Minggu, 11 September 2022

STUDI AL-QUR'AN: ALLAH SWT GAGAL PAHAM

Apabila membaca dan mencermati ayat-ayat Al-Qur'an dengan nalar yang sehat, maka akan sangat mudah menemukan beberapa kasus dimana Allah, yang mewahyukan ayat-ayat Al-Qur'an, terlihat gagal paham. Hal ini tentulah mempunyai konsekuensi yang sangat besar bagi iman. Bagaimana mungkin Allah yang mahatahu bisa gagal paham. Video berikut ini mencoba mengulas topik ini.



Jika tak bisa diputar, silahkan klik di sini. Selamat menonton!!! 

Sabtu, 10 September 2022

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXIV - C

 

Renungan Hari Minggu Biasa XXIV – C

Bac I  Kel 32: 7 – 11, 13 – 14; Bac II  1Tim 1: 12 – 17

Injil    Lukas 15: 1 – 32

Sabda Tuhan hari ini mempunyai tema Allah yang mengampuni. Ini hendak memperlihatkan wajah Allah yang maharahim. Dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Keluaran, tampak Allah marah akan kelakuan umat Israel yang berdosa. Allah telah merencanakan malapetaka buat mereka. Namun Musa berhasil membujuk Allah demi janji Allah pada Abraham, Ishak dan Yakub. Kerahiman Allah ini pernah dirasakan juga oleh rasul Paulus. Dalam bacaan kedua, dari suratnya yang kedua kepada Timotius, Paulus mengatakan bahwa di antara orang yang berdosa “akulah yang paling berdosa” (ay. 15). Akan tetapi justru karena itu Yesus Kristus, yang adalah wajah kasih Allah, menunjukkan kesabaran-Nya.

Dalam Injil Yesus menunjukkan kerahiman Allah dengan memberi perumpamaan domba yang hilang. Perumpamaan ini tidak hanya mengajarkan soal kerahiman Allah tetapi juga bahwa kerahiman Allah itu di luar akal sehat manusia. Demi mencari seekor domba yang hilang sang gembala rela meninggalkan 99 ekor di padang untuk mencari yang hilang. Kerahiman Allah bukanlah hitung-hitungan matematis-bisnis. Kerahiman Allah adalah demi keselamatan, karena Allah tak mau seorang pun binasa. Yesus pernah bersabda, “Tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa.” (Yoh 18: 9).

Hari ini Tuhan menyadarkan kita betapa Allah itu maha pengampun. Dia maha Rahim. Kerahiman-Nya nyata dalam pengampunan. Tak ada dosa yang lebih besar daripada kerahiman Allah. Sebesar apa pun dosa kita, kerahiman Allah jauh lebih besar. Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa besarnya kerahiman Allah bukan lantas membuat kita begitu mudah jatuh ke dalam dosa. Ada orang berkata, “Akh, biarlah aku jatuh ke dalam dosa; toh Allah itu maha Rahim.” Ada juga umat yang berkata, “Akh, biarlah aku tidak datang ke gereja, toh nanti akan dicari.” Keraiman Allah, yang diwartakan dalam bacaan liturgi hari ini nyata dalam Allah yang tidak menghakimi dan menghukum.

Jumat, 09 September 2022

KAJIAN ISLAM ATAS SURAH AL-ANAM AYAT 115

 


Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia maha mendengar dan maha mengetahui. (QS 6: 115)

Umat islam percaya bahwa Al-Qur’an yang sekarang ini merupakan kumpulan wahyu Allah, yang secara langsung disampaikan kepada nabi Muhammad. Dasar keyakinan ini adalah kata-kata Allah sendiri yang terdapat dalam Al-Qur’an. Artinya, Allah sendiri sudah mengatakan bahwa kitab itu datang dari-Nya; bahwa Dia menyampaikan langsung kepada Muhammad. Kurang lebih prosesnya sebagai berikut: Allah berfirman dan Muhammad mendengarkan, lalu meminta orang untuk menuliskan kembali apa yang didengarnya. Tulisan-tulisan wahyu Allah itu tersebar di banyak benda seperti kulit hewan, kayu atau daun. Setelah sekian lama, tulisan-tulisan itu dikumpulkan, dan jadilah Al-Qur’an seperti sekarang ini.

Berangkat dari pemaparan ini, dapatlah dikatakan bahwa kutipan ayat Al-Qur’an di atas, pertama-tama harus dipahami, merupakan wahyu Allah. Apa yang tertulis di atas (kecuali yang berada di dalam tanda kurung, seperti kata “Al-Qur’an”) adalah kata-kata Allah sendiri. Kata yang berada dalam tanda kurung biasanya dipahami sebagai tambahan kemudian, yang berasal dari manusia. Jadi, aslinya kata-kata itu tidak pernah diucapkan Allah. Sepintas tidak ada yang aneh pada kutipan ayat Al-Qur’an di atas. Semuanya wajar. Akan tetapi, jika ditelaah dengan akal sehat, maka barulah ditemukan hal yang menarik.

Kutipan wahyu Allah di atas terdiri dari 3 kalimat. Dalam kalimat pertama Allah hendak menegaskan kepada Muhammad bahwa wahyu-Nya, yang kemudian diterjemahkan dengan Al-Qur’an, adalah sempurna. Selain sempurna, wahyu Allah adalah juga benar dan adil. Dengan kata lain, Al-Qur’an memuat kebenaran dan keadilan. Kalimat kedua mau menunjukkan konsekuensi dari kesempurnaan Al-Qur’an, yaitu bahwa Al-Qur’an tidak bisa diubah. Tak ada manusia yang bisa mengubahnya, karena Allah itu maha mengetahui; inilah yang ditekankan dalam kalimat ketiga.

Seperti yang telah disampaikan di atas, sepintas tidak ada yang aneh pada kutipan ayat Al-Qur’an di atas. Ketiga kalimat saling terkait dan saling menguatkan. Namun bila ditelaah dengan nalar, terlihatlah beberapa hal aneh.