Senin, 28 November 2022

PANDANGAN KELIRU SOAL WAHABI

 


Sejak Rakernas Lembaga Dakwa PBNU selesai, 27 Oktober silam, kata atau istilah wahabi sering muncul di media sosial. Umumnya semua bernada negatif. Wahabi selalu dikaitkan dengan aksi kekerasan atas nama islam, entah itu kekerasan ringan atau juga berat, seperti terorisme. Wahabi dihubungkan juga dengan aksi intoleransi atas nama islam, kilafah dan juga pengkafir-kafiran. Soal yang terakhir ini sasarannya tidak hanya umat non muslim saja, melainkan juga dari kalangan islam sendiri. Dan biasanya yang memberi label itu adalah kalangan islam yang menyatakan dirinya moderat. Dengan mengaitkan kekerasan, intoleransi, kilafah dan pengkafir-kafiran kepada wahabi, ada kesan bahwa wahabi salah.

Bagi kami ini merupakan pandangan yang keliru. Harap diingat dan disadari klaim kaum islam moderat ini tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Bukan lantas berarti apa yang dikatakan kaum islam moderat tentang wahabi itu berarti bahwa kaum wahabi itu salah dan mereka adalah benar.

Kekeliruan lain adalah mengatakan bahwa wahabi itu adalah aliran dalam islam. Jika dirunut dari sejarahnya, haruslah dikatakan wahabi tak layak disebut sebagai (salah satu) aliran dalam islam. Wahabi awalnya merupakan sebuah gerakan, yang dipimpin oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab, yang mengajak umat islam untuk kembali menghidupi ajaran islam yang sebenarnya. Hal ini karena Abdul Wahab melihat ada banyak umat islam sudah tidak setia pada ajaran islam yang asli. Dengan demikian Abdul Wahab hendak mengembalikan islam yang asli dan sejati.

Pada titik ini tidaklah salah bila kaum Wahab diidentikkan dengan radikalisme. Sebenarnya kata ini tidaklah berkonotasi negatif. Akar kata radikalisme adalah radix, yang berarti akar. Secara sederhana kata radikalisme bisa dipahami sebagai gerakan kembali ke akar. Inilah yang dilakukan oleh kaum wahabi. Mereka ingin kembali ke akar ajaran islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis.

Dalam Al-Qur’an ada banyak ajaran yang berisi kekerasan terhadap non muslim. Ada perintah membunuh orang kafir dan orang musyrik. Kaum wahabi melakukan hal itu, sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an. Di sini sering kali kaum islam moderat keliru memandang kaum wahabi. Mereka mengatakan bahwa kaum wahabi salah menafsirkan wahyu Allah itu. Padahal kaum wahabi sama sekali tidak sedang menafsirkan wahyu Allah; justru kaum islam moderatlah yang melakukannya. Kaum wahabi hanya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana tertulis dalam kitab suci. Melakukan seperti yang tertulis berarti mengindahkan kehendak Allah. Jadi, kaum wahabi berupaya melaksanakan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an.

Selain kekerasan, dalam Al-Qur’an ada banyak ajaran yang membangun sikap intoleran terhadap orang non muslim. Orang yang bukan islam akan disebut kafir, dan orang kafir harus dibenci dan dimusuhi. Allah SWT sudah memerintahkan kepada umat islam untuk tidak berteman atau menjalin relasi dengan orang kafir, serta untuk tidak memilih orang kafir sebagai pemimpin. Kaum wahabi melaksanakan itu tanpa harus menafsirkan wahyu Allah. Kaum moderatlah yang menafsirkan wahyu Allah tersebut. Karena itu, kenapa kaum wahabi disalahkan? Janganlah karena wajah terlihat buruk, cermin yang disalahkan. Janganlah pula selalu menyembunyikan wajah buruk dibalik topeng dan menyalahkan wajah buruk orang lain.

Minggu, 27 November 2022

STUDI ALQURAN: TAURAT DAN INJIL PALSU

Umat islam percaya bahwa kitab suci orang Yahudi dan Kristen sudah tidak asli lagi, alias palsu. Mereka percaya ini karena Allah sudah mengatakannya dalam Alquran. Di sini tampak kalau perkataan Allah dijadikan tolok ukur asli atau tidaknya suatu naskah, bukan pada penelitian ilmiah. Bisa dikatakan kalau dalam Alquran Allah berkata 1+1=5, yakinlah pasti umat islam percaya saja, dan mengatakan kitab atau buku lain yang mengatakan 2 adalah salah. Kenapa Taurat dan Injil dinyatakan palsu? Video berikut ini mencoba mengulas topik ini secara logis.


Kalau mengalami kesulitan dalam membuka video di atas, silahkan coba membuka video sama di channel youtube kami. Selamat belajar!!! 

Jumat, 25 November 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ARAF AYAT 184

 


Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila. Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas. (QS 7: 184)

Al-Qur’an merupakan pusat spiritualitas umat islam. Di sana mereka tidak hanya mengenal Allah yang diimani dan disembah, tetapi juga mendapatkan pedoman dan tuntunan hidup yang akan menghantar mereka ke surga. Al-Qur’an biasa dijadikan rujukan umat islam untuk bersikap dan bertindak dalam hidup keseharian, selain hadis. Umat islam menyakini Al-Qur’an langsung berasal dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini didasarkan pada pernyataan Allah sendiri, yang dapat dibaca dalam beberapa surah Al-Qur’an. Jadi, Allah sendiri telah menyatakan bahwa Al-Qur’an merupakan perkataan-Nya, sehingga ia dikenal juga sebagai kalam Allah. Karena itu, Al-Qur’an dihormati sebagai sesuatu yang suci, karena Allah sendiri adalah mahasuci. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama saja dengan pelecehan kepada Allah atau penyerangan terhadap keluhuran Allah. Orang yang melakukan hal itu harus dihukum berat dengan cara dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang (QS al-Maidah: 33).

Selain itu juga umat islam melihat Al-Qur’an sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas. Ini juga didasarkan pada perkataan Allah sendiri. Allah telah mengatakan bahwa diri-Nya telah memudahkan ayat-Nya sehingga umat dapat dengan mudah memahami. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Tak sedikit ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan perkataan lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu lagi ditafsirkan. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an. Seandainya pun tidak persis seperti yang tertulis, tapi maknanya tak jauh beda dengan apa yang tertulis. Penafsiran atas wahyu Allah yang berbeda bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari dua premis di atas, maka bisalah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas merupakan kata-kata Allah sendiri. Memang harus diakui juga bahwa apa yang tertulis itu tidaklah sepenuhnya merupakan perkataan Allah. Kata ‘Muhammad’ yang ada dalam tanda kurung (2 kali) merupakan tambahan kemudian yang berasal dari tangan-tangan manusia. Artinya, kata tersebut tidak pernah diucapkan Allah saat Dia menyampaikan wahyu ini kepada Muhammad. Melihat dan membaca teks di atas, orang langsung menemukan pembenaran wahyu Allah, yaitu wahyu Allah jelas dan mudah. Dengan sangat mudah orang menafsirkan kalimat Allah di atas sebagai berikut: “Muhammad itu tidak gila dan hanya seorang pemberi peringatan yang jelas.” Sangat sederhana.

Akan tetapi, kalau kita menempatkan kutipan kalimat di atas pada konteksnya, maka langsung ditemukan keanehan dan masalah. Konteks wahyu Allah dalam Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar. Allah menyampaikan wahyu-Nya hanya kepada Muhammad. Jadi, ketika Allah menyampaikan kutipan ayat di atas, Muhammad adalah lawan bicaranya. Karena itu, secara logika dan juga secara linguistik, tafsiran bahwa yang tidak gila dan sebagai pemberi peringatan itu Muhammad adalah salah besar. Menafsirkan dengan Muhammad itu berarti tidak sesuai dengan kehendak Allah, karena bukan itu maksud Allah. Dapat dipastikan yang tidak gila dan sebagai pemberi peringatan itu bukanlah Muhammad. Jika yang dimaksud itu adalah Muhammad, seharusnya Allah berkata, “Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa engkau tidak gila. Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”