Kamis, 22 September 2022

ISLAM SEBAGAI SIMBOL KEMUNDURAN

 

Musa, Yesus dan Muhammad adalah tiga tokoh penting dalam tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama itu dikenal dengan istilah Agama Samawi. Dapat dikatakan bahwa Musa, Yesus dan Muhammad merupakan peletak dasar religiositas tiga agama tadi. Musa sebagai peletak dasar bagi agama Yahudi, Yesus Kristus bagi kekristenan, dan Muhammad bagi agama Islam. Akan tetapi, tiga agama ini menyatu pada sosok Abraham.

Sebagai peletak dasar religiositas, ketiga tokoh tersebut mewakili masanya. Dan kebetulan kehadiran mereka dalam sejarah kehidupan manusia tidaklah sama, namun menunjukkan garis linear. Masing-masing hidup dengan sejarahnya. Musa hidup antara tahun 1527 – 1407 SM, Yesus Kristus hidup sekitar tahun 5 SM – 33 M, dan Muhammad hidup antara tahun 570 – 632 M.

Jadi, terlihat jelas bahwa setelah Musa meletakkan dasar religiositas bagi agama Yahudi, muncullah Yesus Kristus. Kemunculan-Nya jauh setelah kematian Musa. Sama halnya dengan kemunculan Muhammad. Jauh setelah Yesus Kristus wafat, dimana kematian-Nya melahirkan kekristenan, hadir Muhammad dengan dasar-dasar keislaman.

Karena kehadiran tokoh-tokoh ini searah sejarah manusia (gerak maju), maka sangat mudah dikatakan kalau kehadiran tokoh membawa pembaharuan atas dasar-dasar religiositas tokoh sebelumnya. Hal ini mirip seperti pemikiran filsafat Yunani kuno, yang didominasi oleh tiga filsuf terkenal, yaitu Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates (469 – 399 SM) meletakkan dasar-dasar pemikiran. Ketika Plato hadir (427 – 347 SM), ia membaharui beberapa pemikiran Sokrates. Namun ketika Aristoteles hadir (384 – 322 SM), giliran dia memperbaiki beberapa pemikiran Plato.

Rabu, 21 September 2022

KETIKA TUHAN SEAKAN TAK PEDULI

 

Injil adalah kitab yang bercerita tentang Tuhan Yesus. Umumnya orang mengetahui kalau Tuhan Yesus adalah pribadi yang tanggap akan situasi. Misalnya, ada 6 kali dikatakan tergerak hati-Nya oleh belas kasihan ketika melihat orang, entah itu yang terlantar (Mat 9: 36; Mrk 6: 34), sakit (Mat 14: 14; 20: 34; Mrk 1: 41), maupun yang sedang berduka (Luk 7: 13). Kepada orang-orang seperti ini Tuhan Yesus segera melakukan tindakan.

Segera melakukan tindakan atau tidak menunda-nunda dapat juga kita temukan dalam pelbagai aktivitas Tuhan Yesus menyembuhkan orang. Dari sekian banyak contoh, kita ambil satu contoh ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8: 1 – 3). Ketika orang kusta datang dan berkata kepada-Nya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”, segera Tuhan Yesus berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Dan orang itu pun sembuh. Tuhan Yesus tidak mau menunda-nunda.

Akan tetapi, ternyata pernah juga Tuhan Yesus berlaku seolah-olah menunda. Dia tidak segera melakukan tindakan, meski sebenarnya Dia tahu apa yang hendak dilakukan. Sebagai contoh, kita ambil peristiwa Tuhan Yesus meredakan badai (Mrk 4: 35 – 41). Di sini akan ditampilkan 3 ayat saja:

“Mereka meninggalkan orang banyak itu, lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu, di mana Yesus telah duduk… Lalu mengamuklah badai yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan, di sebuah tilam. Maka, murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Dikatakan bahwa ketika badai melanda dan para murid berjuang setengah mati diliputi ketakutan, Tuhan Yesus justru tidur. Tidak jelas memang apakah Tuhan Yesus benar-benar tidur atau pura-pura tidur? Namun agak sulit membayangkan dalam situasi sulit seperti itu ada orang dapat tidur, apalagi orang yang sama sekali tidak punya latar belakang kelautan.

Selasa, 20 September 2022

BEDA TIPIS ANTARA PENTING DAN BERMASALAH

 

Usai merayakan misa, rombongan suster RGS mampir sejenak di pastoran. Kebetulan ada tiga orang suster tamu. Jadi sekalian mau lihat pastoran, kenalan dengan pastor yang tadi memimpin misa.

Saya keluar menyapa mereka. Usai bersalam-salaman, kami pun mulai pembicaraan ringan. Salah satu topik pembicaraan adalah domisili saya. Seorang suster tamu, kebetulan sudah beberapa kali ke Batam, baru pertama kali bertemu dengan saya. Karena itu, ia bertanya sejak kapan tugas di Tiban.

Sadar bahwa arah pertanyaannya menyangkut domisili, maka saya segera memperbaikinya. Saya tekankan bahwa saat ini saya sedang dalam posisi tamu di Paroki Tiban. Domisili saya di Pangkalpinang, di keuskupan.

Mendengar bahwa saya tinggal di keuskupan, seorang suster langsung berkomentar, “Biasanya, yang tinggal di keuskupan itu antara dua: orang penting atau bermasalah.” Setelah ia menyelesaikan kalimatnya itu, ia menatap saya sambil tersenyum.

Saya pun langsung menjawabnya secara diplomatis, “Tidak jauh beda seperti dunia militer, Suster. Ada istilah di-Mabes-kan.”

“Jadi, romo masuk kategori pertama atau kedua?” Suster seakan tidak ingin jawaban diplomatis. Ia ingin hitam – putih.

“Saya merasa yang kedua, Suster. Karena, kalau yang pertama, kerja saya tidaklah terlalu penting. Penting pun tidak.”

Dengan jawaban ini, diharapkan suster dapat memahaminya. Saya mengatakan bahwa saya masuk kategori kedua, karena saya sendiri tidak dapat menjelaskan alasan kategori pertama. Kategori pertama mengisyaratkan saya sebagai orang penting, namun saya tidak tahu dimana letak pentingnya peran saya.

Karena tidak dapat menjelaskan letak pentingnya peran saya, maka saya akhirnya memilih kategori kedua. Akan tetapi, pilihan kategori kedua pun masih menyisahkan kebingungan, karena saya juga tidak tahu dimana letak masalah saya.

Jadi, saya tidak masuk kategori pertama, karena sama sekali peran saya tidak penting. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas harian saya selama berada di keuskupan. Amat sangat jarang sekali saya masuk “kantor” di ruang IT. Hari-hari hanya santai saja. Pelayanan paroki sama sekali tak pernah (karena tak dipakai oleh paroki). Untuk mengurus web, dapat saya lakukan dimanapun saya berada sejauh terkonek jaringan internet. Tidak masuk pada kategori pertama inilah menyisahkan pilihan lainnya, yaitu kategori kedua. Namun pilihan ini masih menyisahkan pertanyaan dalam diri saya: apa masalah saya. Saya memastikan bahwa saya ada masalah (maklum, setiap manusia pasti punya masalah), tapi saya tidak tahu masalahnya. Hanya uskup saja yang mungkin tahu.

diambil darti tulisan 7 tahun lalu