaan, kita mengetahui bahwa Allah lebih dahulu menciptakan
laki-laki daripada perempuan. Manusia pertama itu dinamakan Adam. Awalnya dia
hidup sendirian di Taman Eden (ada yang mengatakan Firdaus). Tak lama kemudian
Allah merasa tak baik manusia itu sendirian, sehingga Allah memutuskan untuk
membuat yang lain, yang sepadan dengan manusia itu. Maka Allah akhirnya membuat
perempuan, yang diambil dari salah satu bagian dari tubuh pria. Perempuan itu
kemudian dikenal dengan nama Hawa. (bdk. Kej 2: 4 – 25).
Jadi,
dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa laki-laki ada lebih dahulu daripada
perempuan. Tuhan menciptakan pria lebih dahulu, baru kemudian Dia menciptakan
perempuan. Dan perempuan diciptakan dari bagian tubuh pria. Gambaran penciptaan
manusia ini dikemudian hari menimbulkan persoalan, khususnya masalah kesetaraan
gender.
Tak
sedikit aktivis perempuan memprotes kisah yang ada dalam Kitab Suci ini. Karena
wanita berasal dari pria, mereka mengatakan bahwa kisah tersebut merendahkan
martabat kaum perempuan. Mereka menilai bahwa Kitab Suci terlalu kelaki-lakian,
sehingga ketika menceritakan kisah penciptaan dikatakan bahwa perempuan berasal
dari laki-laki. Ini dirasakan sebagai bentuk ketidakadilan gender. Mereka
selalu mempertanyakan kenapa Allah tidak menciptakan perempuan lebih dahulu
atau menciptakan perempuan dan laki-laki sekaligus sebagaimana dalam Kej 1: 26
– 28.
Apakah
benar Kitab Suci salah dalam menguraikan kisah penciptaan itu? Apakah Kitab
Suci sungguh-sungguh tidak adil dalam hal gender?
Sebenarnya
tidak ada yang salah dalam Kitab Suci. Penilaian segelintir kaum feminis ini
saja yang berlebihan. Karena jika ditinjau dari sudut biologis, apa yang
diceritakan dalam Kitab Suci itu mengandung kebenaran. Perempuan memang berasal
dari laki-laki.
Dari
ilmu biologi kita ketahui bahwa pria memiliki kromosom XY, sedangkan perempuan
XX. Kromosom X membawa sifat-sifat kewanitaan, sementara kromosom Y membawa
sifat-sifat kelelakian. Seorang pria pasti memiliki kromosom XY, sedangkan
perempuan mempunyai kromosom XX. Ini berarti, pada pria ada sifat-sifat
kelelakian dan kewanitaan, sedangkan pada perempuan murni hanya sifat
kewanitaan.
Karena
itu, dari sisi biologis masuk akal bila dikatakan bahwa wanita berasal dari
pria. Tak mungkin pria berasal dari wanita karena dalam diri wanita tidak ada
sifat kelaki-lakian. Sebaliknya, karena laki-laki memiliki dua sifat sekaligus,
maka wajar bila salah satu sifatnya itu diturunkan ke ciptaan berikutnya, yaitu
perempuan. Jika tinjauan biblis atas kisah penciptaan dikatakan bahwa Allah
mengambil dari rusuk Adam untuk menciptakan Hawa, maka tinjauan biologis-religi
Allah mengambil unsur X dari Adam dan menciptakan Hawa.
Jika
aktivis memprotes kisah penciptaan dalam Kitab Suci, sudah seharusnya juga
mereka memprotes tinjauan biologis unsur pria dan wanita. Para aktivis ini,
demi kesetaraan gender, harus menolak kromosom XX yang ada padanya, dan
menuntut kromosom Y sehingga padanya juga ada kromosom XY. Tentulah hal ini tak
masuk akal manusia. Kromosom XX untuk perempuan, dan kromosom XY untuk
laki-laki sudah ditetapkan Tuhan demikian.
diambil dari tulisan 7 tahun lalu
Selasa, 03 Oktober 2023
LAODATO SI DAN KESALEHAN EKOLOGIS
Hubungan
erat antara iman dan kepedulian terhadap lingkungan hidup ditegaskan oleh Paus
Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si (LS). Paus berkata,
“Menghayati panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian penting dari
kehidupan yang saleh.” (LS 217). Maka, manusia akan berjiwa kerdil dan bahkan
tampak tak waras ketika perhatian dan perawatan terhadap lingkungan dikecualikan
dari hidupnya sebagai makhluk beriman. Sebab, lingkungan hidup merupakan “rumah
bersama bagi segenap ciptaan” (LS 1).
Manusia,
Makhluk Ekologis
Manusia,
secara hakiki, adalah makhluk ekologis. Hidupnya ditopang dan didukung oleh
lingkungan hidup, air, udara, tumbuh-tumbuhan dan oleh beragam binatang yang
hidup di dalamnya. Bahkan manusia sendiri dibentuk dari debu tanah (Ke 2: 7).
Tuhan pun menempatkan manusia itu dalam relasi mutual dengan sesama ciptaan
lainnya dalam taman kehidupan.
Kitab
kejadian melukiskan harmoni dan kebaikan relasi itu dengan kalimat “Tuhan
melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik!” (Kej 1: 31).
Ada dua aspek yang dapat dikatakan mengenai apresiasi positif Tuhan ini. pertama, manusia
dan aneka ciptaan itu berstatus sama, yakni makhluk yang diciptakan Tuhan
sendiri. Diakui bahwa Tuhan adalah Pencipta. Dan Dia mencipta karena cinta.
Maka, kita dan semua yang lain adalah ciptaan-Nya (LS 76, 77). Kita satu sama
lain dan lingkungan hidup adalah hadiah dari Tuhan.
Namun
demikian, kesamaan status sebagai “ciptaan” itu tidak perlu membawa kita pada
sikap biosentris yang berpandangan bahwa manusia itu tak lebih istimewa
daripada makhluk-makhluk hidup lainnya (LS 118). Tidak! Manusia tetaplah
pribadi dan subyek yang unik, baik dalam hubungannya dengan Tuhan maupun dalam
panggilannya yang khusus untuk melindungi ciptaan. Sebab “…., semua makhluk
bergerak maju bersama-sama kita dan melalui kita menuju titik akhir yang sama,
yakni Allah sendiri” (LS 83).
Kedua, Tuhan
dialami kehadiran-Nya dalam dan melalui ciptaan. Kendati rapuh dan tidak abadi,
ciptaan itu mengandung nilai sakramental. Segenap ciptaan dapat mengantar kita
pada perjumpaan dengan Tuhan sendiri. Segenap ciptaan itu baik adanya, karena
Tuhan sendiri “intim hadir dalam setiap makhluk tanpa menghilangan otonomi
mereka” (LS 80).
Maka,
cinta kita kepada Tuhan Pencipta hanya dapat bertumbuh, berkembang, dan berdaya
membebaskan kalau kita juga berlaku rendah hati dan penuh tanggung jawab terhadap
sesama ciptaan. Inilah sebabnya, ditampik relativisme praktis yang
memperlakukan ciptaan melulu sebagai obyek dan sarana pemenuhan kebutuhan
manusia semata (LS 122 – 123).
Manusia
perlu menunjukkan simpati dan sikap syukur, berlaku hemat dan sahaja,
berekonsiliasi dan memperlakukan ciptaan lain sebagai kerabat komunitas
kehidupan. Buang pola hidup konsumeristik yang ditopang oleh kekejaman dan
“logika pakai dan buang” (LS 123). Sudah pada tingkat ini, amatlah mendesak
suatu ekologi yang integral, yakni visi dan sikap yang melibatkan perhatian
yang menyeluruh terhadap aspek-aspek manusiawi, sosial, kesejahteraan umum, dan
keadilan antargenerasi (LS bab IV).
Setia pada iman kristiani, kita dapat mengatakan bahwa lingkungan hidup adalah “rumah” yang diberikan Tuhan untuk semua: manusia dan segenap makhluk. Kita tinggal bersama di dalamnya sebagai satu keluarga. Maka, semua adalah kerabat, saudara-saudari yang berasal dari satu Allah, Pencipta. Untuk bisa merasa at home di “rumah” itu, dibutuhkan sikap saling perhatian dan bukan dominasi atas sesama ciptaan lainnya.