Jumat, 18 Agustus 2023

MEMBACA QS 6: 104 DENGAN NALAR AKAL SEHAT


QS 6: 104 berbunyi sbb: "Sungguh, telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Siapa yang melihat (bukti-bukti itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri dan siapa yang buta (tidak melihat bukti-bukti itu), maka (akibat buruknya) bagi dirinya sendiri, sedangkan aku (Nabi Muhammad) bukanlah pengawas(-mu)." 

Kutipan ini dipercaya sebagai kata-kata allah swt, kecuali yang ada dalam tanda kurung. Dapat dipastikan kata-kata itu berasal dari tangan-tangan manusia. Allah tak pernah mengucapkannya. 

Jika kata-kata dalam tanda kurung itu dihilangkan, apakah kalimat allah ini jelas dan mudah dipahami? 

Kamis, 17 Agustus 2023

TIPS MENGASAH MINAT DAN BAKAT ANAK SEJAK DINI

 

Ada alasan kenapa pakar psikologi dan pendidikan anak selalu menekankan pentingnya pemberian stimulus pada anak-anak sejak usia dini. Bahkan ada pula yang mengatakan stimulus tersebut bisa diberikan sejak anak masih berada dalam rahim ibu. Semuanya ini dikarenakan pemberian stimulus berpengaruh terhadap masa depan anak.

Jovita Maria Ferlina, MPsi, psikolog dari Little Shine Daycare, mengatakan anak wajib mendapatkan berbagai macam stimulus sejak dini untuk mengasah bakat dan minatnya. Jika bakat dan minat tidak diasah, anak bisa kehilangan arah hidup hingga tak memiliki tujuan.

“Kalau anak tidak tahu bakatnya apa, dia akan kesulitan menentukan goals dan kebingungan saat beranjak dewasa. Makanya, kita lihat ada anak sudah lulus SMA tetapi bingung menentukan jurusan dan pilihan kuliah.” Ungkap Jovita, dalam sebuah acara di Jakarta Selatan.

Hal inilah yang membuat Jovita mengambil tema creativpreneur saat menjalankan daycare di kantor produsen pocari sweat ini. Creativpreneur mengenalkan anak kepada bermacam-macam jenis kecerdasan, yang diharapkan mampu membuat anak bersaing di masa depan. Dengan creativpreneur, anak akan mampu menemukan dan mengungkapkan ide dan gagasan yang dimilikinya. Ide dan gagasan tersebut muncul sesuai dengan bakat dan minat serta jenis kecerdasan yang menonjol pada diri anak.

Satu nasehat bagi orangtua adalah agar orangtua menerapkan sistem demokrasi dalam mendidik anaknya. Pemberian stimulus kepada anak bisa sejalan dengan gaya demokrasi dalam pola asuh anak. Orangtua jangan terlalu mengekang atau menentukan bahwa anak harus ini atau itu.

diambil dari tulisan 6 tahun lalu

Selasa, 15 Agustus 2023

MENIKAH ITU MIRIP SEPERTI SEKOLAH: BELAJAR

 

Orang selalu bilang bahwa tidak ada sekolah khusus yang mengajar atau mendidik orang untuk menjadi suami istri atau ayah ibu. Hal ini disebabkan karena orang melihat sekolah secara harafia, yaitu adanya gedung, kurikulum, guru dan proses belajar mengajar. Akan tetapi, dalam pengertian umum, sebenarnya menikah itu sama artinya dengan bersekolah. Keluarga adalah sekolahnya.

Memang pada sekolah khusus ada guru yang mengajar, dan murid belajar. Namun ada kesamaan mendasar, yaitu setiap pesertanya (murid di sekolah, dan suami istri di keluarga) dituntut untuk BELAJAR. Dengan belajar orang akan mendapatkan tujuannya. Seorang murid menjadi pintar dengan mendapat nilai bagus atau lulus ujian; suami istri mendapatkan kesejahteraan bersama.

Proses belajar dalam pernikahan dilakukan sendiri. Ini bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu membaca, baik buku-buku tentang kehidupan keluarga, yang bisa ditemukan di toko buku, maupun kitab suci. Ada banyak buku yang akan menuntun pada terciptanya kebahagiaan rumah tangga, bagaimana merawat dan mendidik anak, bagaimana mengatur ekonomi rumah tangga, dan masih banyak lainnya. Kitab suci juga memuat pedoman bagi suami istri. Semuanya tergantung pada kemauan untuk membaca.

Bisa juga ditempuh dengan bertanya kepada mereka yang sudah berpengalaman. Pepatah mengatakan, ‘malu bertanya sesat di jalan’. Ketika menikah orang hanya diliputi oleh romantisme pacaran dan idealisme. Masih ada banyak hal yang belum diketahui. Karena itu, tidak salah jika bertanya kepada yang berpengalaman. Hal ini bisa dilakukan secara gratis, bisa juga berbayar (misalnya, konsultasi pada ahli keluarga).

Cara ketiga adalah refleksi diri. Refleksi itu ibarat bercermin. Ketika menemukan ada kekurangan dalam diri kita di cermin, kita segera membenahinya. Kita sendirilah yang membenahinya. Demikian pula dalam hidup keluarga. Jika ada yang kurang, langsung diberesi.

diambil dari tulisan 6 tahun lalu