Senin, 21 November 2022

MENGENAL SEKILAS TENTANG SAKRAMEN TOBAT

 

Salah satu poin penting pada masa Tahun Suci Kerahiman adalah pertobatan. Umat diajak untuk bertobat, karena pertobatan merupakan sarana, yang darinya umat mendapatkan kerahiman Allah berupa pengampunan dosa. Dengan pengampunan dosa, kita memperoleh belas kasih Allah, sehingga kita berdamai kembali dengan Allah. Paus Benediktus XVI pernah berkata, “Tidak benar jika kita berpikir harus hidup sedemikian rupa sehingga kita tidak pernah membutuhkan pengampunan. Kita harus menerima kelemahan kita, tetapi terus berjalan, tidak menyerah tetapi bergerak maju dan bertobat menjadi baru kembali melalui Sakramen Pengampunan Dosa sebagai langkah awal, tumbuh dan menjadi dewasa dalam Tuhan oleh persekutuan kita dengan Dia.”

Hendaklah di tahun penuh rahmat ini umat benar-benar memanfaatkan pertobatan. Tobat ada karena ada dosa. Setiap manusia pastilah berdosa. Yohanes dalam suratnya yang pertama menulis, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1: 8). Karena itu, St. Yohanes Maria Vianney berkata, “Setelah jatuh, segeralah bangkit kembali! Jangan biarkan dosa di dalam hatimu bahkan untuk sejenak!” Pastor dari Ars ini mengajak kita untuk menggunakan sarana yang ada, yaitu Sakramen Tobat. “Allah sangat menghargai pertobatan sehingga sekecil apa pun pertobatan di dunia, asalkan itu murni, menyebabkan Dia melupakan segala jenis dosa, bahkan setan pun akan diampuni semua dosanya, jika saja mereka memiliki penyesalan,” demikian kata St. Fransiskus de Sales.

“Pertobatan yang tulus adalah menghindari kesempatan untuk berbuat dosa,” ujar St. Bernardus Clairvaux. Dengan bertobat, kita diminta untuk tidak mengulangi dosa-dosa yang telah diakukan. Yang penting kita mau datang ke ruang pengakuan dengan rasa sesal dan niat untuk bertobat. Jangan suka menunda. Yohanes Maria Vianney menasehati, “Kita selalu menunda pertobatan kita lagi dan lagi sampai ajal tiba. Tapi siapa bilang bahwa kita masih akan memiliki waktu dan kekuatan untuk itu?” Karena itu, bertobatlah sekarang!

Mgr Ignatius Suharyo, dalam bukunya The Catholic Way (2009: 25), mengatakan ada tiga proses pertobatan. ketiga proses itu adalah [1] Pengakuan Pujian. Proses tobat diawali dengan menyadari dan mengalami kebaikan/anugerah Allah dalam hidup. Namun anugerah ini tidak ditanggapi dengan baik. Kita sering gagal dan jatuh. Pengakuan inilah yang diungkapkan dalam [2] Pengakuan Mengenai Hidup. Kita sadari dan akui kegagalan dan kejatuhan kita. Namun, sekalipun sering jatuh, kita tetap percaya bahwa kasih setia dan kerahiman Allah tanpa batas. Inilah yang dinyatakan dalam [3] Pengakuan Iman. Dengan demikian Sakramen Tobat pertama-tama membantu kita untuk mengalami kasih setia dan kerahiman Allah, bukan untuk menuduh diri kita.

Minggu, 20 November 2022

STUDI ALQURAN: SURAH YUSUF AYAT 41

Umat islam percaya dan mengakui kitab sucinya merupakan kitab kebenaran. Dasar kepercayaan ini terletak pada perkataan Allah. Selain itu, Allah juga menjadi jaminan akan kebenaran itu. Allah adalah maha benar. Tidak mungkin Allah salah atau pun keliru. Tak mungkin juga Allah berbohong. Karena itulah, kitab yang berasal dari-Nya adalah juga benar. Kebenaran itu menyangkut segala informasi yang diberikan Allah. Ada banyak informasi yang diberikan, termasuk sejarah. Wahyu Allah dalam surah Yusuf ayat 41 termasuk kebenaran sejarah yang disampaikan Allah.


Apabila video di atas sulit untuk dibuka, silahkan coba buka di channel youtube kami. Selamat menonton!!! 

Jumat, 18 November 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANAM AYAT 114

 


Pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu secara rinci? Orang-orang yang telah Kami beri kitab mengetahui benar bahwa (Al-Qur’an) itu diturunkan dari Tuhanmu dengan benar. (QS 6: 114)

Tak bisa dipungkiri bahwa umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad, yang kemudian ditulis di atas kertas. Sekalipun ada di kertas, tapi umat islam yakin bahwa itu adalah kata-kata Allah sendiri. Karena Allah itu suci, maka kertas yang ditulisi perkataan Allah itu adalah suci juga. Maka tak heran ketika ditemukan lembaran-lembaran Al-Qur’an di tempat sampah, yang sebagiannya sudah terbakar, umat islam merasa marah. Hal itu dilihat sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah. Allah sendiri sudah meminta umat islam untuk membunuh mereka yang menghina-Nya (QS al-Maidah: 33).

Dasar keyakinan umat islam bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad adalah perkataan Allah sendiri. Allah sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu berasal dari diri-Nya. Berhubung Allah itu mahabenar, maka apa yang dikatakannya juga adalah benar. Mana mungkin Allah yang mahabenar itu berbohong? Tak mungkin Al-Qur’an itu ciptaan manusia, karena manusia bisa berbohong. Logika pikir orang islam kira-kira begini: bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah karena Allah sendiri yang mengatakannya adalah benar, sebab Allah itu mahabenar yang tak bisa berbohong.

Berangkat dari premis ini, maka kutipan ayat Al-Qur’an di atas haruslah dikatakan berasal dari Allah dan merupakan satu kebenaran. Apa yang tertulis di atas (kecuali kata “Al-Qur’an”), semuanya diyakini merupakan kata-kata Allah, yang kemudian ditulis oleh manusia. Seperti itulah kata-kata Allah ketika diucapkan. Dan perkataan Allah ini disampaikan kepada Muhammad, karena hanya Muhammad saja sebagai penerima wahyu. Jadi, bisa dikatakan bahwa konteks seluruh Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar. Karena surah ini masuk dalam kelompok surah Makkiyyah, maka bisa dipastikan bahwa Allah menyampaikan wahyu ini saat Muhammad ada di Mekkah.

Jika kutipan kalimat Allah di atas dilepaskan dari konteksnya, maka pembaca akan dengan sangat mudah memahaminya; dan kalimat Allah itu sangatlah indah dan baik. Akan tetapi, akan berbeda jika kutipan teks di atas ditempatkan pada konteksnya. Orang yang mempunyai nalar akal sehat akan langsung menemukan keanehan dan persoalannya. Akar persoalan terletak pada 4 kata kunci, yaitu aku, Dialah, Kami dan Tuhanmu.