Senin, 03 Maret 2025
Sekalipun Keturunan Yahudi, Orang Kristen Tetap Tak Akui Kenabian Muhammad
Dalam salah satu ceramahnya, Ustad Menachem Ali menjelaskan bahwa muhammad itu masih keturunan Yahudi. Keyahudiannya itu diperoleh dari garis keturunan ibu. Padahal Menachem Ali tahu kalau Yahudi itu menganut prinsip patrilineal atau garis keturunan bapak. Yang selalu disebut dan diperhitungkan itu adalah nama bapaknya. Hal ini sepertinya sengaja diabaikan Menachem demi upayanya membenarkan kenabian muhammad. Karena pernyataannya ini bisa saja dikaitkan dengan nubuat kedatangan seorang nabi yang ada dalam Kitab Ulangan 18: 18. Akan tetapi, sekalipun benar bahwa muhammad itu keturunan Yahudi, tetap saja umat Kristen tidak akan mengakuinya sebagai nabi. Ini dia alasannya.
Sabtu, 01 Maret 2025
RENUNGAN HARI SABTU BIASA VII, THN I
Renungan
Hari Sabtu Biasa VII – Thn I
Bac I Sir 17: 1 – 15; Injil Mrk 10: 13 – 16
Sabda Tuhan dalam
bacaan-bacaan liturgi hari ini mau mengatakan kepada kita betapa manusia itu luhur
mulia. Hal ini sangat kental disuarakan penulis Kitab Putra Sirakh. Berangkat dari
kisah penciptaan (Kej 1: 26 – 30; 2: 5 – 7) penulis kembali menyuarakan
kemuliaan manusia dengan gaya bahasanya sendiri. Dapatlah dikatakan kemuliaan
dan keluhuran manusia itu terletak pada gambaran Allah. Memang awalnya
dikatakan manusia diciptakan Tuhan dari tanah (ay 1), yang mau menunjukkan
kerapuhannya, tetapi penulis menegaskan bahwa menurut gambar Allah
dijadikan-Nya manusia itu (ay 3). Tidak hanya itu, dikatakan bahwa Allah “menanamkan
mata-Nya sendiri di dalam hati manusia” (ay 8). Jadi, poin penting yang mau
disampaikan penulis Kitab Putra Sirakh di sini adalah bahwa manusia itu luhur
mulia sehingga pantas untuk dihormati dan dihargai.
Kemanusiaan itu tidak dibatasi
oleh sekat gender, suku, status sosial atau juga usia. Inilah yang mau
disampaikan lewat tindakan Tuhan Yesus yang memarahi para murid-Nya yang
mencegah anak-anak datang kepada-Nya (ay 13). Para murid tidak dapat melihat
kemuliaan dan keluhuran martabat manusia dalam diri anak-anak. Akan tetapi,
Yesus menegaskan kepada mereka bahwa mereka “itulah yang empunya Kerajaan Allah”
(ay 14). Jadi, sekali pun anak-anak, yang dalam budaya tidak terhitung dalam
status masyarakat, mereka tetaplah manusia yang perlu dihormati dan dihargai.
Dalam kehidupan terkadang kita
sering menilai manusia menurut cara pandang kita. Kita membuat klasifikasi
manusia berdasarkan ukuran kita. Karena itu terciptalah sekat-sekat pemisah di
antara manusia. Penghormatan atas pribadi manusia didasarkan pada stratanya. Sabda
Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat manusia dengan tolok ukur Allah. Setiap
manusia harus dihormati dan dihargai bukan karena status sosialnya, bukan pula
karena agama atau sukunya, atau apapun, melainkan karena kemanusiaannya. Setiap
manusia adalah gambaran Allah. Ada keilahian dalam diri manusia. Inilah dasar
kenapa Gereja Katolik menentang hukuman mati dan aborsi. Sekalipun manusia itu
super jahat, dia tetaplah manusia. Kejahatan hanya mengaburkan keilahian yang
ada dalam diri manusia itu. Ibarat mendung yang menutup cahaya matahari. Di balik
mendung itu, matahari tetaplah bersinar.
by: adrian
Jumat, 28 Februari 2025
RENUNGAN HARI JUMAT BIASA VII, THN I
Renungan
Hari Jumat Biasa VII – Thn I
Bac I Sir 6: 5 – 17; Injil Mrk 10: 1 – 12
Sabda Tuhan dalam
bacaan-bacaan liturgi hari ini mengangkat tema relationship, hubungan
antar manusia. Tak bisa dipungkiri, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan
orang lain sebagai rekan relasinya. Kitab Putra Sirakh, dalam bacaan pertama,
menyebut ada 2 tipe rekan relasi itu, yaitu sahabat semu (ay 8 – 12) dan
sahabat setiawan (ay 14 – 16). Dalam persahabatan semu, relasi bisa rusak
karena pihak luar karena persahabatan itu tidak dilandasi oleh motivasi murni. Dalam
persahabatan semu ada kepentingan untuk kepuasan diri. Sedangkan sahabat
setiawan dilandasi sikap takut akan Tuhan. Dengan kata lain, dalam persahabatan
ini Tuhan diikut-sertakan dalam relasi itu.
Bacaan Injil menyorot relasi
suami istri. Ini berawal dari pertanyaan orang Farisi untuk mencobai Yesus, “Apakah
seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya.” (ay 2). Dapatlah dikatakan
bahwa mengacu pada apa yang diwartakan penulis Kitab Putra Sirakh, Tuhan Yesus
memberikan jawaban-Nya. Gambaran sahabat semu dalam Kitab Putra Sirakh itu
disamakan dengan rusaknya relasi suami istri, yang berujung pada perceraian. Yesus
mengatakan itu karena ketegaran hati (ay 5) sehingga Musa mengeluarkan surat
cerai. Yesus memberikan gambaran relasi suami istri yang ideal sebagaimana
sahabat setiawan. Relasi yang ideal itu melibatkan Tuhan (ay 6) sehingga “apa
yang telah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia.” (ay 9).
Manusia adalah makhluk sosial.
Kesosialannya menuntut ia untuk bergaul dan menjalin relasi dengan sesama, baik
sebagai sahabat maupun sebagai pasangan hidup. Tentulah kita menghendaki agar
relasi yang dibangun dapat bermanfaat bukan saja bagi yang menjalin relasi
melainkan juga bagi kehidupan manusia. Lewat sabda-Nya hari ini Tuhan menghendaki
agar dalam setiap relasi kita, baik sebagai sahabat maupun sebagai pasangan
hidup, Tuhan harus selalu diikut-sertakan. Kehadiran Tuhan dalam relasi kita
membuat kita mampu memelihara relasi kita dengan lurus hati.
by: adrian