Senin, 07 November 2022

CATATAN HUJAN BULAN OKTOBER

 

Sebenarnya pemantauan hujan selama bulan Oktober berlangsung di Ujung Beting. Saya tiba di Ujung Beting pada tanggal 28 September. Tiga hari terakhir September di Ujung Beting tidak diisi dengan hujan. Langit memang mendung, tapi hujan tak kunjung turun. Berhubung Rm. Simpli baru tiba tanggal 10, sementara Rm. Yohan pergi cuti ke kampung, maka saya terpaksa menetap lagi di Dabo. Mulai tanggal 14 Oktober saya menetap di Dabo. Bagaimana pantauan hujan di dua lokasi ini?

Mulai tanggal 1 hingga saya berangkat ke Dabo, hujan hampir turun setiap hari. Curah hujan cukup tinggi. Intensitas hujan memang ringan dan sedang, tapi ini hampir setiap hari berlangsung. Demikian pula pantauan hujan di Dabo. Sejak tiba hujan selalu turun, hampir setiap hari. Intensitas hujan hampir mirip seperti di Ujung Beting.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan curah hujan di bulan Oktober ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Prediksi kita, dengan membandingkan catatan hujan di tahun 2021, jelas meleset jauh. Karena itu, jika digrafikkan maka akan terlihat grafik meningkat. Memperhatikan curah hujan di bulan Oktober ini dapatlah dipastikan saatnya memasuki musim hujan. Tren curah hujan tinggi belanjut di awal November. Tanggal 1 Nov hujan turun seharian, dan dilanjutkan pada tanggal 3, 5 dan 6. Tanggal 7 saya sudah berada di Ujung Beting. Pemantauan berikutnya dari sana. Bukan tidak mungkin di sisa 2 bulan tahun 2022 curah hujan tetap tinggi.

Minggu, 06 November 2022

STUDI ALQURAN: MUHAMMAD TELADAN AGUNG

Bagi umat islam posisi Muhammad sudah jelas dan pasti. Dia dipuja, dipuji, dimuliakan, diagungkan bahkan disembah. Allah sendiri sudah berkata taat kepada Muhammad sama artinya taat kepada Allah. Karena itu, tidak heran kalau muncul gelar buat Muhammad sebagai insan kamil, manusia sempurna. Tapi ketika ditanya dimana letak kesempurnaan Muhammad, dapat dikatakan umat islam tak punya jawaban pasti dan tegas. Video berikut ini mengulas sosok Muhammad sebagai teladan agung, yang wajib diikuti setiap muslim.


 Jika tak bisa memutar video di atas, silahkan cari atau buka di channel youtube kami. Selamat menikmati!!

Jumat, 04 November 2022

TINJAUAN ATAS KATA GANTI ALLAH DALAM SURAH AL-ANAM

 


Dewasa ini, jika dikatakan Al-Qur’an tentulah orang langsung memahaminya sebagai kitab suci umat islam yang bertuliskan bahasa Arab, yang terdiri dari 114 surah. Al-Qur’an merupakan pusat spiritualitas umat islam. Ia dipercaya sebagai wahyu Allah yang disampaikan langsung kepada nabi Muhammad SAW (570 – 632 M). Jadi, konteks keseluruhan ayat Al-Qur’an adalah Allah berbicara dan Muhammad mendengar. Apa yang didengar Muhammad inilah yang kemudian ditulis, dan akhirnya menjadi Al-Qur’an. Karena itu, apa yang tertulis di dalamnya dipercaya sebagai kata-kata Allah. Kepercayaan ini didasarkan pada perkataan Allah sendiri yang banyak tersebar dalam Al-Qur’an. Dengan perkataan lain, umat islam percaya bahwa kitab sucinya merupakan wahyu Allah karena Allah sudah mengatakan demikian dalam kitabnya. Hal inilah yang membuat umat islam menaruh hormat yang tinggi pada Al-Qur’an. Penodaan terhadap Al-Qur’an dilihat sebagai penodaan terhadap Allah sendiri, dan orang yang melakukan itu harus dibunuh. Ini merupakan perintah Allah, yang tertuang dalam Al-Qur’an sendiri (QS al-Maidah: 33).

Surah al-Anam merupakan surah keenam dalam kitab Al-Qur’an. Surah ini masuk dalam kelompok surah makkiyyah, artinya wahyu Allah yang turun saat Muhammad berada di Mekkah. Surah al-Anam terdiri dari 165 ayat. Dapat dipastikan ke-165 ayat ini tidaklah turun sekaligus. Artinya, Allah tidak langsung menyampaikan kepada Muhammad ke-165 wahyu-Nya ini. Bisa saja Allah menyampaikannya 2 kali, bisa juga lebih. Tidak ada yang tahu pasti.

Seperti surah-surah lainnya, dalam surah al-Anam ini Allah memakai beberapa kata ganti, yang dimaknai sebagai Allah. Selain kata “Allah” sendiri, digunakan juga kata ganti “Kami”, “Dia” dan “Aku”. Jika ditelusuri, kata “Allah” terdapat dalam 18 ayat, kata “Kami” ada 48 ayat, kata “Dia” ada 37 ayat, dan kata “Aku” dalam bentuk kepunyaan ada 2 ayat. Penggunaan kata-kata ganti ini bervariasi. Misalnya, pada ayat 1 dipakai kata “Allah”, lalu dua ayat berikutnya pakai “Dia” untuk menunjukkan pengganti kata “Allah” di depannya. Ayat 4 kembali pakai kata “Tuhan” sebagai kata lain dari “Allah”. Dan pada ayat 6 – 9 digunakan kata “Kami”. Terlihat pemakaian 3 kata ganti ini selalu berselang-seling. Gambaran seperti ini terulang berkali-kali sepanjang surah al-Anam. Sebagai contoh, ayat 126 memakai kata “Kami”, ayat 127-128 pakai kata “Dia”, dan ayat 129 kembali pakai kata “Kami”, tapi ayat 130 menggunakan kata ganti “Aku” dalam bentuk kepunyaan (ayat-ayat-Ku).