Jumat, 08 Juni 2012

Bahaya Televisi


MATIKAN TV-MU

Keselong 
Tuan-tuan. Suatu hari di kampung saya gempar. Anak-anak menghilang secara tiba-tiba. Tidak ada lagi yang berkeliaran di jalanan dengan teriakan-teriakan khas anak-anaknya. Tidak ada lagi yang berlarian di pematang sawah atau bersepeda di jalan-jalan kampung. Kampung jadi sepi dari rengekan mereka meminta uang pada ibunya atau ketika jatuh kesakitan. Semakin lama suasana pun semakin sepi akan suara dan tawa mereka, hanya suara orang tua mereka yang semakin panik dan riuh berdengung kerena anaknya hilang. Mereka kini berkumpul di rumah Pak Lurah.

“Tidak salah lagi, anak dikampung ini keselong!” Kata seorang tua yang berpakaian serba hitam di sepan rumah Pak Lurah. Ki Jenggot, begitu mereka menyebutnya. 

Tiba-tiba saja suasana menjadi semakin riuh seperti lebah yang bergerumun. Masyarakat semakin cemas akan anak-anaknya. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menemukan anak-anak mereka.

Tulisan di atas saya kutip dari sebuah cerita pendek yang sempat saya baca beberapa hari lalu. Cerpen ”Keselong” karya Yons Ababil itu saya dapatkan dari sebuah majalah tengah bulanan nasional. Tiba-tiba, ketika sampai pada batas ini, saya tersentak. Lho! Bukannya ini memang benar-benar sedang terjadi? Ya, sedang terjadi di waktu kita bernafas dan di tempat kita berpijak. Tidak salah lagi, di sini. Anak-anak kita sedang menghilang. Entah siapa yang membawa mereka dari sini, pangkuan kita. Juga entah, mereka keselong (disembunyikan makhluk halus) atau tidak, seperti dalam cerpen ini. Yang jelas penulis di sini telah mengingatkan kita akan satu hal ini.

Bukankah mereka masih ada. Masih bisa kita lihat mereka bermain sepak bola dekat lapangan Pak Kepala Desa? Mereka juga masih ramai bersepeda di jalanan ketika pagi menuju ke sekolah? 

Jika itu pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan berontak untuk segera keluar, maka jawabannya, tidak. Mereka memang masih bisa kita lihat dengan mata telanjang. Tapi coba rasakan, hawa mereka tidak lagi terasa. Hawa khas anak-anak ketika bergerak berloncatan ke sana kemari. Ketika berteriak meneriakkan keinginannya. Bisa dikatakan jiwa mereka yang telah hilang. Entah siapa yang telah mengambilnya diam-diam dari kita. Kemudian menukarnya dengan jiwa-jiwa misterius yang tidak pernah kita ketahui. Anak-anak bukan lagi anak-anak kita dulu. Mereka telah benar-benar berubah. 

Ingat-ingat saja tentang berita yang muncul setiap pagi di rubrik berita kriminal, hampir setiap hari kita akan melihat, beberapa kasus kejahatan yang sudah sering dilakukan anak-anak. Sebut saja seperti mencuri, mengedarkan sekaligus memakai narkoba, bahkan sampai berani berpesta seks di kelas. Semua pekerjaan yang sebenarnya juga tidak pantas untuk dilakukan orang dewasa. Tidak hanya itu anak-anak sekarang adalah anak yang kecanduan dengan sesuatu bernama hiburan, juga segala sesuatu yang bersifat konsumtif. Meskipun tidak semua mengalami kejadian seperti itu, tapi ini patut untuk kita khawatirkan. Karena melihat begitu pesatnya virus ini menyebar, rasanya tidak akan lama lagi seluruh anak-anak di negeri ini akan menjadi korban.  

Matikan TV-Mu
“Saudara-saudara, memang benar apa yang dikatakan Ki Jenggot. Anak-anak kita keselong. Tapi kita tidak akan pernah menemukan mereka di tempat-tempat yang kita cari sedari tadi. Tidak di pohon-pohon beringin atau batu-batu yang kita keramatkan. Makhluk-makhluk itu kini sudah mempunyai tempat baru yang lebih nyaman bagi mereka.” 

“Lalu dimana anak kami Wak?”

“Ayolah Wak tolong kami”

“Di mana anak kami Wak?”

“Ikuti saya ! “

Lalu seseorang yang biasa dipanggil Wak Haji Muksin itu masuk ke dalam rumah Pak Lurah. Sebagian masyarakat yang berada di luar ikut masuk menuruti keingintahuannya, sampai berdesak-desakan. Padahal masih banyak sekali orang lain yang masih berada di luar. Apa yang kira-kira akan dilakukan olehnya. Wak Haji Muksin lalu mendekati sebuah benda berwarna hitam berkaca dengan beberapa tombol di sisinya. Masyarakat yang melihatnya semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Di sinilah anak-anak kalian disembunyikan.” kata Wak Haji sambil mengangkat benda itu tinggi-tinggi.

“Lho, Wak Haji, bukankah itu televisi?”

“Siapa bilang ini gethuk”

“Jadi ada dimana sebenarnya mereka wak?”

“Ayolah wak buktikan kata-katamu.”

Lalu Wak Haji Muksin mengangkat lagi benda itu lebih tinggi dan membantingnya ke lantai. Pak Lurah mencoba menahannya, tapi sudah terlambat. Benda bernama televisi itu sudah hancur berkeping-keping. Kini semua memperhatikan pecahan televisi pak lurah di lantai tanpa ada suara.

Tiba-tiba muncul Ria dan Husein dari kepingan pecahan kaca televisi itu. Semua terperanjak. Bu Lurah dan suaminya, Pak Lurah, langsung memeluk kedua anaknya itu sambil menciumnya berkali-kali. Saluruh masyarakat yang mengetahuinya tersentak kaget.  

Sekali lagi saya tersentak, sebagaimana orang-orang di sana kaget kerena tidak pernah menyadarinya lebih dulu. Sekali lagi saya merasa kejadian pada kelanjutan cerpen tadi juga benar-benar terjadi di dunia kita. Ya, televisilah pelakunya. Penyebab dari kebingungan kita menemukan anak-anak kita yang telah ia bawa pelan-pelan dari rumah kita berkedok musuh dalam selimut. Televisi yang sengaja disediakan di rumah untuk membantu menyegarkan pikiran, sebagai media hiburan, menambah ilmu pengetahuan, fasilitas penambah pengetahuan tentang informasi dari seluruh dunia, ternyata malah menyembunyikan jiwa-jiwa original anak-anak kita. Lalu menukarnya dengan jiwa-jiwa bermental uang, baju bagus, kekuasaan, senang-senang tanpa memikirkan masa depan. 

Maka segera matikanlah televisimu. Matikan segera sebelum ia kembali dan meracuni anak-anak kita dengan berbagai macam racun mematikannya. Yang dengan dosis tingginya bisa dengan segera merasuk ke dalam pikiran anak dan merubahnya menjadi makhluk lain. Padahal, seperti yang sudah kita ketahui, merekalah calon-calon kuat pengganti generasi-generasi tua yang tidak lama lagi akan semakin rapuh dan berhenti bernafas dimakan usia. Mereka harus benar-benar dipersiapkan untuk itu. Dalam hal ini, Seto Mulyadi (Komnas Perlindungan Anak), juga mengakui bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap pola perilaku anak-anak atau remaja. 

Kalau masih belum percaya, coba saja ingat-ingat apa yang telah televisi sajikan kepada kita akhir-akhir ini. Tayangan berita-berita kriminal, yang semakin mengajari anak-anak kita untuk berani melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Atau sinetron-sinetron dengan tema tetap, tanpa perubahan di setiap sinetronnya. Hanya tentang cinta, harta, kekuasaan, kemudian tokoh antagonis melakukan segala cara untuk menang, hingga akhirnya begini, begini dan begitu. Seakan sudah bisa ditebak. Dan parahnya lagi, hanya sedikit saja perilaku yang berbau edukatif. Karakter negatif lebih sering muncul daripada karakter positif. Juga banyak ditemukan unsur kental seksualitas. Tercatat dalam sebuah penelitian, sikap berpakaian tidak senonoh 49 % dari 196 pemunculan, merayu 14 %, merangkul 11 %, menatap penuh hasrat terhasap lawan jenis 11 % (Republika, 30 Desember 2005). Tidak seperti yang orang tua harapkan pada sebuah televisi ketika membelinya. Sehingga tayangan yang lebih banyak mendominasi tayangan-tayangan televisi tersebut mengajak anak untuk meniru apa yang ada di dalamnya. Dari cara berpakaian, menggunakan uang jajan, budaya konsumtif, juga dalam menghadapi sebuah masalah atau menjatuhkan lawan dengan segala cara. Apalagi, seperti yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda, ada kira-kira 140 sinetron jiplakan yang beredar di Indonesia. Baik dari tema, cara bersikap, sampai alur cerita dan model tokohnya. Selain menunjukan bahwa itu adalah bukti kekurangkreativan SDM industri persinetronan kita, ini juga menyatakan bahwa kebanyakan unsur-unsur budaya yang menyebar lewat sinetron adalah bukan dari negeri sendiri. Melainkan budaya asing yang sangat jelas banyak berlawanan dengan budaya asli kita.

Juga reality show yang mulai menjamur akhir-akhir ini. Yang mengedepankan bagaimana mendapatkan uang dengan mudah tanpa harus berusaha keras. Hanya tinggal melakukan apa yang dikatakan oleh presenter. Jika bisa, maka dalam waktu sekejap uang yang cukup banyak bisa diperoleh. Memang itu akan membantu sang pemenang dalam kebutuhan hidupnya. Tapi, pelan-pelan sang pemirsa akan termakan doktrin bahwa mencari uang dan apa yang kita inginkan tidak perlu dengan bekerja keras, hanya cukup mempersiapkan diri mengikuti acara-acara semisal yang kini sudah bisa dijangkau dengan mudah di berbagai tempat, juga dengan berbagai media. Selain langsung, melewati HP misalnya, atau lewat E-mail. Menjadikan pemirsa yang terpancing untuk itu berhenti memprioritaskan bekerja keras untuk mencapai tujuan. Mematikan aktif mereka dan menghidupkan budaya pasif.

Televisi juga media yang cocok untuk menyebarkan virus pornografi dan pornoaksi yang semakin menebal saja di negara kita. Kita telah tahu sendiri bagaimana dampak keduanya bagi anak dan remaja-remaja kita.

Maka, kini kita semakin tahu akan bahaya yang mengancam. Segeralah matikan televisimu. Dan sebenarmya bukan hanya itu, masih ada film-film berbau klenik yang bertebaran di setiap stasiun televisi. Yang semakin menambah sosok aneh dalam dunia anak-anak. Juga ada tongkat-tongkat ibu peri yang bisa menolong siapa saja yang kesulitan. Tanpa berusaha lebih keras, hanya tinggal memanggilnya & meminta tolong untuk mengerjakan ini dan itu. Maka ia mendapatkan segalanya.

Intinya, menonton televisi membuat kita menjadi pasif, juga anak-anak. Seorang penonton televisi hanya tinggal diam dan memikirkan, apa yang akan masuk ke pikiran hari ini? Sekali lagi matikan televisimu sekarang juga.

Kemudian, ada satu hal yang mengganjal di benak saya. Sebuah pertanyaan yang mungkin akan muncul pada setiap orang dewasa maupun anak-anak. Yaitu, bagaimana kita bisa hidup tanpa televisi? Bagaimana kita bisa langsung mamatikan televisi begitu saja? Benda yang menghiasi hari-hari kita di rumah. Hidup akan sangat tidak berwarna. Akan terasa tawar jam-jam yang kita lalui setiap harinya. Kita tidak akan bisa lagi menikmati acara-acara hiburan ketika lelah dan capek, tidak bisa lagi memenuhi otak kita dengan beragam informasi yang tersaji begitu rapi, kita hanya tinggal duduk dan bersiap menonton dan mendengarkannya dengan seksama. Saya juga seorang anak. Saya juga tahu rasa tentang bagaimana hidup tanpa televisi. Pasti akan sangat sulit sekali dan memberatkan. Saya tidak akan lagi bisa menonton acara-acara favorit saya yang menghiasi hari libur, tidak bisa lagi berdiskusi dengan teman-teman tentang film yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi tadi malam. 

Tidak terasa memang, televisi telah begitu dekat dengan kita. Seakan-akan telah menjadi kebutuhan primer. Ya, kebutuhan pokok manusia ketika hidup. Sejajar dengan pakaian yang kita pakai, makanan dan tempat tinggal. Televisi telah menjadi bagian hidup kita yang tidak bisa kita tinggalkan begitu saja.

Kemudian Bagaimana?
Setelah beberapa minggu, penduduk kampung ini sudah bisa hidup normal tanpa televisi. Anak-anak kini sudah kembali mewarnai kehidupan kami. Mereka juga mulai rajin mengaji di musholla menjelang maghrib. Para orang-orang tua juga mulai meramaikan majlis-majlis taklim. Tidak ada lagi keributan yang berarti semenjak kejadian dulu.

Sekarang aku sedang berada di pasar melanjutkan usahaku sebagai penjual. Tiba-tiba  ada kabar yang menggemparkan seluruh pasar. Anak-anak di kecamatan menghilang tanpa jejak. Ah tidak! Ternyata bukan cuma di kecamatan, tapi juga di kabupaten, juga provinsi, bahkan seluruh negeri. Negeri ini menjadi sepi dari suara anak-anak. 

Akhirnya seluruh warga kampung aman dari suara-suara bising televisi. Tapi, kejadian hilangnya anak-anak ternyata malah meluas. Bukan hanya di kampung itu saja. Tapi ke daerah-daerah lain di seluruh pelosok negeri. Dan akhirnya, kabar bahwa anak-anak disekap di dalam televisi menyebar. Bisa dipastikan setelah itu, jika seluruh orang tua masih menginginkan anaknya, maka ia harus rela mengorbankan televisi yang sudah menjadi bagian hidupnya demi kehadiran anaknya kembali.

Mungkin di sinilah seharusnya saya, dan mungkin kita, tidak sependapat dengan si penulis cerpen. Biar bagaimanapun, televisi adalah bagian hidup kita. Dan tidak mungkin untuk dihilangkan begitu saja. Saya yakin, penciptaan televisi dilakukan untuk bisa diambil manfaat sebesar-besarnya darinya. Bukan dengan sengaja menghancurkan generasi yang nantinya akan menggantikannya. Jadi pasti ada masalah di dalam perantara antara penyelenggara penyiaran televisi dengan pemirsa televisi di rumah-rumah. 

Banyak sekali yang berhubungan dengan sebuah kotak mungil berkaca bernama televisi ini. Yang biasa kita singkat dengan TV saja. Yang pertama yang tidak mungkin bisa lepas darinya adalah organisasi penyiaran itu sendiri. Karena merekalah yang memegang kendali jalannya TV. 

Ini juga ada hubungannya dengan pemerintah, selaku wakil-wakil rakyat yang diutus untuk memberikan manfaat yang sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya, mereka harus memberi kebijakan yang jelas dan aplikasinya yang riil dan nyata di lapangan. Tentang mereka yang melanggar peraturan penyiaran, maka harus ada sanksi tersendiri. Dan jika ada sebuah stasiun televisi atau acara yang terbukti mengamalkannya dan berhasil untuk bermanfaat bagi penontonnya, maka penghargaanlah yang mereka peroleh. Dalam hal ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menampakkan dirinya. Mereka memperingatkan stasiun-stasiun televisi untuk tidak melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran (P3SPS), jika masih saja belum di respon, maka jalur hukum akan ditempuh, dengan konsekuensi, izin tayang akan dicabut. Tapi ini tentu saja masih belum cukup.

Yang kedua, harus ada pengawasan terhadap anak-anak itu sendiri. Akan percuma saja jika anak tidak diawasi dalam kesehariannya. Pisau dapur yang sebenarnya digunakan untuk mengupas buah bisa saja digunakan untuk membunuh kucing tetangga, atau juga bisa adik kecil anak kita yang sedang tidur di dalam kamar. Begitu juga dengan televisi, ia memang bisa bermanfaat bagi kita, tapi jika tanpa pengawasan, sama saja bohong. Semua bisa saja melakukan apa-apa yang melenceng dari ketentuan sebenarnya, apalagi anak-anak yang kondisinya memang masih sangat mudah untuk menerima dan memasukkan apa saja dalam pikirannya untuk segera dilakukan.

Cara ini bisa dilakukan dengan mencari tahu, acara apa saja yang ditonton anak kita. Kalau sekiranya itu pantas dan bermanfaat baginya maka itulah yang terbaik baginya. Dan kalau jelas-jelas yang ditonton adalah tayangan kekerasan misalnya, atau acara-acara lain yang akan berakibat buruk baginya, segera saja alihkan perhatiannya ke hal lain. Tidak hanya itu, seorang ayah atau ibu hendaknya tidak bosan untuk memberi pengertian tentang apa yang pernah masuk dalam pikiran anak atau tentang apa yang dia tanyakan tentang kejanggalan-kejanggalan yang didapatinya. Juga lebih baik orang tua harus aktif menanyai si anak tentang apa yang di dapat anak sehari itu, bisa dilakukan malam hari sebelum tidur. Ditakutkan ada hal-hal yang dapat berdampak negatif jika kita tidak memberinya pengertian.

Sebenarnya segala sesuatu yang ada dunia ini seperti halnya dua mata pedang, pasti mempunyai manfaat dan kebalikannya, yatiu mudlarat. Semua. Nuklir saja, sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai bom yang bisa meledak dengan efek yang luar biasa. Pada dasarnya nuklir diciptakan untuk pembangkit listrik yang efisien. Kemudian tentang bagaimana efek negatif dan positif ini bisa terjadi adalah karena pemakainya. Dia berniat baik atau tidak. Atau jika si pemakai salah dalam menggunakannya, orang-orang di sekitarnya akan mengingatkan atau tidak.

Begitu juga dengan televisi, jika kita bisa mengambil manfaatnya dan menggunakannya seoptimal mungkin, maka akan sangat banyak sekali yang kita dapatkan. Jika seseorang pernah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, maka menurut saya, ‘televisi adalah buku lain yang lebih besar yang berada di dinding yang lain pula’. Ya, adalah jendela yang lebih besar. Sebagai salah satu komponen globalisasi yang membuat besarnya jarak menjadi kian tak berarti. Kejadian di belahan bumi sana akan bisa seseorang ketahui di belahan bumi yang lain dalam waktu sekejap. Ya, salah satunya adalah melalui benda ini. Juga, media audio visual ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemirsanya. Maka akan sangat bermanfaat sekali jika menggunakannya untuk meningkatkan taraf pendidikan di Negara kita.

Dengan begitu, diharapkan akan muncul acara-acara televisi yang baik bagi pemirsanya, terutama anak-anak. Yaitu acara yang menyajikan kebaikan dan tentunya yang berdampak positif bagi anak-anak kita untuk menciptakan lingkungan yang baik pula. 

Marilah kita mengambil manfaat sebesar-besarnya darinya. Saya berharap RUU APP akan segera disahkan, mekipun 30 % di antara kita menolaknya (Repubilka, 11 Maret 2005), juga pengawasan acara-acara yang akan tayang di televisi untuk segera kembali digalakkan, kekhawatiran orang tua terhadap perkembangan anaknya, terutama yang berhubungan dengan televisi, dengan mengurangi menyeleksi porsi menonton segera ditingkatkan. Juga yang paling penting, agar energi potensi positif televisi dapat segera kita nikmati bersama. Tentunya itu semua tidak bisa ditangani oleh hanya satu orang saja, tapi dengan uluran tangan kita semua. Akhirnya, ada satu harapan lagi yang ingin saya sampaikan pada mereka yang bertanggung jawab atas ini. Mengertilah, saya, juga seluruh anak-anak di negeri ini, kelak akan menjadi pelaku regenerasi pelaku negeri ini. Bukan hanya dalam pemerintahan, tapi dalam segala bidang. Juga yang paling penting adalah membentuk sejarah kebaikan untuk masa depan.  

Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Matikan TV-mu. Ya, matikanlah televisimu untuk sementara ini. Lebih cepat lebih baik. Jangan biarkan ia menguasai waktu kita. Cukup sediakan sedikit saja waktu untuknya. Itu juga untuk acara-acara yang jelas-jelas bermanfaat. Terutama untuk anak-anak kita. Kita telah tahu, akan jadi apa mereka nanti. 

* Luthfi Andi Z, alumni TMI Al-Amien Prenduan tahun 2007, asal Lumajang. Kini, sedang menyelesaikan S-1nya di IDIA Prenduan.  

Renungan Hari Jumat Biasa IX - Thn II

Renungan Hari Jumat Biasa IX B/II
Bac I        2Tim 3: 10 – 17 ; Injil             Mrk 12: 35 – 37

Dalam Injil Yesus menjelaskan hubungan-Nya dengan raja Daud. Dalam penjelasan-Nya itu Yesus mengungkapkan siapa diri-Nya sebenarnya. Yesus menggunakan pernyataan ahli-ahli taurat bahwa mesias itu adalah putera Daud. Pernyataan itu dipertentangkan dengan pernyataan Daud sendiri yang terdapat dalam Kitab Mazmur 110:1.
Muncul pertanyaan logis, bagaimana mungkin mesias yang adalah anak Daud akan tetapi sekaligus juga Tuannya Daud. Dari sinilah terungkap identitas Yesus: Dia melebihi mesias politik. Kalau Daud meraih pembebasan dengan cara perang (kekerasan), Yesus memperolehnya melalui penderitaan. Karena itu, jalan yang ditempuh oleh Yesus adalah jalan salib.
Para murid Yesus tumbuh dalam teologi salib. Inilah yang disampaikan Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius. Paulus menyatakan bahwa iman bertumbuh dalam penderitaan dan penganiayaan (baca: salib). Apa yang dikatakan oleh Paulus adalah merupakan pengalamannya pribadi. Ia menulis, "Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya." (ay 11b)
Artinya, Paulus tidak lari dari penderitaan. Ia justru menerimanya. Atau dengan kata lain, Paulus menerima salib dan memikulnya. Di sini Paulus berarti ikut menderita karena dan bersama dengan Kristus. Oleh karena itulah Allah membebaskan dia.
Maka dari itu, Paulus dalam suratnya mengajak jemaat untuk tidak takut menderita bersama dan karena Kristus. Dalam suratnya Paulus menulis, "Setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya." (ay 12).

Apa pesan sabda Tuhan pada kita hari ini? Kita diingatkan bahwa teologi kita adalah teologi salib. Jalan keselamatan kita adalah penderitaan. Sebagai acuan contohnya adalah Kristus sendiri. Karena itu tepat apa yang dikatakan Paulus dalam bacaan pertama kemarin, "Jika kita mati dengan Dia kitapun akan hidup dengan Dia." (2Tim 2: 11b)
by: adrian

Kamis, 07 Juni 2012

(Sharing Iman) Exorsisme

PENGUSIRAN SETAN DI MINGGU ADVEN I
Sebuah Kisah Nyata
27 Nov 2010, hari Sabtu. Saya mendampingi rekoleksi OMK Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Acara berlangsung bagus dan inspiratif sampai malam. Setelah acara api unggun, semua bersiap tidur. Saya masuk kamar. Baru saja jatuh tertidur, pintu diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa lain memberitahu bahwa di Cibulan, ada sekelompok Mahasiswa KAJ dekenat timur yg sedang rekoleksi. Mereka butuh bantuan imam utk mengobati 4 mahasiswi kesurupan. Satu bahkan menghilang. Romo pendamping sudah pulang dan tak akan kembali lagi. Jarak Cipanas - Cibulan sekitar 15 Km.

Saya berangkat disertai Martha dan Anton. Sambil mengemudi saya mengingat kembali apa ciri-ciri kerasukan setan dan bedanya dengan stress berat/depresi. Jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya perempuanlah yg suka kesurupan. Sebenarnya saya orang yang skeptis dengan urusan begini. Saya datang sekedar menenangkan anak-anak itu saja.

Sesampai di villa itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. Yang hilang sudah ditemukan, katanya ada di kamar atas. Dari keempat anak itu, ada satu yang kata mereka paling kuat. Pak Kiyai/dukun setempat sudah dipanggil sejak pukul 19 tadi dan gagal, lalu pulang. Mereka panggil pula pak Pendeta dari gereja terdekat tapi dia pun menyatakan tak sanggup lalu pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama. Ada salib besi tergeletak di sofa.

Pasien terparah itu perempuan kecil saja. Tergolek tengkurap di sofa, ditunggui teman-temannya. Sudah tidur kata mereka. Tetapi beberapa mahasiswa minta saya melihat dulu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan mahasiswa yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya dia putuskan dan lempar ke halaman. Anehnya, rosario itu mereka temukan telah ada di WC villa. Salib besi itu dia ludahi. Kata mereka, suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu.

Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat matanya melihat ke arah mata saya. Aneh… saya agak tersinggung. Lha kok melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi “panasss”. Saya nekad… saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup.

Agak skeptis, tetap dengan memegang erat jari-jari kaku mencekam anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas terdengar “Keluar dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah”.

Reaksinya begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit langsung menatap wajahku face to face, eyes to eyes.. mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian…

Dia berkata: “Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami! Apakah kamu takut, Bapa?”

Saya jawab “Kamulah yg takut!” .

Dia berkata, “Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu saya tak ada!”

Kujawab “Kamu anak Tuhan yang tak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini”

Dia jawab: “Tempat ini nyaman. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan kehendak”

Saya jawab: “Tak ada kompromi. Kamu tak bisa membunuh anak ini dan takkan mampu membawa nyawanya”.

Setan ini pun menantang saya, katanya, ia tak takut pd imam-Nya, tak takut pada Yesus karena dia juga mengaku sebagai anak-Nya. Maka selama pukul 23.45 hingga masuk hari Minggu dini hari, saya dan para mahasiswa Katolik itu bergumul. Kadang-kadang suaranya berubah menjadi lembut bak wanita cantik, kadang menjadi ganas, kadang tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah banyak kali. Kadang setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi.

Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh “Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua, mau mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh Setan bahwa Romo akan dia  bunuh jika anak itu tak taat pd Setan. Maka si anak merasa lemah karena tak mau Romo diapa-apakan oleh Setan. Dan yang paling gila ialah, jumlahnya ketika masuk lagi makin banyak.

“Kami ini Legion”, katanya jelas sekali. Ia fasih berbahasa Inggris dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya ajak dia dialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar setan atau anak itu.

Saya katakan padanya “Kekuatanmu hanya seperempat, masih ada Malaikat Agung St Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” 

Ia mundur, melepaskan lagi anak itu. Tiba-tiba masuk lagi, “You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Ia suatu saat jatuh di salib. Ia menjerit panas. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia teriak panas dan tersiksa. Begitulah ia pergi lagi. Namun cepat kembali lagi lebih banyak lagi. Ia mau menguras kekuatan saya. “Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu, Bapa!”.

Saya jawab “Kekuatanku dari Allah, yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Dia menjerit-jerit lagi. Lari lagi. Ada berita bahwa 3 mahasiswi lain sudah dilepas. Semua memang berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.

Ketika masuk lagi yang terakhir kali, dia memeluk saya dan dengan seolah suara si mahasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, “Aku Lucifer”. Saya merinding, terasa bulu kuduk berdiri dan ketakutan mendera. “Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. “Aku akan mengincarmu terus sampai kapanpun”

Saya bangkitkan keberanian. Saya teriak kepada para mahasiswa: “Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, penghulu setan, datang!” Para mahasiswa emosi, mereka berdoa makin keras. Ada pula yang teriak, “Hancurkan saja, Sikat  Romo!”.

Dia berkata “Paus Yohanes Paulus II memarahiku”.

Kujawab, ”Tak hanya Paus Yohanes Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan malaikat Agung Mikael atasan langsungmu! Taatlah pada-Nya!”  

”Sayalah Tuhan” jawabnya.

Saya banting dia, dan kami berpegang tangan sambil saling lawan. Saya mulai keringatan dan tenaga terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya. “Kamulah yang ketakutan, melihat kami semua dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah terima Sakramen Ekaristi!”

Lucifer menjawab: “Aih, itu hanya roti biasa! Dan kalian imam-imam semua bodoh!”

Saya marah sekali.   “Kamu sudah melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Mau melawan imamat-Nya?”

Dia jawab, “Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”

Ketika Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para mahasiswa. Saya lepaskan dia dulu utk mengambil peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia ditahan para mahasiswa yg ’menimbunnya’, dengan doa-doa Salam Maria, bapa Kami, Aku Percaya, serta menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya percikkan air suci. Ia menjerit panas dan lari.

Saat itu, saya berpikir, dini hari begini, semua kacau jika tak diakhiri. Saya perintahkan tubuh mahasiswi ini dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dgn tujuan ke Lembah Karmel. Saya telpon Mbak Sari dan Suster Lisa PKarm. Mbak Sari dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.

Si Mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia berteriak, “Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria. Dan tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi “Haaa. Mau dibawa ke mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas jeroannya. Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus tanggungjawab atas kematiannya!” Anak itu muntah-muntah di mobil. Anton, Asrul dan Martha tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak.

Saya katakan: “Kamulah yang harus bertanggungjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan laknat! Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu kubawa ke hadapan Dia, tahu rasa kau nanti. Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta Alam!”

Lalu dia mulai merayu lagi, “Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja istirahat”

Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya tunduk pada keinginannya. Saya debat dengan tegas bahwa dia hanya harus boleh tunduk pada Kristus!

“Sayalah tuhan, I am the Lord” katanya.

Saya tertawakan dia. Dia mengancam akan menggulingkan mobil. Kujawab, “Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan berhasil kau gulingkan!”  Saya ingatkan akan Sto Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Santo Yohanes Maria Vianney kumohon mendoakan aku untuk mengalahkan dia.

Dia lalu merajuk lagi, “Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”

Anak-anak mahasiswa ikut menajwab “Rasain lu”

Dia mendamprat : “Apa lo, bocah kemarin sore!”

Kujawab, “Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam” Sepanjang jalan kami debat dengan bahasa Inggris, Jawa dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam mendekati Lembah Karmel, mendekati Sakramen Mahakudus. Dia mulai menendang dan berontak lagi. “No place for evil, you know!”, kutantang dia. “Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?”

Dia jawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”

Kujawab: “Ya, kutahu, berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer keparat ini!”  

Dia mengkikik mirip nenek Lampir dlm film Misteri Gunung Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh.  Kamu memang imam munafik dan pendosa!”

Kujawab, “Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan kayak kamu!”

Dia jawab lagi, “Ayahnyalah yang mempersembahkan diri padaku, Bodooh!”

Kupancing dia: “Jadi, ayahnya mengikat perjanjian denganmu bukan?”

Dia jawab: “Bukan bodoh, kamu keliru imam bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri pada Kristus. Leluhurnyalah yang mempersembahkan diri padaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga. Jadinya kami kekek-kekekan.

Dengan tegas kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka  acara kita satu-satunya di depan sakramen mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi gara-gara Putra-Nya menjadi Manusia”

Dia meradang “I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!”

Sampai di situ saya merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Saya bayangkan jajaran imam Tuhan dan uskup menguatkan batin saya.

Pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah tampak… dia teriak lagi “Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan”

Kujawab: “Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi bersamamu sajalah!”

Ia merajuk lagi, “Romo, ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa ke mana”

Kujawab “Sadar gundulmu kuwi! Kami bawa kamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepada-Nya semua lidah mengaku dan segala lutut bertekuk, termasuk kamu, Monyong!”

Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai samping kapel kecil. Mobil berhenti di jalan menanjak samping kapel, depan wisma St Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh sekali, badan kecil namun bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara mahasiswi itu : “wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ”Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….”  

Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama. Anton, Asrul dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta pinjam korek api dari pak Satpam, saya nyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut  di hadapan tabernakel. Mohon kekuatan Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap sebelah kiri si mahasiswi. Mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: “Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu tubuh anak-Mu yang sedang dirasuki si jahat. Kami tak sanggup dgn kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaekat agung-Mu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”.

Lalu saya menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan di atasnya dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya bisa mengatakan ini) : “Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada Gereja-Nya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini, Dalam Nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus, Amin”.

Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi kakinya, lalu  menoleh menatap tajam ke kiri menatap langsung ke mata saya… sedetik kemudian  terkulailah  tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya.

Si mahasiswi ini lalu merintih, “Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan” Tangan kiri dan kanannya menggapai ke arah altar. Kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat ke atas, “Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… dia yang terjelek, hitam telah diborgol… dimasukkan kereta… Ooo malaekat Agung Santo Mikael… ooh..”

Sampai di pintu besar, dia minta kembali ke dalam, “Romo, teman-teman saya harus kembali… Itu Tuhan…”  Dia kutuntun dengan tangannya menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, memeluknya erat-erat. “Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepada-Mu.. ” Ia menangis di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia peluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu. Aku tak kan meninggalkan engkau dan putramu”

Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini tak berat lagi. Dia membersihkan diri di wisma, sementara teman lain membelikan makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Masih pukul 04.30.

Setelah makan minum, anak itu bercerita bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa. Ia melihat 2 manusia bertanduk. Ia takut lalu menceritakan ke temannya. Makhluk itu marah karena diceritakan keberaadaannya ke orang. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua kesurupan, maka spontan dia persilahkan merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk ikut dia. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika tak mau ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat malaikat membisikinya bahwa romo itu baik-baik saja, maka lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu. Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan kereta utk melesat membuang si jahat ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal masa Adven 2010, tepat Minggu I.