Selasa, 17 Maret 2020

INILAH DAMPAK BURUK MENIKAH DIUSIA MUDA


Persoalan pernikahan usia dini masih kerap terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Umumnya hal ini terjadi di tempat-tempat yang tingkat pendidikannya rendah. Jadi, ada korelasi antara pendidikan rendah dengan pernikahan dini. Sekedar diketahui, pernikahan dini itu sebenarnya melanggar hak anak, terutama anak perempuan. Anak perempuan, sebagai pihak yang paling rentan menjadi korban dalam kasus pernikahan dini, juga mengalami sejumlah dampak buruk.
Plan Indonesia, organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak, menyampaikan hasil temuannya mengenai pernikahan dini. Plan mencatat, 33,5 persen anak usia 13-18 tahun pernah menikah, dan rata-rata mereka menikah pada usia 15-16 tahun.
Penelitian ini dilakukan di delapan kabupaten di seluruh Indonesia selama Januari-April 2011. Wilayah penelitian mencakup Kabupaten Indramayu (Jawa Barat); Grobogan dan Rembang (Jawa Tengah); Tabanan (Bali); Dompu (NTB); serta Timor Tengah Selatan, Sikka, dan Lembata (NTT).

Minggu, 15 Maret 2020

PAUS FRANSISKUS: PENDIDIKAN MENYANGKUT MASA DEPAN UMAT MANUSIA

Terlepas dari tujuan yang dirumuskan oleh PBB dan badan-badan internasional lainnya, Paus Fransiskus mengatakan umat manusia membutuhkan sebuah kesepakatan pendidikan yang diperbaharui ”yang bertujuan untuk membentuk orang-orang yang matang, yang mampu memperbaiki jalinan hubungan antar-manusia dan menciptakan dunia yang lebih bersaudara.” Hal ini disampaikan Paus Fransiskus kepada para peserta konferensi  “Pendidikan: Kesepakatan Global” di Vatikan, Jumat 7 Februari 2020. Konferensi ini adalah salah satu dari rangkaian acara menjelang penanda-tanganan “Kesepakatan Global Pendidikan”, yang diadakan oleh Paus Fransiskus di Vatikan pada 14 Mei 2020.
“Kemiskinan, diskriminasi, perubahan iklim, ketidak-pedulian yang mengglobal dan eksploitasi manusia semua mencegah berkembangnya jutaan anak,” ujar Paus Fransiskus. Merefleksikan bagaimana pendidikan dasar telah menjadi sebuah “ideal normatif di seluruh dunia,” Paus Fransiskus memuji kemajuan yang telah terjadi yang membuat pendidikan dasar hampir merata, sambil juga kesenjangan gender terus berkurang.
Paus Fransiskus mengingatkan untuk mempertimbangkan cara mewariskan pengetahuan dan nilai-nilai pendidikan. Lewat pendidikan manusia dapat mencapai potensi maksimalnya dan menjadi sadar, bebas dan bertanggung jawab. Terlihat jelas bahwa pendidikan itu selalu menyangkut masa depan kehidupan manusia.
Karena itu, “kepedulian terhadap pendidikan adalah kepedulian bagi generasi masa depan dan masa depan umat manusia. Ini adalah kepedulian yang berakar dalam harapan dan membutuhkan kemurahan hati dan keberanian.” Demikian papar Paus Fransiskus, dan melanjutkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mentransmisikan konsep. Pendidikan menuntut kerja sama dari semua yang terlibat, yaitu keluarga, sekolah serta lembaga sosial, budaya dan agama.

Jumat, 13 Maret 2020

ISLAM AGAMA TEROR


KETIKA muncul aksi terorisme, selang beebrapa hari berikutnya muncul reaksi dari umat islam bahwa terorisme bukanlah islam. Banyak tokoh islam membela diri dengan mengatakan bahwa para teroris telah membajak agama islam, yang adalah agama damai, rahmatan lil alamin. Ada juga tokoh islam berasionalisasi dengan mengatakan bahwa terorisme ada pada agama manapun. Namun sayangnya, ketika diminta bukti, mereka sulit memberikan contoh. Apa yang diberikan sangat jelas berbeda dengan terorisme islam.
Terorisme ada pada agama lain harus dipahami dengan pelaku teror bisa dari agama mana saja. Akan tetapi, harus juga disadari dan diakui bahwa ideologi terorismenya berbeda. Pada agama lain, pelaku terorisme mendasarkan tindakannya pada kepentingan politik dan ekonomi (terkadang sosial juga), sedangkan pada agama islam, dasar tindakan terorisme ada pada ajaran agama. Karena itu, tidaklah salah kalau dikatakan bahwa islam adalah agama teror, karena ajaran agamanya dijadikan ideologi terorisme.
Sumber utama ajaran islam ada pada Al Quran dan hadis. Para teroris selalu mendasarkan perbuatannya pada ajaran agama yang tertuang dalam Al Quran, yang dikemudian hari dikenal sebagai ayat-ayat pedang. Bagi umat islam, khususnya para teroris, Al Quran diyakini langsung berasal dari Allah. Hal ini didasarkan pada wahyu Allah dalam QS 32: 2 dan 39: 1 – 2, 41. Dan bagi kaum teroris, Al Quran merupakan kitab yang jelas, seperti yang dikatakan Allah dalam QS 54: 17, sehingga tidak dibutuhkan lagi tafsiran. Apa yang tertulis dalam Al Quran, itulah yang harus dipahami.
Seperti yang telah disampaikan, ayat-ayat Al Quran dijadikan dasar ideologi terorisme. Berikut ini adalah kutipan-kutipan Al Quran, yang dapat dijadikan dasar argumen islam sebagai agama teror (kami menggunakan Quran Karim):