Senin, 28 Februari 2022

MEMANG NARKOBA ITU KEJAHATAN LUAR BIASA, TAPI .....

Kurang lebih dua bulan ini Indonesia disibukkan dengan masalah hukuman mati bagi penjahat narkoba. Ada banyak pro dan kontra di dalam negeri. Tak ketinggalan juga reaksi dari beberapa negara sahabat. Reaksi tersebut sedikit membuat hubungan bilateral agak memanas. Contoh anyar akan hal ini adalah hubungan Indonesia dengan Pemerintahan Australia. Komentar Perdana Menteri Tonny Abbott memancing reaksi emosional bagi rakyat Indonesia.

Bagi saya reaksi rakyat Indonesia atas komentar Tonny Abbott berlebihan, karena masyarakat melihat komentar itu hanya dari satu sisi yang mungkin bukan dimaksud oleh Abbott sendiri. Memang Abbott menyinggung bantuan 1 miliyar untuk korban tsunami Aceh, namun tekanannya bukan pada jumlah uangnya melainkan pada kemanusiaannya. Prihatin akan nasib korban tsunami, Australia memberikan bantuannya. Abbott berharap agar pemerintah Indonesia melihat juga nilai kemanusiaan pada hukuman mati.

Salah satu alasan pemerintah menerapkan hukuman mati bagi terpidana narkoba adalah efek jera. Indonesia sudah memasukkan kasus narkoba ini sebagai extraordinary crime. Ada begitu banyak warga Indonesia yang mati akibat mengonsumsi obat-obatan terlarang ini. Badan Narkotika Nasional menyatakan bahwa setiap hari ada 40 orang mati karena penyalahgunaan obat terlarang. Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak buruknya, diberlakukanlah hukuman mati, biar orang jera. Akan tetapi, kenapa sanksi itu hanya diberlakukan kepada pengedar dan produsen?

Perlu diketahui masalah narkoba ini tidak hanya urusan pengedar dan produsen (bandar) saja. Bisnis obat-obatan terlarang ini bisa subur karena banyak faktor. Narkoba dapat berkembang baik di negeri ini karena ada pemakai dan juga aparat yang melindunginya. Ini adalah teori seorang gembong narkoba (saya lupa namanya). Aparat di sini mencakup polisi, tentara (lihat film American gangster) dan juga hakim dan jaksa.

Minggu, 27 Februari 2022

STUDI AL-QUR'AN: INI BUKTI MUHAMMAD BISA MEMBACA

Selama ini, baik umat islam maupun non muslim, disodorkan informasi bahwa nabi Muhammad itu adalah buta huruf, tidak bisa membaca. Akan tetapi, jika membaca ayat-ayat Al-Qur'an, maka akan ditemukan informasi yang mengejutkan: Muhammad bisa membaca. Siapa yang telah berbohong selama ini? Video ini memberikan ulasannya. Langsung saja simak videonya. Jika tak bisa diputar, coba klik di sini.



Sabtu, 26 Februari 2022

RENUNGAN MINGGU BIASA VIII - THN C

Renungan Hari Minggu Biasa VIII, Thn C

Bac I  Sir 27: 4 – 7; Bac II        1Kor 15: 54 – 58;

Injil    Luk 6: 39 – 45;

Dalam Injil hari ini, ada banyak nasehat bagus dari Yesus. Salah satu nasehat yang menarik adalah soal menjaga lidah kita. Hal ini terkait dengan kebiasaan menilai atau mengkritik orang lain. Dalam hal ini Yesus meminta para murid-Nya untuk terlebih dahulu menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (ay. 42).

Nasehat Yesus ini bisa ditemukan akarnya pada tulisan Perjanjian Lama, sebagaimana tadi kita dengar dalam bacaan kedua. Putra Sirakh juga berbicara soal lidah manusia. Bagi Putra Sirakh lidah atau tutur kata seseorang bisa menjadi penilaian kepribadiannya. Ada banyak penilaian seseorang dari lidahnya. Apakah seseorang itu jujur atau pembohong, apakah orang itu hanya bisa berkata-kata saja, apakah seseorang itu konsisten dengan ucapannya atau tidak, dan lain sebagainya.

Terkait tema ini, Paulus dalam bacaan kedua seakan hendak menegaskan topik tersebut dengan menampilkan contoh konkret. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan bahwa kesalahan lidah itu akan mendatangkan dosa. Karena itu, Paulus seakan mengajak kita untuk mencontoh pada Yesus Kristus. Pada Yesus ada keselarasan antara kata, sikap dan perbuatan. Inilah yang harus diperjuangan para murid Kristus. Paulus mengatakan bahwa kesetiaan pada perjuangan itu membuat “jerih payahmu tidak sia-sia.” (ay. 58).

Pada kampanye pilgub DKI 2017 lalu, Anies Baswedan banyak melontarkan kritik terhadap Ahok. Dia mengatakan kalau jadi gubernur, dia akan membangun manusia, bukan membangun benda mati seperti yang dilakukan Ahok. Anies juga sesumbar tidak akan menggusur warga seperti yang dilakukan Ahok. Dan masih banyak kritik lainnya. Apa yang terjadi setelah Anies jadi gubernur? Apa yang dikritiknya itulah yang dilakukannya. Hal ini membuat masyarakat menilai Anies tidak konsisten dengan ucapannya, bahwa Anies hanya pintar menata kata-kata, yang tak nyata dalam sikap dan kerja. Tentulah, Allah tidak menghendaki kita seperti ini. Melalui sabda-Nya, Allah mau supaya kita selalu menjaga lidah kita.