Selasa, 02 Agustus 2022

TUHAN TAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

 


Pada tahun 2000, bulan Juli, suami saya, ayah dari anak-anak meninggalkan kami untuk selama-lamanya kembali ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Betapa kiamatnya hidup saya menyaksikan anak-anak yang masih kecil-kecil yang benar-benar membutuhkan kehadiran kedua orang tua mereka. Sampai kira-kira satu tahun, saya dalam keadaan seperti orang yang tidak waras, tidak mempedulikan diri sendiri, serta benar-benar merasakan panjangnya malam.

Pada suatu hari, kira-kira jam 09.00 pagi, saya bersiap-siap akan menjemput anak kedua saya, yang bersekolah di Taman Kanak-Kanak. Waktu saya membuka lemari untuk berganti pakaian, terlihat sekilas piyama (baju tidur) almarhum suaminya. Piyama itu sangat disayangi oleh suami. Ketika mengenakan piyama itulah, saya melepaskan arwah suami saya. Hati saya luluh, piyama itu saya dekap erat-erat untuk melepaskan rindu dan haru, air mata berderai membasahi piyama.

Saya baru sadar, waktu mendengar suara anak sulung saya yang baru pulang dari sekolah menanyakan adiknya, “Ma, mana adik? Ini saya bawa permen untuknya.” Saya kaget mendengar si sulung menanyakan adiknya. Ternyata saya bersimpuh mendekap piyama itu selama hampir tiga jam. Saya bergegas meninggalkan rumah untuk menjemput adiknya. Waktu saya tiba di sekolah, ternyata sudah sepi dan anak saya pun tidak ada di sana. Dua hari saya dilanda beban perasaan serba bingung entah kemana harus saya cari. Tiba-tiba ada orang yang menghantarkan anak saya ke rumah. Rupanya waktu itu anak saya pulang sendiri dan tersesat. Beruntung ada orang berbaik hati membawa dia pulang.

Sejak peristiwa itu, saya berjanji pada diri sendiri akan mencurahkan kasih sayang dan perhatian saya kepada ketiga anak saya. Untuk itu keadaan di rumah saya ubah. Bahkan tidurpun saya pindah ke kamar belakang bersama anak-anak. Melalui perantaraan Bunda Maria, aku berdoa setiap hari memohon kekuatan serta berkat dari Yesus Puteranya agar dapat berjuang melanjutkan hidup ini sebagai orangtua tunggal, guna membesarkan dan mendidik anak-anak untuk menyongsong masa depannya. (MM)

diambil dari buku pelajaran agama katolik SMA/SMK kelas XII

Senin, 01 Agustus 2022

SEBENARNYA SEKOLAH KATOLIK BISA MURAH

 

Masalah klasik dunia pendidikan kita adalah mahalnya sekolah katolik. Karena desakan kebutuhan ekonomi dan hadangan biaya sekolah katolik yang mahal, para orang tua akhirnya memilih sekolah negeri untuk anak-anaknya. Sekolah di sekolah negeri terjangkau biayanya, bahkan ada yang gratis. Memang soal kualitas pendidikan, umumnya masih di bawah sekolah-sekolah katolik. Namun orang tua lebih mementingkan aspek ekonomi.

Siapa yang salah? Jelas, dalam hal ini orang tua tidak dapat disalahkan, karena urusan memilih sekolah adalah kewenangan mutlak para orang tua. Orang tua bebas menentukan pilihan sekolah untuk anaknya (lih. Gravissimum Educationis, no. 6, Kitab Hukum Kanonik, Kan. 797). Namun dokumen konsili Vatikan II menghendaki agar orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah katolik (GE, no 8, lihat juga KHK, Kan 798). Memang umat katolik terpanggil untuk mendukung dan menopang sekolah-sekolah katolik (KHK, Kan 800 § 2). Memasukkan anak ke sekolah katolik merupakan salah satu wujud mendukung sekolah katolik.

Akan tetapi, mengapa sekolah-sekolah katolik mahal sehingga orang tua tidak mau menyekolahkan anaknya ke sekolah katolik? Inilah pertanyaan yang sering dilontarkan. Berbagai argumen telah dikemukakan dari pihak sekolah-sekolah katolik, yang intinya adalah pembenaran atas mahalnya biaya sekolah katolik. Dan saya tidak tertarik untuk mengulasnya lagi. Saya lebih memilih bertanya, mungkinkah sekolah katolik gratis atau murah?

Dan saya menemukan jawabannya: BISA. Bagaimana hal itu diterangkan? Saya bukan ahli pendidikan dan juga bukan ahli ekonomi. Saya hanya mau berpikir praktis. Dan dari kepraktisan itulah saya menemukan jawaban itu.

Jumat, 29 Juli 2022

KAJIAN ATAS SURAH AT-TAHRIM AYAT 9

 


Wahai nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS 66: 9)

Umat islam sangat yakin kalau Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang langsung disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an adalah merupakan kata-kata Allah SWT sendiri yang disampaikan kepada Muhammad. Hal inilah yang membuat umat islam memandang kitab tersebut sungguh suci, sehingga umat islam menaruh hormat yang tinggi kepadanya. Pelecehan terhadap Al-Qur’an sama artinya pelecehan kepada Allah SWT. Dan orang yang melakukan hal itu, berdasarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, wajib dibunuh (QS al-Maidah: 33).

Al-Quran dianggap dan dinilai sebagai keterangan dan pelajaran yang jelas, karena memang begitu yang dikatakan Allah sendiri. Secara sederhana hal ini dimaknai bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang jelas. Allah telah memudahkan wahyu-Nya sehingga umat bisa dengan mudah pula memahaminya. Sebagai pedoman dan penuntun jalan hidup, Allah memberikan keterangan dan pelajaran yang jelas sehingga mudah dipahami oleh umat islam. Umumnya para ulama menafsirkan kata “jelas” di sini dengan sesuatu yang telah terang benderang sehingga tak perlu susah-susah menafsirkan lagi pesan Allah itu. Dengan kata lain, perkataan Allah itu sudah jelas makna dan pesannya, tak perlu banyak ditafsirkan lagi. Maksud dan pesan Allah sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Quran. Penafsiran atas wahyu Allah bisa berdampak pada ketidak-sesuaian dengan kehendak Allah sendiri.

Berangkat dari pemahaman ini, maka apa yang tertulis dalam surah at-Tahrim ayat 9 di atas merupakan perkataan langsung dan asli dari Allah SWT. Allah berbicara dan Muhammad mendengarnya. Apa yang tertulis di sana seperti itu juga yang didengar oleh nabi Muhammad SAW. Dan apa yang disampaikan Allah ini sudah jelas maknanya. Dengan mudah umat akan memahami bahwa kutipan ayat di atas merupakan perintah Allah kepada Muhammad untuk memerangi orang kafir dan orang munafik. Berhubung Muhammad dijadikan teladan agung bagi umat islam, maka perintah tersebut berlaku juga untuk umat islam.