Kamis, 09 Juli 2020

MENGENAL KATEGORI TIPU-TIPUAN


“Awas, bohong itu dosa!” Demikian pengajaran guru sekolah minggu kepada anak-anak sekolah minggu. Sepertinya ajaran inilah yang paling membekas dalam ingatan anak-anak usia TK sampai SD kelas empat. Hal ini terbukti dari ucapan anak-anak ini setiap kali mereka ingin mendapatkan kepastian atau kebenaran, baik dari rekan seusianya maupun dari orang dewasa. “Awas, ibu bilang bohong itu dosa!”
Bohong atau tipu merupakan dua hal yang sama. Dari segi psikologis, berbohong atau menipu sering dilihat sebagai bentuk self-defence atau pertahanan diri. Yang ingin dipertahankan adalah kepentingan dirinya, yang biasanya adalah harga diri. Sebab, jika tidak berbohong, alias jujur, maka malu yang didapat. Dan kalau malu, maka harga diri akan hancur.
Lantas, apakah setiap berbohong itu adalah wujud self-defence? Apakah bisa dikatakan juga bahwa menipu itu dosa?

Rabu, 08 Juli 2020

INILAH DAMPAK SEKS SEBELUM MENIKAH BAGI RUMAH TANGGA


Dewasa kini sudah lazim orang kawin dulu baru menikah. Sering orang menikah karena sudah hamil. Dikenal dengan istilah MBA (marriage by accident). Sangat jarang menemukan perkawinan, dimana pasangannya sama sekali belum pernah melakukan hubungan seksual. Lebih parah lagi yang terjadi adalah “Kawin dengan A, menikah dengan B”.
Fenomena ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan, khususnya di kalangan anak muda. Gaya hidup bebas membantu terwujudnya fenomena ini. Akan tetapi, kebanyakan orang lupa bahwa ternyata hubungan seksual yang dilakukan sebelum menikah mempunyai dampak buruk bagi kehidupan rumah tangga di kemudian hari.
Hal ini pernah dilakukan penelitian. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan: pengaruh psikologis dalam kehidupan pernikahan perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah. 
Teori triangular love dari Stenberg digunakan sebagai teori utama dalam penelitian ini. Menurut teori tersebut, cinta menjadi alasan untuk perempuan muda terlibat dalam hubungan seksual pranikah. Teori Levinson dipergunakan untuk menggali permasalahan keluarga dan konsep Rapoport digunakan untuk menggali konflik yang terjadi dalam keluarga. Wawancara dan observasi menjadi metode utama yang digunakan dalam penelitian ini.
Proses pengambilan data dilakukan antara bulan Juni hingga Juli 2000, dan untuk mengetahui jawaban yang sama dilakukan cek dan ricek dengan menggunakan kuesioner tertutup yang diberikan satu bulan setelah wawancara. Responden penelitian terdiri dari empat perempuan berusia antara 20 hingga 34 tahun yang memiliki pengalaman melakukan hubungan seksual pranikah pada saat berusia 17-30 tahun.
Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa hubungan seksual pranikah berpotensi untuk menciptakan konflik dalam keluarga. Keempat responden tidak memiliki pengalaman konflik karena permasalahan yang berkaitan dengan keperawanan, bagaimanapun, hubungan seksual pranikah menjadi faktor pencetus akan kecemburuan, salah pengertian antar pasangan, konflik karena permasalahan anak, dan masalah hukum.
diolah kembali dari tulisan 7 tahun lalu

DI ANTARA KASIH SAYANG, HARTA DAN PRESTASI


Suatu ketika, ada seorang wanita  baru kembali dari pasar. Dalam perjalanan pulang ia melihat ada 3 orang pria berjanggut  duduk di halaman depan rumah. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut."
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar."
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali," kata pria itu.
Ketika suaminya pulang, si isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini."