Senin, 04 Desember 2017

HALANGAN NIKAH KODRATI

Sekalipun setiap orang punya hak untuk menikah, bukan lantas berarti dia bebas menggunakan haknya sesuka hati. Ada batasan tertentu yang menghalangi orang untuk memenuhi haknya. Halangan nikah diterapkan karena seseorang tidak mampu untuk menikah dengan sah. Halangan nikah dibuat untuk mengejar nilai-nilai dan tujuan hakiki dari lembaga pernikahan dan bagi kebaikan masyarakat.
Pelanggaran terhadap halangan nikah membuat pernikahan menjadi tidak sah. Ada 2 jenis halangan nikah, yaitu halangan yang bersifat kodrati/ilahi dan gerejawi. Halangan nikah yang kodrati tidak dapat dihapus oleh kuasa mana pun. Yang termasuk halangan nikah kodrati adalah:
Ikatan pernikahan sebelumnya. Ciri hakiki pernikahan katolik, yaitu monogami dan tak terceraikan. Dasarnya adalah apa yang sudah disatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Jadi, orang yang masih terikat dengan pernikahan tidak bisa menikah lagi dengan sah, kecuali ikatan pernikahan itu sudah diputuskan oleh kematian dan/atau tribunal. Orang juga tidak bisa menikah dengan seseorang yang masih punya ikatan pernikahan.
Hubungan darah. Ada dua jenis hubungan darah, yaitu vertikal dan horisontal. Vertikal, misalnya seperti antara orangtua dengan anak, paman dengan keponakan, dll; sedangkan horisontal seperti antara kakak dan adik atau sesama saudara sepupu. Ada banyak alasan kenapa pernikahan sesama saudara dihalang, salah satunya adalah menghindari lahirnya generasi cacat atau kelainan genetis, misalnya syndrome harlequin. Halangan hubungan darah hingga tingkat 2 tidak bisa dihapus, sedangkan untuk tingkat 3 dan 4 bisa didispensasi oleh kuasa eksekutif gerejawi.
Impotensi seksual. Halangan impotensi ditetapkan agar pasutri dapat menyempurnakan pernikahan yang telah diteguhkan dengan hubungan seks. Jadi, yang dimaksud dengan impotensi ialah ketidak-mampuan untuk melakukan relasi khas suami-istri, yang menurut hakikat dan tujuannya menyempurnakan pernikahan itu sendiri.
by: adrian

Jumat, 01 Desember 2017

KESAMAAN KAUM WAHABI DAN KAUM KHAWARIJ

Islam selalu dikenal dengan agama rahmatan lil alamin, yang artinya agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan. Akan tetapi, setiap aksi intoleran atau gerakan radikal selalu dikaitkan dengan islam. Terorisme selalu dikuasai oleh islam, meski banyak juga tokoh islam menyangkal bahwa para teroris itu bukanlah islam. Hal inilah yang sering membuat umat non muslim bingung.
Ketika muncul gerakan-gerakan islam radikal yang intoleran, selalu muncul dua istilah, yaitu wahabi dan Khawarij. Ada kesan bahwa jika ada aksi anarkis yang mengatas-namakan islam, selalu diarahkan kepada dua nama ini. Seakan-akan dua nama ini, wahabi dan khawarij, hanya sebagai kambing-hitam. Menjadi pertanyaan, apakah wahabi dan khawarij itu bukan islam?
Umat non muslim mungkin banyak yang tidak tahu soal wahabi dan khawarij ini. Berikut akan ditampilkan kesamaan dua gerakan islam yang selalu dijadikan kambing-hitam jika terkait dengan radikalisme dan terorisme. Persamaan ini kami ambil dari buku Achmad Imron R, Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi: Sejarah, Doktrin dan Akidah (hlm. 122 – 123).

MANTAN PENTOLAN FPI BONGKAR FPI

Tulisan ini menampilkan sharing pengalaman Syaiful, yang mengaku pernah terlibat dalam organisasi Front Pembela Islam (FPI), kepada peserta Promotion and Protecting Freedom of Religion or Belief and Countering Religious Intolerance, yang berkesempatan mampir ke Bandung. Sebagaimana sudah diketahui publik, FPI merupakan ormas islam yang intoleran, yang selalu melihat non muslim sebagai kafir. Dan sesuai perintah Allah dalam Al Quran, kafir itu harus dimusuhi atau bila perlu dibunuh.
Sekalipun jelas-jelas intoleran, FPI tetaplah mewakili islam. Bahkan pernah salah satu petingginya menyatakan bahwa semua tindakan mereka sudah sesuai dengan ajaran islam. Jadi dengan kata lain, FPI sungguh-sungguhenampilkan wajah islam yang sebenarnya. Hal ini terbukti bahwa Majelis Ulama Indonesia, sebagai otoritas islam di Indonesia, tidak pernah menegur atau mengeluarkan fatwa sesat terhadap FPI.
Dalam sharing-nya, Syaiful  mengatakan bahwa ketika ia memasuki usia 66 tahun ia mendapatkan pencerahan. Dari sinilah ia kemudian bisa melihat FPI, dan dia menemukan ada yang keliru. Peristiwa Syaiful ini mirip dengan peristiwa manusia goa-nya Plato. Orang yang terlepas dari belenggu sehingga bisa keluar dari goa menemukan bahwa dunia sebenarnya ada di luar goa. Ketika ia mengajak teman-temannya untuk keluar dari goa, mereka mengatakan bahwa dunia sebenarnya adalah dalam goa.
Memang pernyataan Syaiful ini masih tetap menyisakan pertanyaan. Apa saja yang diceritakan oleh mantan anggota FPI ini? Baca saja sendiri di Kesaksian Mantan Pentolan FPI.
budak bangka: Kesaksian Mantan Pentolan FPI