Jumat, 24 Februari 2017

Kedekatan dengan Pemimpin

Setiap orang tentu punya keinginan untuk bisa dekat dengan pemimpin, orang yang berkuasa. Pemimpin di sini selalu dikonotasikan dengan kekuasaan. Karena itu, dekat dengan pemimpin dimengerti juga dengan dekat dengan kekuasaan. Ada banyak alasan orang berkeinginan untuk dekat dengan pemimpin ini. Salah satunya adalah mendapatkan privilese atau keistimewaan.
Tulisan “Kedekatan dengan Pemimpin” mencoba mengulas masalah ini. Sangat menarik bahwa penulis tidak hanya merefleksikan topik ini dari sudut pemimpin duniawi saja, melainkan juga mengaitkannya dengan pemimpin spiritual seperti Gereja. Hal ini terlihat dari gambaran awalnya, yaitu pengalaman perjumpaan dengan orang yang mengutarakan soal kedekatan dengan pemimpin daerah (baca: bupati).
Tak bisa dipungkiri, masalah kedekatan dengan penguasa ini terjadi juga dalam kehidupan menggereja. Banyak umat berusaha untuk dekat dengan “penguasa” Gereja, baik di tingkat keuskupan, yayasan keuskupan maupun paroki. Di sini mau dikatakan bahwa kehidupan Gerejawi tak jauh beda dengan kehidupan duniawi.
Lebih jauh mengenai tulisan ini, silahkan baca di: Budak Bangka: Kedekatan dengan Pemimpin

Kamis, 23 Februari 2017

KETIKA HAWA CEMBURU

Tidak biasanya Adam pulang ke rumah malam. Biasanya jam 18.00 dia sudah ada di rumah. Namun tidak dengan hari ini. Sudah jam 19.00 Adam tak kelihatan batang hidungnya. Di rumah Hawa sudah lama menanti dengan cemas dan gelisah.
Sekitar pukul 19.30 Adam muncul di depan rumah. Dia langsung disambut omelan Hawa.
Hawa : Kamu kencan dengan cewek lain, ya?
Adam : Cewek lain? Kamulah isteri saya satu-satunya. Tidak ada yang lain. Kamu adalah satu-satunya cewek di bumi ini.
Hawa tidak langsung percaya dengan penjelasan Adam. Dia sudah dibakar api cemburu.
Hawa : Angkat bajumu!
Hawa memberi perintah, yang membuat Adam bingung. Namun akhirnya Adam mengikuti saja apa yang diminta sang isteri. Adam mengangkat baju bagian bawah ke atas sehingga terlihat jelas tubuhnya. Tak lama kemudian dia merasakan ada yang menyentuh-nyentuh rusuknya, membuat Adam sedikit geli.
Adam : Apa yang kamu kerjakan?
Hawa : Aku sedang menghitung tulang rusukmu, apakah ada yang hilang atau masih utuh.
edited by: adrian
Baca juga humor lainnya:
Untung Gak Pake Celana Dalam

Selasa, 21 Februari 2017

PENGHORMATAN & PENGHARGAAN KEUTUHAN CIPTAAN DEMI KESEJAHTERAAN HIDUP BERSAMA

Pengantar
“Mewujudkan Hidup Sejahtera” menjadi garapan tema Gerakan APP tahun 2012 – 2016. Hidup sejahtera berarti hidup dalam kebenaran,damai dan sukacita. Ketiga faktor ini merupakan nilai fundamental Kerajaan Allah yang akan meresapi dan mewujud dalam tatanan kehidupan konkret manusia seturut dimensi hidupnya. Dimensi hidup manusia, sebagai makhluk individu (religius) yang hidupnya terarah kepada Allah, akan bertumbuh dan berkembang dalam perjumpaannya di tengah-tengah umat manusia (masyarakat) dan lingkungan hidupnya (alam semesta) sebagai makhluk sosial.
Mewujudkan hidup sejahtera menjadi arah dan tujuan hidup manusia. Panggilan dan tanggung jawab hidup manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial terungkap dan terwujud dalam kerja. Kerja sebagai pengungkapan diri (individu) dan sekaligus menjadi sarana yang efektif untuk melawan kemiskinan dan menuju kesejahteraan hidup (bdk. Amsal 10,4), serta mempraktekkan suatu belarasa yang dapat diwujudkan dengan berbagi hasil kerja dengan mereka yang berkekurangan (bdk. Effesus 4,28). Kerja sebagai wujud keluhuran martabat manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kerja itu suci dan untuk mencapai kesucian, manusia harus belajar sepanjang hidup. Kesucian kerja itu dinyatakan dengan mengolah dan mengelola hidup sebagai karunia dan rahmat Allah yang ditujukan untuk mencapai kepenuhan kesejahteraan hidup bersama. Proses pergulatan hidup manusia untuk mengolah dan mengelola hidup sebagai rahmat dan karunia Allah akan melahirkan daya hidup sebagai daya juang untuk hidup pantang menyerah. Daya hidup yang dimaksud adalah ketekunan, keuletan dan kesabaran yang akhirnya akan mendasari dalam proses mewujudkan kemandirian dan keberlanjutan kesejahteraan hidup. Hal ini, sudah menjadi pengolahan bersama dalam Gerakan APP Tahun 2012 – 2016.
Kemandirian dan keberlanjutan hidup sejahtera terarah pada kesejahteraan hidup bersama. Kesejahteraan hidup bersama mencakup hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam ciptaan dan manusia dengan Allah. Kesejahteraan hidup bersama terbangun dalam keutuhan ciptaan. Pembaharuan dan perubahan hidup terus menerus dalam memandang keutuhan ciptaan sebagai bagian utuh kesejahteraan hidup manusia menjadi tema sentral dalam Gerakan APP Tahun 2017 – 2019, “Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan Demi Kesejahteraan Hidup Bersama”. Hal ini melanjutkan Gerakan APP Tahun 2012 – 2016 “Mewujudkan Hidup Sejahtera”.
Dasar Perumusan Gerakan APP