Minggu, 26 Maret 2023
VIRAL PENOLAKAN PEMBANGUNAN GEREJA OLEH RANTING NU
Penolakan pembangunan rumah ibadah kristen oleh pengurus ranting NU Sumberejo, Malang, menjadi buah bibir masyarakat se-Indonesia Raya. Maklum, aksi ini terbilang unik dan menarik
Jumat, 24 Maret 2023
KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AT-TAKWIR AYAT 22
Dan
temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila (QS 81: 22)
Publik sudah tahu kalau
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam. Ia dijadikan salah satu sumber iman dan
peri kehidupan umat islam. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an diyakini berasal
dari Allah secara langsung. Artinya, Allah langsung berbicara kepada Muhammad,
dan Muhammad kemudian meminta pengikutnya untuk menuliskannya. Karena itu, umat
islam yakin dan percaya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an merupakan
kata-kata Allah, sehingga Al-Qur’an dikenal juga sebagai wahyu Allah. Karena
Allah itu maha benar, maka benar pula apa yang tertulis di dalamnya. Al-Qur’an
dinilai suci karena Allah adalah mahasuci. Penghinaan terhadap Al-Qur’an
berarti juga penghinaan terhadap Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi
bentuk hukuman bagi mereka yang menghina Allah, yaitu hukuman mati (QS al-Maidah:
33).
Al-Qur’an dikenal juga sebagai
kitab atau keterangan yang jelas. Kata “jelas” di sini dimaknai bahwa apa yang
tertulis di dalam Al-Qur’an harus dimaknai secara lugas. Allah sendiri sudah
berfirman bahwa diri-Nya telah memudahkan Al-Qur’an supaya mudah dipahami.
Dengan kata lain, ketika Allah berbicara, Allah tidak menggunakan kata-kata
kias. Karena itu, kata “membunuh” harus dipahami dengan tindakan menghilangkan
nyawa seseorang, tidak ada makna lain. Tidak bisa dimaknai dengan menghilangkan
hawa nafsu. Demikian pula dengan kata “perang” atau “jihad”.
Berangkat dari premis-premis di atas,
dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan perkataan
Allah yang langsung disampaikan kepada Muhammad. Meskipun demikian tetap harus
diakui bahwa kutipan di atas tidaklah sepenuhnya merupakan perkataan Allah. Apa
yang tertulis di dalam tanda kurang, yaitu “Muhammad”, harus diakui sebagai
tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Aslinya wahyu Allah
ini berbunyi sebagai berikut: “Dan temanmu itu bukanlah orang
gila.” Ketika wahyu Allah, yang dalam bentuk aslinya ditelaah
dengan nalar akal sehat, maka yang dijumpai adalah ketidak-jelasan.
Pertama-tama harus disadari, secara logika bahasa, kutipan ayat asli ini
diucapkan Allah kepada Muhammad, karena Muhammad adalah lawan bicara Allah.
Menjadi pertanyaan, siapa teman Muhammad yang bukan orang gila itu.
Mungkin ulama islam di kemudian hari kebingungan menemukan orang tersebut sehingga akhirnya menambah kata “Muhammad” sebagai penjelasan dari kata “temanmu”. Dengan demikian, wahyu Allah itu bisa dimaknai bahwa Muhammad itu bukanlah orang gila. Penambahan ini bukannya tanpa masalah. Setidaknya ada 2 masalah yang lahir dari penambahan itu.
Jumat, 17 Maret 2023
KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AN NISA AYAT 87
Allah,
tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari kiamat
yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan(nya)
daripada Allah? (QS 4: 87)
Tak
bisa dipungkiri bahwa umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu Allah
yang langsung disampaikan kepada Muhammad, yang kemudian ditulis di atas
kertas. Sekalipun ada di kertas, tapi umat islam yakin bahwa itu adalah
kata-kata Allah sendiri. Dan karena Allah itu mahasuci, maka kertas yang ditulisi perkataan Allah adalah
suci juga. Maka dari itu, tak heran ketika ditemukan lembaran-lembaran
Al-Qur’an di tempat sampah, yang sebagiannya sudah terbakar, umat islam merasa
marah. Hal itu dilihat sebagai bentuk penghinaan terhadap Allah. Dalam surah al-Maidah ayat 33, Allah meminta umat islam untuk membunuh mereka yang
menghina-Nya. Begitu sadisnya Allah
islam ini!
Berhubung Al-Qur’an merupakan pedoman yang menjadi
tuntunan bagi umat islam, Allah telah memudahkan ayat-ayat Al-Qur’an. Artinya,
dalam penyampaian wahyu-Nya Allah menggunakan bahasa yang sederhana sehingga
mudah dipahami oleh umat-Nya. Karena itulah, Al-Qur’an dikenal juga sebagai
kitab atau keterangan yang jelas. Umat islam, khususnya para ulama, menafsirkan
kata “jelas” di sini sebagai terang benderang, sejalan dengan maksud Allah
memudahkan semua ayat-Nya. Dengan kata lain, makna ayat-ayat Al-Qur’an dapat
ditemui sebagaimana tertulis di dalamnya.
Berangkat dari dua premis di atas dapatlah dikatakan
bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan wahyu Allah dan maknanya sangat
jelas. Karena wahyu Allah ini ditulis dalam satu ayat, maka bisa dikatakan
bahwa kutipan kalimat di atas turun bersamaan, sekali tarikan nafas. Kutipan
wahyu Allah di atas terdiri dari 3 kalimat. Kalimat pertama, yang secara
linguistik tidak bisa disebut sebagai kalimat, berisi pesan tauhid. Kalimat
kedua menjelaskan tentang hari kiamat. Ada 2 pesan yang hendak disampaikan di
sini, yaitu peran Allah yang mengumpulkan umat-Nya dan tentang kepastian hari
kiamat itu sendiri. Kalimat ketiga berbentuk pertanyaan retoris tentang
kebenaran perkataan Allah.
Kalau diperhatikan dengan seksama, ketiga kalimat Allah di atas sama sekali tidak mempunyai hubungan sama sekali. Ketiga kalimat tersebut memiliki arti dan pesannya sendiri, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dari pesan tauhid langsung ke persoalan hari kiamat, dan tiba-tiba muncul pertanyaan yang sama sekali tidak ada kaitan dengan dua kalimat sebelumnya. Secara linguistik hal ini terasa sangat tidak masuk akal, dan membuat wahyu Allah ini terlihat kacau. Jika dikaitkan dengan salah satu sifat Allah, yakni maha sempurna, maka secara linguistik kutipan wahyu Allah di atas sangatlah mungkin bukan berasal dari Allah. Bagaimana mungkin dari Allah yang maha sempurna bisa muncul sesuatu yang tidak sempurna. Ataukah standar kesempurnaan Allah berbeda dengan standar kesempurnaan manusia? Artinya, bagi Allah itu sempurna, tapi tidak bagi manusia. Dapat dipastikan kutipan kalimat Allah di atas lahir dari pikiran manusia yang kacau, atau meminjam kata-kata JK Sheindlin, lahir dari “pikiran orang bingung”.

