Jumat, 18 Maret 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-BAQARAH AYAT 187

Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. (QS 2: 187)


Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam yang diyakini sebagai wahyu Allah yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad. Apa yang tertulis di dalamnya, termasuk titik komanya, adalah berasal dari Allah, tanpa campur tangan manusia. Karena itulah, umat islam memandang Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci, sebab ada Allah di dalamnya. Perlakuan terhadap Al-Qur’an pun jauh berbeda dengan kitab-kitab lainnya, yang memang buatan tangan manusia. Umat islam akan marah jika ada yang melecehkan Al-Qur’an, karena tindakan tersebut sama artinya dengan menghina Allah. Umat islam terpanggil untuk membela Allahnya. Dan Allah sendiri sudah menetapkan hukuman bagi mereka yang menghina diri-Nya, yaitu: “dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang” (QS al-Maidah: 33).

Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Muhammad agar bisa dijadikan pelajaran, tuntunan dan juga pedoman hidup yang harus dilaksanakan. Karena itulah, Allah sudah mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah keterangan, petunjuk atau pelajaran yang mudah dan jelas (QS Ali Imran: 138; QS ad-Dukhan: 58; QS al-Qamar: 17). Selain itu, Al-Qur’an juga dilihat sebagai pedoman atau petunjuk bagi umat islam (QS al-Jasiyah: 20). Sebagai petunjuk dan pedoman inilah akhirnya lahir aturan-aturan islami, yang biasa dikenal dengan istilah syariah islam. Setiap pemeluk islam wajib melaksanakannya.

Berangkat dari uraian ini, dapatlah dipastikan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan Allah, yang bisa dijadikan pedoman bagi pemeluk islam. Memang kutipan wahyu Allah dalam ayat 187 ini tidak lengkap dikutip. Aslinya wahyu Allah dalam ayat 187 terdiri dari 9 kalimat, akan tetapi kutipan di atas, yang merupakan kalimat pertama dari wahyu Allah, sudah dijadikan satu pedoman bagi umat islam. Artinya, kutipan ayat di atas sudah bisa ditafsir atau dipahami maknanya tanpa harus dikaitkan lagi dengan kalimat-kalimat lainnya dalam ayat 187.

Sekalipun Allah sudah menyatakan bahwa wahyu-Nya itu jelas, bukan lantas berarti tanpa harus ada upaya tafsir-menafsir. Meski demikian, Allah sudah membuatnya mudah sehingga umat islam tak perlu pusing tujuh keliling. Demikian halnya kutipan ayat di atas. Ada satu kata yang mau tidak mau harus ditafsir sehingga umat islam memahami isi atau pesan dari kalimat tersebut. Kata itu adalah “bercampur”. Dapat dipastikan bahwa para ulama islam sepakat kata itu dimaknai dengan bersetubuh atau melakukan aktivitas suami istri (bersenggama). Karena itulah, kalimat pertama dalam wahyu Allah ini dipahami bahwa Allah membolehkan suami istri melakukan hubungan seksual pada malam hari puasa.

Kamis, 17 Maret 2022

PERAN PAKAIAN PADA USIA DEWASA DINI

Pakaian bukan sekedar fashion atau gaya. Pertama-tama pakaian adalah sarana untuk menutup tubuh manusia. Setidaknya ada 2 tujuan yang hendak disasar, yaitu melindungi diri dari cuaca (panas dan dingin) dan menutupi bagian sensitif manusia (kemaluan). Tujuan pertama adalah tujuan kesehatan, sedangkan tujuan kedua adalah tujuan moral.

Akan tetapi, pakaian juga mempunyai peran dan fungsinya yang sesuai dengan usia perkembangan manusia. Sangat aneh bila seorang remaja memakai pakaian anak-anak, demikian pula sebaliknya. Apa peran pakaian pada manusia usia dewasa dini? Elizabeth B. Hurlock, dalam PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5), memaparkan beberapa peran tersebut (hlm. 256).

Meningkatkan Penampilan

Orang-orang muda memilih pakaian yang menonjolkan segi-segi positif dan menutupi segi negatifnya. Ketika tanda-tanda ketuaan mulai tampak, mereka memilih pakaian yang membuatnya tampak lebih muda dari usia sebenarnya.

Indikasi Status Sosial

Orang dewasa muda, terutama mereka yang banyak bergaul dalam lingkungan kerja maupun lingkungan sosial, memakai pakaian sebagai simbol status yang mengidentifikasikannya dengan suatu kelompok sosial tertentu.

Individualitas

Rabu, 16 Maret 2022

TAK SELAMANYA YANG SENANGKAN HATI ITU BENAR

Hidup selalu menghadapi banyak pilihan. Setiap manusia dituntut untuk memilih. Dan setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi. Apa pun konsekuensinya, setiap kita harus menerima, karena itu sudah pilihan. Adalah kecenderungan orang untuk memilih pilihan yang menyenangkan. Setiap orang cenderung menghindar pilihan yang tak berdampak pada kesenangan.

Yeremia 28: 1 – 17 menampilkan kisah umat Israel yang menghadapi pilihan dari warta dua nabi. Ada nabi bernama Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon dan ada Nabi Yeremia. Dengan mengatasnamakan Tuhan, Nabi Hananya menyampaikan kabar gembira kepada seluruh umat Israel, “Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.” (ay. 2 – 3).

Tentulah warta ini sangat menggembirakan umat Israel, yang memang saat itu sedang dalam pembuangan. Selama masa pembuangan mereka sangat menderita karena penindasan yang dialami. Karena itu, nubuat Nabi Hananya merupakan penghiburan di tengah penderitaan. Pesan yang disampaikan Hananya menjawab harapan umat karena menyenangkan hati umat.

Ketika mendapat tantangan dari Nabi Yeremia, Nabi Hananya memberi semacam perumpamaan tentang pembebasan itu dengan mengambil gandar dari tengkuk Yeremia dan mematahkannya. Hananya berkata di hadapan umat, "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" (ay. 11).