Kamis, 09 Juni 2022

PERAN IBU DLM PERTUMBUHAN MORAL ANAK

Tentulah setiap orang tua ingin supaya anaknya bertumbuh sehat, baik secara fisik, psikis dan moral. Terkait masalah moral, perlu disadari bahwa nilai-nilai moral pada anak tidak begitu saja muncul dalam diri anak. Nilai-nilai moral merupakan suatu pembelajaran terus menerus yang dimulai dari usia dini. Dan untuk itu, sekalipun belum memasuki usia sekolah, anak membutuhkan begitu banyak “guru” demi tumbuh kembangnya nilai-nilai moral itu. Orang-orang yang ada di sekitar anak, secara khusus ibu, musti berperan aktif membantu anak menemukan nilai moral dan menanamnya dalam dirinya.

Karena itu, suatu tantangan dewasa ini dimana anak lebih banyak diserahkan penanganannya kepada babysitter. Pada umumnya, seorang babysitter hanya membantu orang tua dalam memberi perawatan fisik kepada anak, bukan soal penanaman nilai-nilai moral. Sekalipun seorang babysitter mempunyai peran yang luas, tetaplah tidak boleh diserahkan sepenuhnya soal penanaman nilai-nilai moral ini. Karena, berdasarkan penelitian, ibu adalah kunci utama dalam menumbuh-kembangkan moralitas anak.

Sebuah eksperimen yang dilakukan membuktikan bahwa interaksi ibu dan anak mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan moralitas anak. Dari eksperimen itu ditemukan bahwa secara tidak langsung, percakapan antara ibu dan anak dapat membuat anak menunjukkan ekspresi perasaan bersalah saat ia melakukan hal yang negatif, serta lebih memahami perasaan orang lain.

Intensitas percakapan dapat mempercepat pemahaman anak. Percakapan yang dibangun antara ibu dan anak memungkinkan anak menumbuhkan kompetensi bahasanya. Komunikasi yang terjalin dapat menjadi wadah untuk bertukar ide dan konsep antara ibu dan anak sehingga anak dapat memahami dunia orang dewasa juga berkontribusi dalam menumbuhkan pemahaman psikologis orang lain.

Tiga tahun pertama merupakan fondasi bagi moralitas anak. Percakapan antara ibu dan anak penting untuk dibangun sejak dini karena dasar perkembangan moral anak ada pada tiga tahun pertamanya. Selain percakapan yang harus dibangun sejak dini antara ibu dan anak, penting pula untuk bisa menciptakan interaksi yang menyenangkan dengan anak. Interaksi yang menyenangkan sudah terbukti dapat memediasi respon timbal balik antara ibu dan anak dengan kognisi atau emosi serta perilaku moral anak di masa depan. Suasana hati yang positif dapat tumbuh selama interaksi yang menyenangkan antara ibu dan anak terjalin sehingga meningkatkan penerimaan anak terhadap ibunya. Penerimaan anak terhadap ibunya dapat mempermudah ibu untuk menanamkan nilai-nilai moral.

Jadi, begitu pentingnya peran seorang ibu dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak. Dan hal ini dapat terjadi dengan adanya kedekatan relasi. Kedekatan inilah yang menjadi pintu masuk untuk terciptanya komunikasi yang menyenangkan. Ibu dapat melakukannya dengan bercakap-cakap sambil bermain atau dengan menceritakan dongeng yang penuh dengan nilai-nilai moral.

Sekalipun seorang ibu terlibat aktif di luar, mungkin sebagai wanita karier, hendaknya tugas ini tidak diambil alih oleh seorang babysitter. Tugas ini hendaknya menjadi tugas seorang ibu, dan dibantu oleh sang ayah. Karena itu, ibu yang bekerja harus menyempatkan diri untuk berbincang dengan meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan anak. Sesibuk apapun seorang ibu, hendaklah anak tetap dapat merasakan adanya keterikatan dengan ibunya. Dengan adanya rasa keterikatan itu, anak akan lebih mudah memahami pesan-pesan moral yang ditanamkan oleh sang ibu. 

Rabu, 08 Juni 2022

DOA SEORANG WANITA PENGHIBUR

 

Di hadapan para muridnya, sang Guru Agung duduk bersila. Tak lama kemudian ia bercerita. “Ada seorang perempuan. Sore, setelah selesai mandi, perempuan itu khusyuk berdoa: ‘Tuhan, berilah malam ini pria hidung belang yang banyak dan royal. Ibu sedang sakit. Aku butuh duit untuk biaya berobat. Kabulkanlah doa hamba-Mu yang hina ini. Amin!’

Setelah berdoa, ia segera mengenakan pakaian “dinas”-nya, merias wajahnya dengan make up supaya kelihatan menarik. Sesudah semuanya beres, ia ke luar rumah dan berjalan menuju tempat biasanya ia mangkal bersama wanita-wanita seprofesi.

Sungguh di luar dugaan, dia mendapatkan pengguna jasanya cukup banyak. Kalau biasanya dia hanya melayani maksimal 2 orang sepanjang malam, kali itu ia mendapat 5 orang hingga pagi. Semuanya royal dan murah hati. Perempuan itu mendapatkan uang yang banyak.”

Cerita berhenti sampai di situ. Suasana hening. Para murid serius mendengarkan cerita sang Guru Agung. Dan mereka masih menunggu kelanjutannya.

Tak lama kemudian sang Guru Agung angkat bicara. Ia bertanya, “Menurut kalian, apakah doa perempuan itu dikabulkan Tuhan atau kebetulan saja?”

Langsung saja suasana hening pecah dalam suasana debat dan diskusi. Ada murid yang menyatakan bahwa Tuhan telah mengabulkan doa perempuan itu. Ada juga murid yang menentangnya. Bagi mereka, mana mungkin Tuhan mendengarkan doa seorang pelacur. Berbagai argumen tumpah ruah di ruangan itu. Debat pun semakin seru di antara para murid. Sang Guru Agung hanya diam dalam diamnya.

Tiba-tiba seorang murid bersuara. “Menurut Guru gimana?”

Sang Guru Agung menatap wajah para muridnya satu per satu dengan bijak. Lalu ia berkata, “Aku tidak tahu. Yang kutahu, besok paginya perempuan itu membawa ibunya ke rumah sakit untuk berobat, dan setelah itu ia menghaturkan syukur terimakasih kepada Tuhan.”

Selasa, 07 Juni 2022

SALAH PAHAM SOAL TRANSPARANSI KEUANGAN

Gereja adalah bagian dari dunia. Karena itu prinsip-prinsip keduniaan, meski tidak semuanya, dapat diadopsi oleh Gereja. Salah satunya adalah soal transparansi laporan keuangan. Sudah saatnya pengelolaan harta benda Gereja, termasuk keuangan, dilakukan secara transparan agar umat mengetahuinya.

Ada beberapa alasan kenapa Gereja, dalam hal ini paroki, harus transparan dalam pengelolaan keuangan. Pertama, sumber keuangan paroki adalah dari umat (kolekte, intensi, stipendium, donasi, dll). Oleh karena itu, adalah hak umat untuk mengetahui pengelolaan keuangan paroki: berapa yang masuk, bagaimana dikelola, bagaimana pemakaiannya, berapa keluar, berapa hasil akhirnya, dll. Dapatlah dikatakan bahwa transparansi merupakan bentuk akuntabilitas.

Kedua, dengan adanya transparansi keuangan berarti umat dilibatkan; umat menjadi berpartisipasi aktif. Di sini umat akan merasa memiliki Gereja (cinta akan parokinya), melalui kontrolnya atas laporan keuangan yang dibuat secara transparan.

Ketiga, semua manusia memiliki kelemahan, terlebih dalam hal uang. Manusia, sekalipun imam, sangat rentan terhadap penyalahgunaan uang. Karena itu benar kata orang bahwa korupsi tidak pandang bulu. Korupsi bukan hanya milik para pejabat negara, tetapi juga bisa melanda pejabat Gereja (baca: hirarki): uskup, imam dan suster. Dengan adanya transparansi maka bahaya penyelewengan keuangan bisa diminimalisir.