Rabu, 16 Maret 2022

TAK SELAMANYA YANG SENANGKAN HATI ITU BENAR

Hidup selalu menghadapi banyak pilihan. Setiap manusia dituntut untuk memilih. Dan setiap pilihan selalu mengandung konsekuensi. Apa pun konsekuensinya, setiap kita harus menerima, karena itu sudah pilihan. Adalah kecenderungan orang untuk memilih pilihan yang menyenangkan. Setiap orang cenderung menghindar pilihan yang tak berdampak pada kesenangan.

Yeremia 28: 1 – 17 menampilkan kisah umat Israel yang menghadapi pilihan dari warta dua nabi. Ada nabi bernama Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon dan ada Nabi Yeremia. Dengan mengatasnamakan Tuhan, Nabi Hananya menyampaikan kabar gembira kepada seluruh umat Israel, “Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu. Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.” (ay. 2 – 3).

Tentulah warta ini sangat menggembirakan umat Israel, yang memang saat itu sedang dalam pembuangan. Selama masa pembuangan mereka sangat menderita karena penindasan yang dialami. Karena itu, nubuat Nabi Hananya merupakan penghiburan di tengah penderitaan. Pesan yang disampaikan Hananya menjawab harapan umat karena menyenangkan hati umat.

Ketika mendapat tantangan dari Nabi Yeremia, Nabi Hananya memberi semacam perumpamaan tentang pembebasan itu dengan mengambil gandar dari tengkuk Yeremia dan mematahkannya. Hananya berkata di hadapan umat, "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" (ay. 11).

Minggu, 13 Maret 2022

STUDI AL-QUR'AN: PERBANDINGAN AYAT CINTA DAN AYAT MEMBUNUH

Setiap kali muncul aksi bom bunuh diri para teroris, selalu saja muncul slogan "Islam agama kasih". Seakan-akan agama kasih ini dibenturkan dengan agama teror. Benarkan islam itu agama kasih? Jika membandingkan ayat-ayat kasih dan ayat-ayat membunuh dalam Al-Qur'an, maka akan ditemukan jawabannya. Simak saja video berikut ini untuk menemukan jawabannya. Jika tak bisa diputar, coba klik di sini.



Jumat, 11 Maret 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-BAQARAH AYAT 146

Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya). (QS 2: 146)


Bagi umat islam, Al-Qur’an dilihat sebagai pusat bagi spiritualitas islam. Umat islam menyakini Al-Qur’an langsung berasal dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini diperkuat dengan pernyataan Allah sendiri, yang dapat dibaca dalam surah-surah Al-Qur’an. Jadi, Allah sendiri telah menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan-Nya. Karena itu, Al-Qur’an biasa juga dikenal sebagai kalam Allah. Orang islam akan sangat menghormati Al-Qur’an. Mereka melihat Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri adalah mahasuci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Orang yang melakukan hal itu harus dihukum berat dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Umat islam tidak hanya melihat Al-Qur’an sebagai sesuatu yang suci, karena sumbernya adalah mahasuci. Umat islam juga melihat Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran karena Allah SWT, yang telah berkata-kata di dalamnya, adalah mahabenar. Umat islam yakin akan kebenaran Al-Qur’an karena Allah sendiri telah berkata, “Al-Qur’an itu kebenaran yang meyakinkan.” (QS al-Haqqah: 51). Jadi, apa yang tertulis dalam Al-Qur’an tidak hanya suci tetapi juga benar.

Berangkat dari dua premis ini, maka bisa dikatakan bahwa kutipan ayat di atas merupakan perkataan Allah. Kutipan di atas terdiri dari 2 kalimat, dan keduanya disampaikan Allah kepada Muhammad di Madinah. Sekalipun Al-Qur’an dipercaya sebagai wahyu Allah, kutipan ayat Al-Qur’an di atas tidaklah sepenuhnya merupakan kata-kata Allah. Apa yang tertulis di dalam tanda kurung, seperti Taurat dan Injil, Muhammad, dan –nya, adalah merupakan tambahan kemudian yang bukan berasal dari Allah tetapi dari tanan manusia. Jadi, kata-kata Allah dalam ayat 146 ini aslinya berbunyi sebagai berikut: “Orang-orang yang telah Kami beri Kitab mengenalnya seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”

Membaca perkataan Allah yang asli ini tentulah banyak orang akan merasa kebingungan karena wahyu Allah tersebut menjadi tidak jelas. Siapa yang dimaksud dengan orang yang telah diberi kitab, siapa orang yang dikenal mereka, kitab apa yang dimaksud, kebenaran apa yang disembunyikan, dan apa yang diketahui. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat perkataan asli Allah tidak jelas, padahal Allah sendiri sudah menyatakan bahwa Al-Qur’an, yang merupakan wahyu-Nya, adalah keterangan yang jelas. Ketidak-jelasan inilah yang di kemudian hari membuat manusia menambahkan beberapa kata, yang dalam penulisannya diletakkan dalam tanda kurung, pada wahyu Allah. Penambahan ini akhirnya membuat wahyu Allah menjadi jelas dan bisa dipahami dengan mudah. Umumnya wahyu Allah di atas dipahami sebagai berikut: orang-orang Yahudi dan Kristen, yang telah mengenal baik Taurat dan Injil, sebenarnya mengenal betul Muhammad, karena hal itu tertulis dalam Taurat dan Injil. Akan tetapi, orang Yahudi dan Kristen menyembunyikan kebenaran ini.