Rabu, 07 April 2021

INSPIRASI DARI KISAH WANITA PEZINAH


 

Ketika sedang mengajar, beberapa kaum pria datang dengan membawa seorang perempuan. Menurut mereka perempuan itu kedapatan berpenampilan seksi sehingga menggoda seorang pemuda untuk berbuat mesum. Bahkan penampilan seksi itu menyebabkan banyak kaum pria jatuh ke dalam dosa. Karena itu, perempuan itu harus dihukum. Mereka minta pendapat Sang Guru.

Sang Guru menatap wajah mereka satu per satu dengan wajah memelas. Dengan tenang ia kembali duduk dan membisu. Kaum pria tadi terus bertanya mendesak. Mereka ingin mendengarkan pendapat Sang Guru yang terkenal bijak. Sementara si perempuan sudah pasrah ketakutan. Dia siap menerima hukuman, sekalipun ia merasa tak bersalah. Bukankah wanita punya hak untuk berpenampilan seksi. Ia sama sekali tidak punya niat untuk menggoda siapa pun.

Karena terus menerus didesak, akhirnya Sang Guru berdiri. Setelah kembali menatap wajah mereka satu per satu dengan wajah berbelas, ia berkata, “Siapa di antara kalian yang tidak berdosa, silahkan menjatuhi hukuman kepada perempuan ini.” Setelah berkata demikian, ia kembali duduk dan membisu.

Para kaum pria tadi saling pandang satu sama lain. Semua merasa berdosa. Akhirnya mereka pergi meninggalkan perempuan itu dan Sang Guru. Tak ada satu orang pun yang menjatuhkan sanksi kepada perempuan, yang bagi kaum pria dilihat sebagai biang dosa.

Sang Guru menatap ke sekitar, tak ditemukannya siapapun selain dirinya dan perempuan itu. Ia bertanya, “Kemana mereka tadi?”

“Sudah pergi.” Sahut si perempuan dengan nada harap-harap cemas.

“Tidak adakah yang menghukum kamu?”

“Tidak ada Guru.”

“Pergilah! Aku pun tidak menghukum engkau.”

diambil dari tulisan 7 tahun lalu

Senin, 05 April 2021

MENGENAL POLA PERILAKU ANAK


 

Memiliki anak adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Anak bisa menjadi jawaban atas setiap doa yang selalu dipanjatkan segera setelah menikah. Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa menjadi orangtua tidak hanya sebatas mendapatkan anak, tetapi juga harus ditindak-lanjutnya dengan merawat, menjaga, membesarkan dan terutama mendidik anak. Untuk menunjang tugas ini, orangtua perlu tahu perilaku anak.

Dilansir dari Elizabeth B. Hurlock, PSIKOLOGI PERKEMBANGAN: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (edisi 5). Jakarta: Erlangga, 1980, hlm. 118-119, orangtua harus memperhatikan pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial pada anak. Berikut ini beberapa deskripsi pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial pada anak.

POLA SOSIAL

Meniru

Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan prilaku orang yang sangat ia kagumi.

Persaingan

Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain sudah tampak pada usia empat tahun. Ini dimulai di rumah dan kemudian berkembang dalam bermain dengan anak di luar rumah.

Minggu, 04 April 2021

INILAH AYAT-AYAT CINTA DALAM AL-QUR’AN


 

Sudah jadi rahasia umum kalau islam dikenal sebagai agama teror, radikal dan penuh kekerasan. Semua itu selalu dikaitkan dengan islam karena demikianlah ajarannya. Akan tetapi, tak sedikit tokoh islam menyanggah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa agama islam telah dibajak oleh kaum teroris, radikalis dan intoleran. Dengan berani mereka menyuarakan bahwa islam adalah agama kasih.

Benarkah islam itu agama kasih? Harus diketahui bahwa setiap ajaran agama selalu mengacu pada kitab suci. Di sana ada pedoman dan tuntunan hidup bagi umatnya. Bagaimana dengan islam?

Kitab suci umat islam adalah Al-Qur’an. Umat islam yakin bahwa kitab sucinya langsung diturunkan Allah kepada nabi Muhammad. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an merupakan kata-kata Allah sendiri. Jika agama islam adalah agama kasih, maka ajaran kasih itu tertulis juga di dalam Al-Qur’an. Dengan kata lain, Allah mengajarkan tentang kasih kepada umat-Nya, dan pedoman itu tertuang dalam Al-Qur’an.

Berikut ini akan ditampilkan “ayat-ayat cinta” yang ada dalam Al-Qur’an. Pertama-tama perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan “ayat-ayat cinta” adalah ayat dalam Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata dengan kata dasar “cinta” (kecintaan, pecinta, mencintai dan dicintai) dan “kasih” (mengasihi, dikasihi, kasihan, pengasih dan kekasih). Kami mendasarkan pada Al-Qur’an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI, Edisi Terkini Revisi Tahun 2006. Namun sebelum membaca teks-teks Al-Qur’an di bawah ini, kami hendak memberikan beberapa petunjuk penting.

1.    Dengan akal sehat, berusahalah memahami kalimat atau ayat yang dibaca tanpa peduli dengan latar belakang teks.

2.    Sadarilah bahwa yang dibaca itu adalah kata-kata Allah. Bertanyalah dalam hati, “Benarkah ini dari Allah?”

3.    Kaitkan atau bandingkanlah satu ayat dengan ayat lainnya, dan bertanyalah sekali lagi dalam hati, “Benarkah ini dari Allah?”

4.    Setiap kali membaca 1 ayat, bertanyalah dalam hati, “Jelaskah ayat tadi?” dan “Apakah ayat tadi benar?”