Selasa, 31 Agustus 2021

BERMASALAH BUKAN BERARTI SALAH

 


Masalah selalu mengiringi kehidupan setiap manusia. Tidak ada manusia yang tidak punya masalah. Masing-masing kita memiliki masalah, entah itu besar atau pun kecil, berkaitan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain dan lingkungan. Salah satu masalah yang biasa kita jumpai, terlebih dalam berelasi dengan orang lain, entah itu di lingkungan masyarakat atau juga di lingkungan kerja, adalah orang bermasalah.

Tak sedikit dari kita menilai bahwa orang bermasalah adalah orang yang salah. Dengan sangat mudah kita memvonis bersalah pada mereka yang bermasalah, tanpa pernah berusaha menyelami mengapa mereka itu bermasalah. Kita sudah dirasuki oleh pendapat umum bahwa orang bermasalah adalah salah. Mereka harus dibenahi.

Sebuah contoh pengalaman. Di sebuah tempat kerja, Tono selalu membuat Joko, sang pimpinannya, stress, tertekan dan lain sebagainya. Karena situasi ini, maka kebanyakan orang melihat kalau kondisi fisik Joko yang kurus dan kurang ceria sebagai efek langsung dari perilaku Tono. Joko makan hati. Dan orang pun menilai Tono sebagai orang bermasalah. Orang melihat bahwa Tono-lah biangnya sehingga ia harus dibenahi.

Akhirnya, pimpinan pusat membuat kebijakan untuk memindahkan Tono ke tempat kerja lain. Ketika sudah terjadi perpindahan itu, seorang teman langsung berkomentar kepada Joko, ”Wah, wajahmu sudah berseri ya. Kelihatan juga badan makin gemuk. Maklumlah, Tono sudah pindah.” Teman ini melihat bahwa Joko sudah terbebas dari beban deritanya, yang adalah si Tono. Teman ini melihat bahwa Tono adalah akar masalahnya. Bukan tidak mungkin, para penasehat pimpinan umum juga melihat hal yang sama sehingga mereka mengambil kebijakan untuk membenahi si Tono dengan cara memindahkannya.

Senin, 30 Agustus 2021

INILAH PENYAKIT YANG BIASA LANDA ORANG KANTORAN

 


Banyak pakar kesehatan mengungkapkan maraknya penyakit degenaratif, salah satunya dipicu kebiasaan manusia yang kurang aktivitas fisik. Sebagai contoh, orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di kantor hingga berjam-jam. Meskipun terlihat nyaman, duduk dalam posisi yang sama dalam waktu lama bisa memicu datangnya sejumlah penyakit. Belum lagi beban pekerjaan menumpuk yang bisa memicu stres.

Stres memang merupakan gangguan kesehatan psikologis yang umum menyerang orang-orang di dunia kerja. Pemicunya beragam, misalnya tenggat waktu, beban kerja terlalu tinggi, kompetisi antar karyawan berdasarkan target dan jadwal rapat yang padat.

Berdasarkan riset di Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 50 persen responden yakin stres membuat tubuh rentan terserang penyakit. Bahkan stres dapat memicu seseorang melakukan kekerasan pada orang-orang di sekitarnya. Umumnya, stres bisa memicu kondisi tubuh yang semakin menurun, misalnya sakit kepala, susah berkonsentrasi dan sakit perut.

Terlalu lama menatap layar komputer juga bisa memicu masalah kesehatan. Misalnya, sakit kepala dan mata terasa kering atau justru terasa “pedas” dan berair. Terlalu banyak mengakses informasi dari komputer juga bisa membuat seseorang mengalami stres. Bahkan, kebiasaan membaca dari jarak dekat dengan konsentrasi tinggi seperti menghadap layar komputer juga bisa memicu mata menjadi minus.

Jumat, 27 Agustus 2021

TELAAH ATAS SURAH AL-BAQARAH AYAT 111

 


Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata,”Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”
[QS 2: 111]

Umat islam percaya bahwa Al-Qur’an yang sekarang ini merupakan kumpulan wahyu Allah, yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad. Dasar keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang berasal dari Allah terdapat dalam Al-Qur’an sendiri. Artinya, Allah sendiri sudah mengatakan bahwa kitab itu datang dari-Nya; bahwa Dia menyampaikan langsung kepada Muhammad. Kurang lebih prosesnya sebagai berikut: Allah berfirman dan Muhammad mendengarkan, lalu meminta orang untuk menuliskan kembali apa yang didengarnya. Tulisan-tulisan wahyu Allah itu tersebar di banyak benda seperti kulit hewan, kayu atau daun. Setelah sekian lama, tulisan-tulisan itu dikumpulkan, dan jadilah Al-Qur’an seperti sekarang ini.

Berangkat dari pemaparan ini, dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas, pertama-tama harus dipahami, merupakan wahyu Allah. Apa yang tertulis di atas (kecuali yang berada di dalam tanda kurung, seperti “Yahudi dan Nasrani” dan “hanya”) adalah kata-kata Allah sendiri. Kata-kata yang berada dalam tanda kurung biasanya dipahami sebagai tambahan kemudian, yang berasal dari manusia. Jadi, aslinya kata-kata itu tidak pernah diucapkan Allah. Sepintas tidak ada yang aneh pada kutipan ayat Al-Qur’an di atas. Semuanya wajar. Akan tetapi, jika ditelaah dengan akal sehat, maka barulah ditemukan hal yang menarik.

Pertama-tama kita mencoba memahami wahyu tersebut sebagaimana adanya, seperti yang tertulis. Bukankah Allah telah berfirman bahwa Al-Qur’an adalah kitab atau keterangan yang jelas sehingga mudah dipahami? Pada wahyu di atas bisa dikatakan bahwa waktu itu ada orang Yahudi dan Nasrani mengatakan kalau yang masuk surga nanti adalah orang Yahudi dan Nasrani. Pernyataan mereka inilah yang kemudian dikutip Allah dan disampaikan kepada Muhammad. Lalu Allah menanggapi pernyataan mereka itu dengan berkata, “Itu (hanya) angan-angan mereka.” Artinya, pernyataan orang Yahudi dan Nasrani hanyalah angan-angan saja. Kemudian Allah meminta Muhammad untuk menyampaikan kepada mereka, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” Di sini, melalui Muhammad, Allah meminta bukti dari kebenaran pernyataan orang Yahudi atau Nasrani.

Terlihat jelas kalau makna kutipan ayat di atas, jika dibaca apa adanya, tidak ditemukan ada sesuatu yang aneh. Semuanya normal. Sekarang kita akan mengkritisi beberapa poin dari wahyu Allah itu.